Rabu, 22 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Berburu Rupiah dari Butiran Peluh Pekerja Migas

Editor: nugroho
Senin, 27 Juni 2011
dwi
LAYANI PEMBELI : Saroh salah satu penjual makanan dan minuman disekitar pemboran yang memanfaatkan peluang melayani pekerja.

SuaraBanyuurip.com - D Suko Nugroho

 

Sudah dua minggu ini   aktifitas di Sumur Gas Jambaran   mulai tinggi. Kendaran - ken-daran besar pengangkut logistik (alat pemboran) keluar masuk ke lokasi sumur yang berada di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem tersebut. Begitu pula para pekerja berseragam orange dan biru dari sejumlah kontraktor yang terlibat dalam kegiatan eksplorasi juga ter-lihat lalu lalang didalam lokasi. Me-reka juga sering keluar masuk lokasi.

Para pekerja itu sebagian besar dari daerah luar Kabupaten Bojone-goro, bahkan luar jawa. Itu dapat dipastikan dari logat bicara mereka. Begitu juga kontraktor-kontraktor yang terlibat dalam kegiatan eksplo-rasi (pemboran) sumur 4 gas Jam-baran sebagian besar didominasi dari luar daerah. Kalaupun ada kon-traktor lokal Bojonegoro yang berkecimpung sekadar menjadi subkon yang mengerjakan peker-jaan diluar pemboran.

Kontraktor dan para pekerja ter-sebut datang ke pemboran ini un-tuk ikut mereguk berkah industri migas Blok Cepu. Sama halnya dengan Saroh, warga Dusun, Soko, Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem. Ia datang ke sekitar lokasi pemboran itu ingin mengais rupiah dari tetesan keringat para pekerja proyek yang membutuhkan jasa makan maupun minum.

Karena itupula dia mendirikan warung di sekitar pemboran sumur gas jambaran. Warung sederhana berukuran enam kali empat meter berdinding kepang (anyaman bam-bu) dan beratap seng itu terletak sekitar 20 meter di pinggir jalan de-pan pintu masuk lokasi pemboran. Di warung ini hanya menyajikan menu makanan dan minuman se-adanya. Meski begitu warung itu cukup mampu menggaet para pe-kerja maupun sopir yang berakti-fitas disana yang sekadar ingin menghapus dahaga maupun lapar.

“Alhamdulillah mas, sejak aktifi-tas ramai banyak pekerja yang jajan ke sini,” kata Saroh sambil menyo-dorkan es teh pesanan pembeli.

Bagi Saroh, dirinya tak memper-soalkan dari mana asal para peker-ja itu. Yang penting dilokasi ini banyak orang yang bekerja. Se-hingga warungnya juga banyak disambangi para pekerja. Otomatis, dengan begitu akan ber-imbas pada pendapatan-nya.

Sebab untuk bisa mendirikan warung di-sekitar pemboran itu, Saroh harus mengeluar-kan uang sebesar Rp. 100 ribu setiap bulannya untuk menyewa lahan yang ditempati. Agar ti-dak rugi dan ada pema-sukan yang lumayan, dia pun membuka wa-rung itu non stop (1 x 24 jam). Sebab aktifitas di lokasi pemboran ini juga berlangsung tanpa henti.

Tak mengherankan bila pendapatan yang diperoleh wanita berusia 31 tahun ini cukup lu-mayan. Dalam sehari semalam Saroh bisa mendapatkan pengha-silan sebesar Rp. 300 ribu. Itu dari hasil men-jual jajanan dan mi-numan seadanya. Un-tuk menjalankan usaha warung itu dia hanya ditemani, O’ok, sua-minya.

“(Penghasilan) Cukuplah mas untuk hidup sehari-hari dan me-nyekolahkan anak,” sergah Saroh. Dia memiliki dua anak yang seka-rang ini duduk dibangku SMP.

Dia pun mengakui, bila kegiat-an pemboran migas Blok Cepu ini merupakan berkah tersendiri bagi dirinya. Sebab dengan adanya pem-boran ini telah membangkitkan semangatnya untuk berwirasusa-ha, meskipun hanya usaha kecil-kecilan. Bahkan usaha yang dige-lutinya sekarang ini mampu men-jadi penopang ekonomi keluarga. Menopang penghasilan sang suami yang hanya sebagai buruh sera-butan.

Saroh menceritakan, pertama kali dirinya mendirikan warung ketika berlangsungnya pemboran Sumur Alat Tuwo Barat, di Desa/Kecamatan Ngasem, setahun yang lalu. Dengan modal pas-pasan dan tekad yang kuat dia mendirikan warung disekitar pemboran. Hasil-nya dinilai lumayan.

Selama sekitar lima bulan ber-langsung pemboran pun selesai dan beralih ke Sumur Kedung Keris di Desa Sukoharjo, Kecamatan Kaliti-du. Saroh pun tak tinggal diam. Sama dengan para kontraktor MCL yang membawa pindah rig, dia bers-ama sang suami juga ikut membo-yongan warungnya ke Kedung Keris. Meskipun pada waktu itu dia juga harus menyewa lahan diseki-tar lokasi agar bisa mendirikan warung.

Di lokasi Sumur Kedung Keris tersebut Saroh membuka warung hampir sekitar empat bulan karena setelah itu rig pindah lagi ke lokasi Sumur gas jambaran sekarang ini. Dia pun kembali mengikuti berdiri-nya rig pemboran agar dapat tetap bisa melayani para pekerja.    

“Tapi kalau pindah ke sini (su-mur Jambaran) saya tidak membo-yong warung saya yang di Kedung-keris. Disini saya membuat warung baru lagi,” ungkapnya.

Para pekerja pemboran pun tak asing lagi dengan Mbak Saroh-panggilan akrab Saroh. Karena sejak pemboran di Sumur Alas Tuwo Barat hingga Jambaran wanita grapayk dan murah senyum ini selalu mengikuti para pekerja pemboran untuk memberikan jasa makanan maupun minuman.

Berbeda dengan Saroh. Mbak Tin, lebih memilih membuka wa-rung dan tetap bertahan disekitar lokasi pemboran Jambaran. Sejak pertamakali Sumur Jambaran ber-aktifitas, wanita asal Desa Mojode-lik, Kecamatan Ngasem, ini sudah membuka warung disana. Dia pun juga banyak dikenal para pekerja maupun scurty karena bisa dibilang warungnya itu adalah yang pertama kali berdiri di lokasi Sumur Jam-baran.

Mbak Tin mengakui, jika seka-rang ini banyak masyarakat yang tertarik untuk mendirikan jasa warung disekitar pemboran. Hal ini dapat dilihat dari menjamurnya warung-warung di sekitar pembo-ran. Di sini saja, kata dia, ada tujuh warung baru yang berdiri.

Tentunya kondisi itu sangat mempengaruhi pendapatan Mbak Tin. Penghasilannya turun, tak sebesar dulu. Bila dulu dalam sehari semalam rata-rata dia bisa meraup pendapatan sebesar Rp. 500 ribu, sekarang paling banter hanya tinggal Rp. 300 ribu.

“Pertamakali hanya ada satu ya warung saya ini. Kemudian tambah lagi satu warung. Tapi sekarang tambah banyak,” sambung Mbak Tin.

Dari pantauan, warung-warung penyedia jasa makanan dan mi-numan itu tumbuh sekitar lokasi yang sedang beraktifitas. Sebut saja, lokasi pemboran Sumur Minyak Banyuurip di Desa Mojodelik, Early Production Facility (EPF) di Desa Gayam, Kecamatan Ngasem. Juga Mini refinery (kilang mini) di Desa Sumengko, Keca-matan Kalitdiu, Base Camp milik Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Desa Talok, Kecamatan Kalitidu.

Disetiap lokasi itu bermunculan sekitar tiga sampai empat warung-warung baru yang mensajikan makan dan minuman bagi para pekerja. Sebagian besar pemiliknya adalah warga pribumi sekitar lokasi pemboran. Mereka ingin mengais recehan rupiah dari para pekerja.  

 

Baik Saroh, Mbak Tin, maupun pemilik warung lainnya ini tak tahu sampai kapan akan me-ngeluti usaha warung itu. Karena mereka sadar pemboran ini tidak berlangsung selamanya. Apalagi besar kecilnya pendapatan mereka dari menjual jasa itu tergantung dari banyaknya pekerja pemboran.

 Baik Saroh, Mbak Tin, maupun pemilik warung lainnya ini tak tahu sampai kapan akan me-ngeluti usaha warung itu. Karena mereka sadar pemboran ini tidak berlangsung selamanya. Apalagi besar kecilnya pendapatan mereka dari menjual jasa itu tergantung dari banyaknya pekerja pemboran. 

 

Dibaca : 1998x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan