Senin, 18 Juni 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Beras Mahal di Lumbung Pangan Nasional

Editor: samian
Rabu, 10 Januari 2018
Ali Imron
HARGA BERAS MAHAL : Pedagang beras Karno sedang menimbang beras untuk konsumennya.

SuaraBanyuurip.comAli Imron

Tuban - Di awal tahun 2018, pedagang beras di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, di bawah pimpinan Huda-Noor terhenyak karena harga beras mencapai puncaknya sebesar Rp11.600 per Kilogram (Kg)-nya. Rekor ini baru sekali ini terjadi di Bumi Wali, yang ditunjuk oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia sebagai lumbung pangan nasional.

“Baru kali ini beras mahal,” ujar seorang pedagang beras di Pasar Baru Tuban, Karno, kepada suarabanyuurip.com di kiosnya, Selasa (10/1/2018).

Karno mengaku, melejitnya harga beras baru terasa sebelum bulan November 2017 lalu. Tiga bulan sebelumnya tepatnya bulan Agustus 2017, harga beras masih normal di harga Rp9.800 sampai Rp10.000/Kg-nya.

Khususnya di Pasar Baru Tuban, rata-rata harga beras yang paling murah Rp8.500/Kg. Setelah naik sekarang menjadi Rp9.500/Kg. Begitupula dengan beras cap lele yang semula Rp9.700/Kg naik menjadi Rp10.500/Kg. Sedangkan beras cap empring sekarang tembus Rp11.600/Kg.

Pasokan beras di gudang saat ini juga sudah habis. Disaat seperti ini, para pedagang hanya bisa mengandalkan kiriman dari Cirebon. Jika hanya mengandalkan dari Bumi Wali, jelas tidak mampu mencukupi permintaan konsumen.

"Prediksi sementara lonjakan harga beras sampai bulan Maret 2018," terang pria yang sudah belasan tahun berjibaku menjual beras.

Usai Inspeksi Mendadak (Sidak) pengawasan harga beras, Kasi pengawasan perlindungan konsumen UPT Bojonegoro Diskoperindag Jatim, Moch Tauchid, membenarkan kalau harga beras di Tuban melebihi harga yang ditetapkan pemerintah. Kementerian Perdagangan mematok beras Rp9.400/Kg, sedangkan di Bumi Wali pimpinan Huda-Noor Rp9.500/Kg yang paling murah.

"Mulai dari pasar Soko-Rengel dan Tuban harga beras kisaran Rp9.000 sampai Rp10.000/Kg," bebernya.

Temuan ini akan menjadi dasar langkah pemerintah, untuk menstabilisasi harga beras selama masa tanam. Disinggung apakah ada faktor lain yang mempengaruhi, pria ramah ini tidak mengatakannya.

"Semoga tidak ada faktor lain yang memicu lonjakan harga beras," jelasnya.

Data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Tuban menyebut, produksi padi di Kabupaten Tuban merupakan yang tertinggi di Jawa Timur. Selama lima tahun terakhir, produksi jagung surplus lebih dari 100% dan padi surplus 54%.

Pada tahun 2017 lalu, Kabupaten Tuban ditarget oleh kementerian pertanian untuk Luas Tambah Tanam (LTT) sebesar 102.000 hektare untuk padi. LTT ini dipastikan terpenuhi, seiring kondisi Tuban mulai bergerak di bidang industri.(aim)

 

Dibaca : 1312x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan iklan
iklan