Rabu, 22 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Pengakuan Zulaekah yang Makam Suaminya Dibongkar Polisi

"Saya Tidak Tahu Kalau Ada Bercak Darah"

Editor: nugroho
Jum'at, 12 Oktober 2012
edy purnomo
Zulaekah Istri Tarsiono, tertunduk sedih.

SuaraBanyuurip.com

Tuban - Mata Zulaekah (55), terlihat sembap. Guratan kesedihan masih tampak jelas diwajah janda lima anak ini. Kabar dibongkarnya kuburan Tarsino (52), suaminya, yang meninggal dua bulan lalu oleh petugas kepolisian Polres Tuban untuk penyidikan bak gledek disiang bolong. Batinya terasa terkoyak, tak percaya.
Bagi Zulaekah, pembongkaran jenazah Tarsino seperti mengembalikan bilur hitam dalam hidupnya. Kenangan-kenangan akan suaminya yang sudah pergi kealam baka, kembali segar dalam ingatannya.

Meski begitu Zulaekah mencoba untuk tetap tegar. Dengan didampingi putri terakhir dari perkawinannya dengan Tarsino,  Sri weni (20), dia mencoba menceritakan kembali saat-saat terakhir menjalani hidup dengan suaminya.

"Bapak itu suami yang baik. Saya tidak boleh bekerja dan dia yang selama ini mencukupi kebutuhan saya," ujar Zulaekah mengawali ceritanya kepada www.suarabanyuurip ketika bertandang ke rumahnya di Dusun Ndempel, Desa Sumberagung, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Jatim , Jumat (12/10/2012).

Cerita itu dimulai Zulaekah beberapa jam sebelum Tarsino meninggal. Seperti biasa, Kamis (9/8/2012) lalu mereka mengawali aktivitas diujung pagi dengan makan sahur berdua, sedang anaknya Sri Weni tidak sahur dengan alasan sedang datang bulan.

Usai makan sahur, Zulaekah berangkat ke musholla untuk shalat Subuh berjamaah. Sedang suaminya melanjutkan berbaring diatas dipan kecil seraya melihat Televisi di ruang tamu.

"Saat itu bulan puasa. Kami makan sahur bersama, sedang anak saya yang terakhir masih tidur dikamar," kenangnya.

Selesai menunaikan kewajibannya, Zulaekah kemudian pulang kerumah dan melihat suaminya sedang tertidur didepan televisi tanpa menaruh curiga. Perempuan yang saat dinikahi Tarsino sudah berstatus janda 3 orang anak ini pun kembali melakukan aktifitas hariannya sebagai ibu rumah tangga. Yaitu membersihkan rumah.

"Bapak biasanya memang tidur lagi sesudah sahur,” katanya menjelaskan kebiasaan suaminya dengan berlinang air mata.

Tragedi di pagi kelabu itu dimulai tatkala Sri weni bangun tidur dan keluar kamar. Mahasiswi semester akhir ini berencana mandi untuk sekedar menuntaskan hajatnya. Tapi langkahnya terhenti, saat melihat ayahnya masih terlihat tidur pulas didepan Tv.

"Sekitar jam 5 pagi mas, saya melihat bapak tidur dengan mulut sedikit terbuka," sambung Weni.
Weni yang melihat kejanggalan dengan kondisi tidur bapaknya segera melaporkan kepada ibunya. Dia bergegas membangunkan Tarsino atas perintah Zulaekah.

Namun tubuh ayahnya tidak bergerak. Diapun makin khawatir. Berkali-kali tubuh bapaknya digoyang-goyang, tapi tetap tak bergerak.

Sontak saja, Weni pun berteriak histeris dan memanggil ibunya. Sedang Zulaekah, begitu tahu suaminya tidak lagi bergerak langsung memeluk suaminya dan memanggil nama suaminya tepat ditelinga. Dengan harapan suaminya masih ada harapan untuk kembali hidup.

"Saya merangkul suami saya bagian atas, sedang Weni hanya menangis dan memegang kaki bapak," sambung Zulaekah.

Mendengar teriakan ibu dan anak itu, beberapa tetangga langsung mendatangi rumah Tarsino. Salah satu tetangga yang datang menyarankan untuk menjejakkan kaki almarhum ke tanah. Seperti keyakinan beberapa masyarakat jawa sebagai tindakan penyelamatan pertama. Tapi tubuh Tarisno tetap tak bergerak.
"Setelah dilantai, saya masih peluk bapak dan menangis. Bahkan saat tetangga menyadarkan kalau suami saya sudah tidak ada, saya tidak percaya," tutur Zaenab terbata-bata.

Setelah itu, Zulaekah tidak bisa cerita apa-apa lagi. Mulutnya seakan terkunci. Bahkan saat ditanya mengenai bercak darah dikepala bagian belakang Tarsino yang ditemukan ketika memandikan jenazah, Zulaekah hanya menjawab, "Saya tidak tahu kalau ada bercak darah."

Padahal bercak darah dibagian kepala korban inilah yang menjadi ujung pangkal keluarga Tarsino meminta pihak kepolisian membongkar makam untuk melakukan penyidikan. Penyidikan terhadap jezah Tarsino ini untuk mengungkap dan sekaligus memastikan kematian korban. (edy purnomo)

Dibaca : 1081x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan