Senin, 25 Juni 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

70 Ha Lahan Pertanian Tergerus Proyek Migas Mudi

Editor: nugroho
Kamis, 03 April 2014
ririn wedia
LAPANGAN MUDI : Proyek migas Lapangan Mudi, Blok Tuban yang dikelola JOBP-PEJ banyak menggerus lahan pertanian.

SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia

Tuban - Gegap gempita bakal datangnya kesejahteraan di Desa Rahayu, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, Jawa Timur,  dengan adanya ladang migas di Lapangan Mudi, Blok Tuban, tak kunjung dinikmati warga. Justru keberadaan sumur migas  yang mulai dikerjakan sejak  tahun 1993 silam telah menggerus lahan pertanian di wilayah setempat.

Kepala Desa Rahayu, Sukisno, menyampaikan, sebelum Joint Operating Body Pertamina – PetroChina East Java (JOB P-PEJ) masuk ke Desa Rahayu, masyarakat sekitar hidup sejahtera karena memiliki areal persawahan sebagai mata pencaharian. Akan tetapi, sejak lahan produktif digunakan untuk proyek negara, masyarakat tidak lagi memiliki pekerjaan tetap atau usaha untuk menggantikan sawah yang sudah terjual.

Sukisno menyampaikan, dari data yang ada, total lahan persawahan sebelum adanya proyek migas sekitar 100 hektar, sementara yang digunakan untuk proyek migas seluas 70 hektar. Sehingga lahan pertanian semakin menyempit.

" Mereka terlena oleh uang migas, sawah dijual dan uang hasil penjualan tersebut digunakan untuk membangun rumah, membeli sepeda motor, tetapi tidak untuk membuka usaha sebagai mata pencaharian pengganti sawah," ujar Sukisni, mengungkapkan.

Dia menyebutkan, hal itu disebabkan minimnya pengetahuan masyarakat di Desa Rahayu yang belum siap dengan kehadiran mega proyek ditempatnya. Terlebih, dari perusahaan tidak memberikan bantuan dalam bentuk peningkatan sumber daya manusia, tapi berbentuk uang atau kompensasi.

"Jadi masyarakat dimanjakan, akhirnya menurun kepada anak-cucu yang tidak mau belajar sungguh-sungguh dan hanya mengandalkan bantuan dari operator saja," tegas Sukisno.

Dia menjelaskan, masyarakat yang dulunya kaya raya karena mendapatkan uang dari pembelian sawah yang pada saat itu dihargai sebesar Rp 2500 per meter persegi, kini harus gigit jari dan menjalani hidup apa adanya dengan bekerja sebagai buruh tani bahkan harus keluar kota.

"Ada juga yang menmbuat anyaman bambu untuk dijual, karena disini masih banyak  pohon bambu  yang tumbuh," tandasnya.

Sukisno menilai, dengan adanya proyek migas, kondisi perekonomian masyarakat justru menurun dibandingkan dulu saat memiliki sawah. Pemuda sebagai generasi baru pun tidak dapat menangkap peluang emas dari proyek tersebut.

"Pengangguran dimana-mana, mereka banyak yang keluar kota dan bekerja sebagai buruh kasar," imbuhnya.

Dirinya berharap, JOB P-PEJ memberikan perogram corporate social responsibility (CSR) yang bermanfaat seperti pelatihan atau sertifikasi bagi generasi muda sebagai bekal bekerja. Tidak hanya di tanah kelahiran sendiri tapi juga di daerah lain. Atau memberikan pelatihan keterampilan bagi ibu rumah tangga agar bisa menciptakan peluang usaha dan menggaet tenaga kerja sebesar-besarnya.

"Kami sudah pernah mengajukan, tapi belum terealisasi karena saking banyaknya kebutuhan desa yang harus dipenuhi," pungkas Sukisno.(rien)

Dibaca : 875x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan iklan
iklan