Sabtu, 18 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Bangkit Dihempas Debu Blok Cepu

Editor: nugroho
Jum'at, 19 Oktober 2012
Samian Sasongko
DEMO WARGA : Tak tahan diamuk debu warga sekitar sumur minyak Banyuurip sempat melakukan aksi unjuk rasa, meski akhirnya damai.

Eksploitasi sumur minyak Banyuurip tak lepas dari dampak sosial. Meski sebelumnya meledak-ledak, gejolak sosial pun lahirkan kata damai. Ladang migas Blok Cepu bukan sekadar fenomena.

SEPERTI menahan letih matahari perlahan memasuki gerbang senja. Lambat namun pasti sinarnya meredup. Kemudian lesap di dasar cakrawala tak bertepi.  

Rona merah pun mulai terbentang di ufuk barat. Bayangannya kian lehirkan keindahan, di saat dinding langit tak berhias awan. Warna biru bercampur kuning menghiasi hampar langit yang luas terpandang.

Hawa dingin sudah mulai terasa menembus pori-pori, di saat perjalanan reportaseku memasuki kawasan ladang migas Banyuurip dan Jambaran, di area Blok Cepu. Kususuri jalanan poros desa yang dibalut paving. Musti dimaklumi, kontur tanah di wilayah Blok Cepu ini bergerak, sehingga paving menjadi pilihan untuk mengganti aspal.   

Di dekat pohon mahoni yang daunnya memutih dibalut debu, kuhentikan sejenak laju motorku. Jaket hitam yang telah lapuk warna hitamnya kukenakan untuk menghalau serbuan gigil yang mulai menyerang. Kemudian aku teruskan menelusuri sekitar proyek Engineering Procurement and Construction (EPC)-1 sumur minyak Banyuurip.

Jengkal demi jengkal pematang sawah ditelusuri perlahan oleh roda motorku. Sambil sesekali menengok kanan kiri mencari warga untuk mencari bahan cerita. Tentunya untuk mengungkap fenomena yang terjadi di sekitar sumur migas di bumi Angling Dharma ini.

Sekitar seratus meter dari jarak pandang, tepatnya di dekat lokasi Wellpad C, terlihat segerombolan warga di perempatan akses road yang masih berupa pedel tersebut. Mereka mondar-mandir sambil membawa batangan kayu dan ranting bambu ditata di tengah akses road. Jalan ini merupakan jalur utama mobil pengangkut logistik proyek EPC-1 Banyuurip milik oeprator Blok Cepu, Mobil Cepu Ltd (MCL), dan kontraktornya PT Tripatra Engineers & Constructors.

Perlahan motorku bebek kesayanganku kuhentikan dekat warung kopi yang tak jauh dari mereka.  Mereka menyambutku dengan ramah. Jabat tangan dan saling menyebut identitas kami lakukan. Khas keharmonisan warga desa, yang konon, masih generasi ke sekian masyarakat Samin. Komuni yang dikenal dengan perlawanannya terhadap kolonial Belanda tempo dulu di bawah pimpinan, Ki Samin Surosentiko.

Sayup-sayup Adzan Magrib mulai berkumandang di surau tua, di sudut desa, ketika Suyanto, warga Temlokorejo, Desa/Kecamatan Gayam sedikit-demi sedikit mulai membuka cerita. Tentunya terkait dengan fenomena keberadaan proyek Banyuurip, Blok Cepu tersebut.

Cerita itu bermula dari aksi warga yang sedang melakukan pemblokiran akses road tersebut. Nekatnya warga melakukan aksi lantaran sudah kesal dengan ulah perusahan yang kian menutup mata, dan membisu, jika warga yang setiap harinya menghirup debu dari proyek yang mereka kerjakan.

Padahal, warga sudah sering memberikan saran agar jangan ngebut ketika sedang melintas di akses road. Lain itu, juga segera diberikannya penyiraman yang maksimal agar debu yang beterbangan ditiup angin itu bisa dikurangi.

"Dikasih saran baik-baik malah jawabnya terkesan menantang, Mas. Ya apa boleh buat warga sudah emosi sontak saja jalur ditutup tersebut," kata Suyanto. "Warga Temlokorejo, menuntut agar diberikan kopensasi akibat polusi udara tersebut. Dan, Jika perusahaan tidak mau nanggapi tuntutan warga Temlokorejo maka pemblokiran terus dilakukan sampai ada kejelasan dari Tripatra," tegasnya.

Sutar yang juga warga Temlokorejo menjelaskan, mereka melakukan pemblokiran bukan berarti melawan aturan pemerintah atau hukum. Tapi, menuntut hak warga yang setiap harinya menghirup debu pedel dari acces road dan dari lokasi Wellpad C.

"Kalau warga menuntut haknya karena dirugikan berkaitan debu dianggap keliru, terus yang membantu dan melindungi warga itu siapa? Apakah warga Temlokorejo-Kaliglonggong ini disuruh mati karena makan debu pedel tersebut?” ungkapnya dengan nada bertanya.

Pemblokiran akses road kala itu tidak hanya dilakukan warga Temlokorejo-Kaliglonggong saja. Namun, juga dilakukan oleh warga Puduk, Desa Bonorejo dan Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, Kebupaten Bojonegoro, Jawa-Timur. Meski ada sebagaian tuntutan yang beda, namun mayoritas tuntutan yang diajukan sama. Yakni, jaminan kesehatan dan kopensasi tunai.

Kegigihan warga dalam menuntut akhirnya menuai keberhasilan. Karena, ada sebagian tuntutan dikabulkan oleh MCL maupun PT Tripatra. Terkecuali kopensasi tunai yang tidak disetujuhi. Karena, tidak ada aturan yang mengarah pada pemberian kopensasi tunai tersebut. Namun, dialihkan dengan pemberian program sosial. (samian sasongko/bersambung)

Dibaca : 872x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan