Jum'at, 22 September 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

TMMD Ke 95 Kodim 0813 Bojonegoro

Belajar Keramahan dari Nyai Rawan

Editor: nugroho
Jum'at, 16 Oktober 2015
SauaraBanyuurip.com/Nugroho
TETAP TERJAGA : Warga bersama TNI dan polosi bergotog royong mengerjakan kegiatan fisik di TMMD ke 95.

SuaraBanyuurip.com -

Legenda Nyai Rawan tak lepas dari warga Desa Bakung, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Perempuan yang konon masih saudara Sunan Bonang itu tak hanya rupawan, tapi juga berhati budiman.

 

Keramahan warga Bakung begitu terasa. Senyum dan sapa selalu ditemui ketika mereka berpapasan baik dengan warga pribumi maupun pendatang.

Budaya gotong-royong pun masih terpatri erat di tengah-tengah warga tepian Sungai Bengawan Solo tersebut. Itu bisa dilihat ketika ada salah satu warga yang mendirikan rumah, atau membangun fasilitas publik yang ada di desa setempat. Tangan-tangan mereka begitu ringan membantu.

Begitu juga pada pelaksanaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke 95 di Desa Bakung. Warga setempat begitu guyub. Mereka bahu-membahu membantu tentara dan polisi menyelesaikan pekerjaan fisik yang menjadi sasaran kegiatan.

Budaya luhur warga Bakung ini tak lepas dari legenda hidupnya seorang perempuan berparas cantik dari Tuban, Jawa Timur. Dia bernama Nyai Rawan yang konon masih saudara dari Sunan Bonang.

Menurut cerita warga setempat, semasa hidupnya Nyai Rawan berdakwah menyebarkan Agama Islam dengan mengajari ngaji anak anak dan wanita. Nyai Rawan bertempat tinggal di salah satu rumah warga di Dusun Bakung, tepatnya di RT 6 RW 3.

Saat ini tempat tersebut berjajar pemukiman warga yang masing masing rumah ditempati istirahat oleh pekerja TMMD dari kesatuan TNI Yon Armed Singosari Malang.

Selain berdakwah, Nyai Rawan juga dikenal memiliki ilmu kanoragan. Setiap kali membantu memasak warga di pagi hari, dia berpamitan pulang ke Tuban. Namun selang beberapa menit sudah datang kembali ke Bakung sambil tangannya membawa beberapa ekor ikan segar, yang kemudian ikan itu dimasak dan dibagikan ke warga.

Namun tidak ada warga yang mengetahui apa yang dinaiki Nyai Rawan ke Tuban. Yang diketahui warga, dia berjalan dan berpamitan, tak lama, kembali lagi.

“Subhannallah, itulah ilmu dari beliau yang sangat dekat dengan Allah, “ kata Kepala Desa Bakung, Kaulan kepada suarabanyuurip.com, Kamis (15/10/2015).

Budaya ini akan selalu kami jaga dan lestarikan. Karena ini modal sosial untuk membangun desa
Cerita Nyai Rawan ini begitu melekat dengan warga Bakung. Secara turun menurun warga yang biasa dilanda luapan sungai terpanjang di Pulau Jawa itu mengenal cerita tersebut.

Bahkan kehadiran Nyai Rawan di Bakung menjadi bagian tak terpisahkan dari keramahan dan kegotong-royongan warga setempat. Budi pekerti yang diajarkan Nyai Rawan semasa hidupnya telah menjadi suritauladan warga setempat.

"Budaya ini akan selalu kami jaga dan lestarikan. Karena ini modal sosial untuk membangun desa," tegas Kaulan.

Namun, di sisi lain, kehadiran Nyi Rawan menjadi kekhawatiran warga setempat. Karena semasa hidupnya Nyai Rawan tak menikah. Ia lebih memilih sendiri, tanpa pendamping hidup hingga meninggal.

Karena alasan itu, warga Bakung akan cepat-cepat dan tak menunda untuk menikahkan anak-anak perempuannya apabila sudah waktunya. Mereka takut apabila tidak segera nasibnya akan seperti Nyai Rawan, yang selama hidupnya tidak bersuami.

Namun lambat laun kebiasaan itu sudah sirna, tapi tetap menjadi konsep warga untuk segera menikahkan anak perempuan yang sudah waktunya berkeluarga. Meski begitu keaguangan dan perjuangan Nyai Rawan tetap dihormati oleh warga di sana.

Makam Nyai Rawan di Dusun Bakung dibuatkan rumah berdinding tembok ukuran 5 X 4 meter. Di sebelahnya terdapat taman berpuluh tanaman hias yang bisa membuat pengunjung menikmati kenyamanan dan kesejukan. Bahkan untuk memudahkan pengunjung, menuju makamnya dibangun jalan bagus sepanjang 250 meter.

Karena sampai saat ini Makam Nyai Rawan dipadati pengunjung, yang kebanyakan dari Tuban dan luar daerah Bojonegoro. Mereka datang untuk berkirim doa dengan cara tahlil. Biasanya mereka datang pada Jumat Wage.

Hanya saja, Makam Nyai Rawan masih membutuhkan perawatan yang lebih baik lagi, terutama untuk menuju Bakung menjadi desa wisata religi.

"Harapan saya kedepan ini menjadi salah satu ikon Desa Bakung," pungkas Kaulan.(ririn wedia)

 

Dibaca : 390x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan