Rabu, 19 September 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

17 Tahun Tangan Kaki ODGJ Tuban Diikat

Editor: samian
Kamis, 30 Agustus 2018
Ali Imron
BUTUH PERHATIAN : ODGJ asal Desa Jadi diikat tangan kakinya sejak umur 15 tahun.

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban- Selama hampir 17 tahun, Santam tak pernah bisa menikmati sebagai mahkluk sosial pada umumnya. Gara-gara mengidap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) sejak lahir. Pria bertubuh jangkung tersebut sejak usia 15 tahun harus menjalani hidup dengan tangan kaki terikat tali.

"Santam diikat karena gangguan jiwa," ujar Kakak kandung Santam, Parni, kepada suarabanyuurip.com, di Dusun Gowah, Desa Jadi, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Kamis (30/8/2018).

Sebenarnya Parni tak tega melihat tangan dan kaki kiri adiknya terikat. Pilihan itu harus dilakukan, karena semakin bertumbuh usia semakin besar pula resiko adiknya hilang.

Disamping itu, keluarga Santam juga tak ingin barang-barang tetangga rusak karena ulah ODGJ. Lebih baik diikat di rumah, daripada menyusahkan keluarga dan orang di lingkungannya.

"Diikat karena kami takut hilang dan merusak barang-barangnya tetangga," tegasnya.

Saban hari Santam tak bisa makan nasi sendiri. Bisa makan kalau disuapi, dan itupun hanya pisang dan snack. Parni dan ibunya yang hampir setiap hari menyuapi makan adik kandungnya.

Parni juga menegaskan, alasan tak membawa adiknya ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) karena terkendala biaya. Keluarganya pernah mengajukan ke Rukun Tetangga (RT) setempat, tapi sampai semester II 2018 belum ada uluran tangan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban.

"Pernah ngajukan ke RT tapi belum ada bantuan sampai sekarang," tandasnya.

Di malam hari, ikatan Santam dilepas supaya bisa tidur di tempat yang disediakan. Kakak dan ibunya inilah, yang begitu telaten memandikan dan menyuapi Santam sembari menunggu bantuan dari Pemkab Tuban.

Keterangan dari warga sekitar, di Desa Jadi dikabarkan ada tiga ODGJ yang nasibnya tak jauh dengan Santam. Jauh pantauan petugas itulah, kesan yang masih terlihat di desa yang mayoritas warganya menggantungkan hidup dari tambang kapur.

Dikonfirmasi terkait temuan ini, Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Tuban, Nurjannah, maupun Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Tuban, Endah Nurul, kompak menjawab akan mengeceknya dulu di lapangan. Setelah mengetahui kondisi sebenarnya, kedua instansi baru bisa merumuskan langkah untuk menangani ODGJ di Desa Jadi.

"Coba saya cek dulu datanya, Mas," sambung keduanya.

Pada acara Muhasabah 16 April 2017 silam, Bupati Tuban, Fathul Huda, tidak ingin orang yang mengalami gangguan jiwa dipasung. Semua penderita harus diobatkan hingga sembuh, karena semua biaya sudah ditanggung oleh Pemerintah Daerah.

Di bulan Oktober 2017 lalu, Dinsos PPPA mengklaim dari 62 orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) berstatus pasung yang terdata, 60 di antaranya telah dibebaskan. Sedangkan dua sisanya saat ini dalam pemantauan tim. Artinya, Tuban telah bebas pasung.

Program Tuban Bebas Pasung 2017, juga selaras dengan program Jatim Bebas Pasung. Untuk menyukseskan Tuban bebas pasung, Dinsos telah membentuk tim pemantauan dan pembinaan di setiap kecamatan, bekerjasama dengan UPT Dinas Sosial Tuban, puskesmas, serta kecamatan.(Aim)

 

Dibaca : 7103x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan