Rabu, 13 Desember 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

BBS Akui Terima 25 Persen Laba Sewa EPF Blok Cepu

Editor: samian
Jum'at, 17 November 2017
Ririn Wedia
Direktur Operasional BBS, Tonny Ade Irawan.

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro - Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS) menyatakan, jika dalam proses sewa-menyewa lahan yang digunakan untuk fasilitas produksi pertama (Early Production Facility/EPF) Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, di wilayah Kecamatan Gayam, Bojonegoro, pihaknya menggunakan sistem Joint Operating (JO) dengan PT Bangun Sarana Baja (BSB).

"PT BBS mendapatkan pembagian 25 persen dari laba yang diterima oleh PT BSB," kata Direktur Operasional PT BBS, Tonny Ade Irawan, kepada Suarabanyuurip.com, Jumat (17/11/2017).

PT BBS dalam kerjasamanya dengan PT BSB, hanya membantu proses perizinan dan lain sebagainya. Dalam kerjasama itu, PT BBS tidak mengeluarkan dana, namun jika ada keuntungan mendapatkan bagian.

"Kita tidak mengeluarkan dana sama sekali, tapi kita mendapatkan pembagian 25 persen dari laba PT BSB,” imbuhnya.

Selain itu, keuntungan yang diperoleh PT BBS adalah jika dalam pekerjaan PT BSB mengalami kerugian, maka PT BBS tidak ikut menanggung kerugian tersebut.

Seperti proses pembelian lahan di Desa Katur, Kecamatan Gayam yang disewakan untuk gudang. Setelah proses pembelian lahan, ternyata dalam waktu 3 tahun lahan tersebut tidak ada yang menyewa.

”Jika ada kerugian seperti itu kita tidak ikut menanggungnya, padahal investasinya berjumlah miliaran,” jelasnya.

Mantan wartawan senior tersebut menyampaikan, hanya mengetahui pada awalnya lahan untuk EPF disewa dari petani. Setelah itu apakah dibeli oleh PT BSB atau masih disewa, pihaknya tidak bisa memastikan.

"Saya baru menjabat, jadi kurang tahu," elaknya.

Pihaknya akan membuka kembali dokumen kerjasama antara kedua belah pihak yang sudah berlangsung lama tersebut. Dalam kerjasama itu, intinya PT BBS mendapatkan 25 persen dari laba PT BSB.

"Dokumenya ini saya juga belum lihat, intinya kita mendapatkan keuntungan 25 persen dari laba dan tidak ikut menanggung kerugian,” tegasnya.

Dari hasil sewa lahan itu, pendapatan ke PT BBS diterima pada awal kontrak sewa lahan dengan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), yaitu sekitar tahun 2008. Selanjutnya pendapatan sewa lahan diterima kembali pada perpanjangan kontrak pada tahun 2013 lalu.

"Jadi tidak setiap tahun kita mendapatkan pemasukkan, kita dapat 25 persen dari laba itu pada awal kontrak,” pungkasnya.

Berdasarkan penghitungan Komisi A DPRD Bojonegoro sebelumnya, dari nilai sewa lahan EPF seluas 19 hektar lebih sebesar US$13 Juta atau senilai Rp162 Miliar (kurs Rupiah Rp12.500, bukan Rp11.000), maka 25 perasennya menjadi fee BBS yang harus dibayarkan oleh PT Bangun Sarana Baja (BSB).(rien)

Dibaca : 325x
FB
Ada 3 komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Sabtu, 18 November 2017 05:51
Kok lagek ngaku entok 25 persen;blantik nyewakno lemah neng emcl;nek dunungan kpn? Nendi nek dunungan? Jarene proyek negoro, kok saiki emcl bbs ngomongane bisnis to bisnis;tp digantikan duite di costrecovery; penak menyalam sambil ngeruk duit RAKYAT;KAPAL KERUK;omongane pegawe emcl plenca plence;wes digaji nganggo duit rakyat gaji fantastis gk wajar; jek blantik
Kangdedi
Sabtu, 18 November 2017 05:34
BBSBUMD kuat diduga melakukan korupsi dg pihak yahmin pt etika mitra bisnis pembebasan tnh warga;memperkaya pribadi ato org lain:
Anwar
Jum'at, 17 November 2017 19:47
Yg berhak membebaskan tnh untuk kepentingan umum itu bumd:tp kalo bbs dg yahmin trenggono untunge ratusan milyar ato mungkin trilyn, opo bedane bbs mbek tengkulak( spekulan kelas kakap;iki podo mbek bohongi warga yg punya tanah;berdalih kepentingan umum.mencari kesempatan golek untung gede;; opo iki gk gratifikasi;;wah wah
Sutresno
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan