Kamis, 21 September 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Kerusuhan di Proyek Blok Cepu

Aksi Spontanitas atau Settingan?

Editor: nugroho
Senin, 03 Agustus 2015
dok/sbu
Sebuah mobil digulingkan dan dirusak oleh pekerja di lokasi proyek EPC-1 Banyuurip, Blok Cepu.

SuaraBanyuurip.com -

Oleh : D Suko Nugroho

Sabtu, 1 Agustus 2015, sekira pukul 11.45 WIB kemarin, bisa jadi akan menjadi sejarah buruk bagi pelaksanaan proyek migas di Bojonegoro, Jawa Timur, bahkan di seluruh Indonesia. Tercatat, sedikitnya enam ribu pekerja dari delapan ribu pekerja (karena dua ribu pekerja pada waktu itu masuk shif malam) mengamuk di lokasi proyek rekayasa, pengadaan dan konstruksi (Engineering, Procurement and Construction/EPC) -1 Banyuurip, Blok Cepu. Proyek yang dikendalikan oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dengan kontraktor Konsorsium PT Tripatra Engineers & Constructors – Samsung itu berpusat di Kecamatan Gayam.

Dalam aksi di siang yang terik itu, ribuan pekerja melakukan pengerusakan sejumlah fasilitas yang ada di dalam lokasi proyek. Bahkan merusak dan membakar beberapa mobil mewah milik kontraktor proyek.

Sejumlah fasilitas yang rusak sesuai catatan penulis yang diperoleh pihak kepolisian, antara lain Gedung Tripatra Site Office 10 bangunan rusak. Nama bangunan adalah Temporary Facility (TF) rusak  1,2,5,6,7,8,10. Kemduian Mobil Inova Putih bernopol S1950AK milik firmansyah, manajer kontruksi, Fortuner warna silver bernopol L1965ZB milik carly orangg Irlandia, Honda Mobilio milik tamu bernopol L1963AZ, Pajero bernopol S1044AM dan Mobil Nissan Avara bernopol S 9934 D, keduanya milik CV Prima Abadi, subkontraktor PT Tripatra,.

Fasilitas lainnya yang rusak di antaranya 135 AC dicopot, puluhan tabung pemadam kebakaran (PMK) dijarah untuk dilempar-lemparkan, serta beberapa alat elektronik dan lain-lain. Pihak kepolisian, operator, dan kontraktor belum bisa memastikan berapa jumlah kerugian akibat kerusuhan tersebut.

Sesuai data yang diperoleh penulis, kronologis amuk massa ribuan pekerja itu berawal pada Pukul 11.20 WIB, seluruh karyawan yang bekerja persiapan istirahat. Namun, akibat pintu keluar yang di fungsikan hanya satu membuat karyawan melaksanakan aksi karena waktu istirahat terbatas. Ribuan pekerja itu berdesak-desakan keluar pintu di tengah panas.

Amarah mereka kian tersulut ketika pembuatan kebijakan satu pintu keluar itu dilakukan oleh salah satu pejabat Tripatra. Sebab, sebelumnya pintu keluar itu terdapat empat buah. Mereka pun kemudian mulai melakukan pelemparan batu ke kantor yang berada di sekitar lokasi tersebut.

Aksi yang dilakukan beberapa pekerja itu akhirnya memantik reaksi pekerja lainnya. Ribuan pekerja tersulut amarahnya. Mereka dengan membabi buta melakukan pelemparan batu. Kemudian mendobrak paksa pagar dan pintu keluar.

Ribuan naker semburat keluar dengan beringas. Massa kemudian membabibuta merusak sejumlah fasilitas yang ada di sekitarnya. Kemarahan pekerja mereda sekira pukul 14.00 WIB. Pekerja yang melaksanakan aksi membubarkan diri keluar dari area proyek.

Beruntung aksi itu tak merembet ke lokasi pemrosesan minyak mentah yang saat itu sedang difungsikan untuk mengolah produksi dari Lapangan Pad A, B dan C. Jika pembakaran di lokasi itu sampai terjadi, bencana besar sudah dipastikan tak dapat dihindari. Bisa jadi lokasi itu akan meledak, dan dampaknya bukan hanya keselamatan para pekerja. Namun warga sekitar yang tinggal di sekitar lokasi proyek dipastikan tak luput dari bahaya.

Namun dari kejadian tersebut masih banyak memunculkan tanda tanya besar yang perlu diungkap bersama. Apakah benar aksi ribuan tenaga kerja proyek itu terjadi karena spontanitas? Apakah pemicu persoalan itu sederhana itu, yakni tentang satu pintu keluar ?

Dari sejumlah pertanyaan itu, tak kalah pentingnya yang harus diungkap adalah siapakah sebenarnya pekerja yang pertama kali menyulut emosi ribuan pekerja itu? Apakah dia bener-benar pekerja proyek? Ataukah mereka pekerja susupan yang sengaja ingin menggagalkan atau menunda proyek minyak Banyuurip?

Sebab, di lokasi ini terdapat ribuan pekerja yang tentunya dengan mudah disusupi oleh provokator atau kelompok yang ingin menggagalkan proyek tersebut. Karena dengan memakai seragam dan memalsu identitas sangat mudah masuk ke lokasi.

Sesuai catatan penulis, proyek EPC-1 Banyuurip ditargetkan selesai pada Nopember 2015 mendatang. Namun sesuai informasi yang diperoleh penulis, proyek yang membangun fasilitas pusat pemrosesan minyak mentah itu,  tidak akan selesai sesuai target yang ditentukan. Karena berdasarkan informasi yang diperoleh, ada ribuan titik pipa di dalam lokasi yang mengalami kebocoran sehingga perlu dilakukan perbaikan.

Belum lagi sejumlah pekerjaan pendukung lainnya yang belum kelar. Selain itu, proyek ini juga telah molor sesuai target dalam kontrak. Dimana target awal proyek EPC-1 Banyuurip ini, selesai pada Desember 2014. Namun kenyataannya sampai melebihi pertengahan tahun 2015 ini, belum juga tuntas. Akhirnya dengan alasan tertentu yang belum diketahui publik, proyek EPC-1 Banyuurip diperpanjang. Meskipun EMCL mengklaim, secara keseluruhan proyek EPC yang terbagi dalam lima paket telah mencapai lebih dari 96 persen.

Jika meruntut sejarah molornya proyek EPC-1 Banyuurip ini, bisa jadi aksi ribuan naker ini sengaja dibuat untuk digunakan sebagai alasan memperpanjang kontrak proyek EPC-1 Banyuurip. Sebab, untuk meminta perpanjangan kontrak pekerjaan di proyek migas sangatlah ribet dan melalui beberapa tahapan. Mulai ke operator, mendapat persetujuan dari SKK Migas, memberikan alasan yang rasional dan darurat.

Sesuai sepengetahuan penulis, alasan darurat yang memperbolehkan pemerintah dalam hal ini diwakili SKK Migas menyetujui perpanjangan kontrak adalah bencana alam dan kerusuhan. Bisa jadi, dengan kerusuhan ini, bisa menjadi alasan yang “diperbolehkan” bagi kontraktor dan operator untuk mengajukan perpanjangan kontrak pekerjaan.

Disamping itu, bisa jadi, aksi kerusuhan itu ada kesengajaan “diciptakan” untuk menunda produksi puncak Banyuurip 165 ribu barel per hari (BPH) yang ditargetkan pemerintah paling cepat terlaksana pada September ini, dan paling lambat Desember 2015.

Di sisi lain, dengan belum maksimalnya kesiapan fasilitas produksi puncak itu bisa menimbulkan dampak dan menggancam keselamatan. Bukan hanya keselamatan pekerja, namun ribuan jiwa yang tinggal di sekitar Lapangan Banyuurip.

Selain itu, skenario alasan penundaan dengan "menciptakan kerusuhan" ini, bisa jadi dikarenakan harga minyak dunia sekarang ini sedang tidak stabil dan cenderung menurun. Pada tanggal 2 Agustus 2015 kemarin, harga minyak dunia hanya pada level USD 50 per barel.

Secara bisnis, dengan harga minyak dunia hanya sebesar itu, tentunya, akan merugikan. Karena tidak sebanding dengan biaya yang sudah dikeluarkan untuk melakukan eksplorasi dan produksi.

Namun di satu sisi, pemerintah telah berkoar-koar puncak produksi dapat terlaksana tahun ini. Sedangkan operator sendiri mendukung terget itu meskipun harus tertatih menyelesaikan pembangunan fasilitas produksi puncak yang kemungkinan besar tak bisa diselesaikan tahun ini.

Sehingga bisa jadi, kerusuhan ini sengaja “diciptakan” untuk menunda produksi puncak. Dengan kerusuhan ini, menjadi alasan yang kuat bagi pemerintah untuk memberikan perpanjangan pengerjaan dan dampaknya produksi puncak tertunda. Karena semua kegiatan maupun prosedur akan dievaluasi ulang. Sebab bagaimanapun juga kerusuhan itu terjadi di dalam obyek vital dengan standart operasional prosedur yang cukup ketat.

Selain itu, dengan penerapan safety dan pengamanan “super ketat" yang diterpakan ExxonMobil pada semua kegiatannya, kerusuhan ini menjadikan mereka kecolongan. Jadi sangat memungkinkan evaluasi itu akan dilakukan dan memerlukan waktu cukup lama.

Untuk itu diperlukan langkah cepat dan tepat dari semua pihak untuk mengungkap dibalik kerusuhan yang terjadi di proyek Banyuurip. Peran aparat hukum sangat diperlukan untuk mengungkap peristiwa ini, agar kedepan peristiwa ini tidak terulang lagi.

Tak kalah pentingnya  mengevaluasi prosedur kerja yang diterapkan, juga pemberian jaminan hak-hak terhadap para pekerja yang selama ini banyak diabaikan. Karena siapapun menyadari jika pekerja adalah aset perusahaan dan garda terdepan yang berperan menyukseskan proyek negara ini.

Dengan begitu proyek yang menjadi andalan bangsa Indonesia untuk menjaga ketahanan energi dapat terlaksana dan berjalan sesuai harapan. Karena itu produksi minyak Blok Cepu sebanyak 165 ribu barel per hari (BPH) hingga 205 BPH harus tetap dijaga dan dilaksanakan sesuai target awal. Sebab 20 persen kebutuhan minyak nasional akan dipasok dari Lapangan Banyuurip.

Penulis adalah Wartawan Suara Banyuurip

 

Dibaca : 1253x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan