Rabu, 22 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Bersihkan Sumur Keramat Sunan Bejagung

Editor: nugroho
Sabtu, 19 Desember 2015
ali imron
SUMUR KERAMAT : Warga Desa Bejagung bergotong royong membersihkan sumur keramat Sunan Bejagung

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban – Setiap Hari Jumat Wage bulan Maulud, warga Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, bergotong royong membersihkan dasar sumur keramat Sunan Bejagung.

Kegiatan sakral tersebut dihelat setiap dua tahun sekali. Hanya orang yang bernasab keluarga pewaris sumur yang diperbolehkan memasuki dasar sumur.

“Tidak sembarangan orang berani masuk sumur,” kata Juru kunci Makam Sunan Bejagung, Muhammad Dhofir, kepada suarabanyuurip.com, ketika ditemui di kompleks makam, Jumat (18/12/2015).

Warga yang mendapat kesempatan masuk untuk membersihkan dasar sumur hanyalah keluarga tertentu yang memiliki garis keluarga pewaris sumur. Sampai saat ini garis tersebut selaras dengan nasab keluarga Kepala Desa Bejagung.

“Nasab keluarga pewaris di keluarganya Kades Bejagung,” imbuhnya.

Sumur tua yang usinya diperkirakan 400 tahun tersebut masih berfungsi normal. Airnya yang sejuk banyak pengunjung percaya membawa berkah, dan rasa bahagia setelah meminum airnya.

Acara bersih sumur tua tersebut di lakukan setiap hari Jumat Legi bulan Maulud, sebelumnya ada prosesi manganan sebanyak enam kali, dan ditutup acara terkahir bersih sumur.

“Ada juga acara barikan yang digelar di pendhapa kantor desa,” tambahnya.

Selain itu, siangnya sekitar pukul 13:00 WIB warga setempat berkumpul, melakukan manganan berupa dawet dan nasi tumpeng. Dua hal tersebut merupakan syarat mengikat kehidupan.

Selain itu, banyak pengunjung yang mengunakan air tersebut untuk obat sanak familinya yang sakit. Selain itu, berbagai niat pengunjung yang berharap berkah dari air sumur tua tersebut.

Secara terpisah, Kepala Desa Bejagung, Aang Sutan, membenarkan, banyak keunikan dari sumur tua Sunan Bejangung tersebut. Sumur dengan kedalaman kurang lebih 27 meter tersebut pengambilan airnya tidak dikerek, melainkan ada kayu pemutarnya.

“Bantangan pemutarnya berusia puluhan tahun dari kayu kamboja,” sambungnya.

Pengelolaan sumur tersebut diserahkan kepada pemangku makam, dengan personil 2 juru kunci, 6 petugas marbot atau tanaga bantu kebersihan, dan 2 penjaga sumur.

“Sumur tersebut dijaga 24 jam,” tegasnya.

Pemdes berharap, generasi muda saat ini untuk andil dalam melestarikan tradisi tersebut. Selain untuk meningkatkan pendapatan desa, juga menjaga ikon daerah yang memiliki brand  Bumi Wali.

“Generasi muda harus mau menguri-nguri tradisi,” harapnya.(aim)

 

Dibaca : 859x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan