Senin, 25 September 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

'Ider-ider' Awali Festival Bengawan Bojonegoro

Editor: nugroho
Selasa, 15 September 2015
foto.metrotvnews.com
PERAHU HIAS : Salah satu kegiatan dalam Festival Bengawan Bojonegoro yang dilaksanakan tahun 2014 lalu dalam rangka HJB ke 337.

SuaraBanyuurip.com

Bengawan Solo menyimpan segudang mistis. Ada ritual khusus sebelum festival Bengawan Bojonegoro dihelat.

Festival Bengawan Bojonegoro dalam rangka Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke 338 akan dilaksanakan pada Minggu (20/9/2015) mendatang. Untuk mengawali perhelatan tahunan itu akan dilakukan ider-ider (uluk salam), Kamis (17/9/2015).

Ritual ini untuk meminta keselamatan dan kelancaran kepada danyang (penunggu) Sungai Bengawan Bengawan Solo. Ider-ider akan dilakukan dengan cara menyusuri Sungai Bengawan Solo mulai Bendung Gerak di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu hingga Tambangan Banjarsari (Taman Bengawan Solo) dengan cara menggunakan perahu.

Di dalam ider-ider ada ritual khusus yang akan dilaksanakan. Di antaranya diawali dengan tumpengan di lokasi Bendung Gerak yang dihadiri sesepuh dan tokoh agama di Desa Padang, Kecamatan Trucuk. Tumpeng yang disajikan tidak menggunakan lauk ikan, melainkan berupa daun-daunan dan kerupuk.

“Kalau pakai ikan sama saja mengorbankan nyawa. Kita tidak ingin itu terjadi,” tegas Ki Adam Majintan di damping Sub Seksi Festival Bengawan Bojonegoro, Imam Wahyu Santoso saat menggelar media gathering di salah satu rumah makan di kawasan Alun-alun Bojonegoro, Senin (14/9/2015).

Sesaji yang disiapkan di antaranya kemenyan jawa, bunga setaman. Selain itu, dalam ider-ider ini, juga ada syarat khusus yang diberikan Ki Adam Majintan, Putra Tengger. Yakni yang mengikuti ritual ini harus dalam kondisi bersih.

“Perempuan tidak diperbolehkan ikut. Karena dalam sebulan ada masa haid,” tandas Ki Adam Majintan.

“Sedang bagi laki-laki yang ikut harus mandi karmas. Ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” lanjut dia.

Syarat ritual di atas Sungai Bengawan Solo ini lebih berat daripada di daratan. Karena sepanjang sungai terpanjang pulau Jawa yang menjadi rute lebih banyak dipenuhi aura negatif.

Bahkan dari hasil penerawangan yang dilakukan Ki Adam Majintan, ada dua dari enam lokasi yang sangat angker. Yakni pohon bambu di bibir bengawan di dekat Bendung Gerak, dan di wilayah Banjarsari.

“Kenapa kita memilih ritual ini malam Jum’at Kliwon ? Karena pada malam itu semua penunggu bengawan keluar, dan itu waktu yang tepat untuk meminta ijin atau kulonowon kepada mereka,” ucap Ki Adam, menerangkan.

Rombongan ritual akan menyusuri Sungai Bengawan Solo menggunakan perahu tradisional dari Bendung Gerak hingga TBS sepanjang 13 Kilometer. Ada empat perahu yang disiapkan dalam ritual ini. Perahu pertama akan ditumpangi oleh Ki Adam Majintan, seorang para normal keturunan trah Gunung Tengger, Pasuruan, Jawa Timur. Perahu kedua ditumpangi pejabat teras Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro. Perahu ketiga ditumpangi panitia Festival Bengawan Bojonegoro, dan perahu terakhir dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro.

Saat menyusuri Sungai Bengawan Solo, rombongan yang di antaranya terdiri dari Kepala Dinas Pendidikan Bojonegoro, Hanafi, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Amir Syahid, Asisten III, Yayan Rohman, Tim SAR, akan dipimpin oleh Ki Adam Majintan.

Setelah dari TBS, rombongan akan melakukan ritual "laku teplok" atau berjalan kaki membawa lampu minyak hingga ke Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) di Jalan Teuku Umar yang jaraknya dua kilometer.

“Ider-ider ini akan berakhir di Disbudpar," sambung Imam Wahyu Santoso.

Ider-ider merupakan ritual yang dilakukan masyarakat Bojonegoro zaman dulu. Ider-ider sendiri berasal dari bahasa mider (keliling). Ritual ini pada zaman dulu dilakukan masyarakat Bojonegoro sebelum mulai menanami lahan persawahannya.

“Tujuannya adalah untuk meminta keselamatan, keberkahan, dan kelancaran kepada Sang Pencipta,” timpal salah satu koordinator Festival Bengawan Solo, Dhe Uban.

Selama perahu menyusuri bengawan, selain menaburkan bunga setaman dan membakar kemenyan juga akan diiringi dengan tembang macapat. Salah satunya Kidung yang sering dilantukan Sunan Kalijogo.

Ider-ider ini adalah sebagai wujud replika budaya lama yang hampir punah di tengah gerusan zaman. Diharapkan dengan ritual ini akan membangkitkan dan melestarikan kembali budaya Bojonegoro.

“Harapannya ini nantinya menjadi salah satu ciri khas budaya Bojonegoro,” pungkas Dhe Uban.

Sebagiaman diketahui, pada Festivila Bengawan Bojonegoro ini ada sejumlah kegiatan yang dilaksanakan. Di antaranya festival perahu hias yang melibatkan sekira 40 perahu tradisional dan 2500 lampoin apung.

Juga berbagai perlombaan seperti lomba layang-layang pren dan hias, tangkap bebek, dan nyabrang nggawan. Serta hiburan tari kolosal, pameran foto bengawan, foto jejak bengawan, fest foto bengawan on the spot, dan music.

Selain itu, tari si Mbah, pembacaan puisi Kang Yoto untuk Bengawan, surat pilihan Kang Yoto yang akan di bacakan di panggung apung Bengawan. Kegiatan ini akan dihadiri Konsulat Jendral (Konjen) Amerika, Prancis, Australia, Jepang, dan sejumlah tamu dari luar daerah Bojonegoro.

Semua kegiatan akan berlangsung dalam sehari yang dipusatkan di Bendung Gerak, tambangan Ledok Kulon (Mbah Andongsari), TBS, dan Kali Kethek.(ririn wedia)

 

Dibaca : 623x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan