Kamis, 23 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Berujung Pada Dongeng Sebelum Tidur

Editor: teguh
Selasa, 01 April 2014
samian sasongko
HARMONI : Sepasang petani mempertahankan profesi di tengah hiruk pikuk industri Migas.

by: Rakai Pamanahan

TAK bisa ditangkis, pun tak mudah dihalau, masuknya industri di satu daerah selalu diikuti efek beragam. Terlebih industri Minyak dan Gas Bumi (Migas) dengan mengusung teknologi yang tidak umum di mata sebagian masyarakat.

Meski tak selalu pasti namun industri Migas acap hadir di lingkungan pedesaan. Lebih sering pula berada di tengah hutan. Pada teritorial ini warga desa atau masyarakat sekitar hutan, bakal sangat terimbas oleh dampak industri tersebut.

Dalam perspektif antropologis warga desa memiliki pranata sosial tersendiri. Kultur warisan leluhur tersebut masih kental mengiri perjalanan masyarakat desa menembus perubahan jaman. Nilai-nilai religi maupun sosial sedemikian kuat merekatkan sosialisasi penduduk desa.

Sekalipun pada ranah religi (bisa dibaca agama) mereka kuat memegang kaidah hukum alam, namun munculnya kultur baru yang dibawa industri Migas akan berdampak langsung pada masyarakat sekitar. Pada wilayah inilah seringkali warga desa dirundung dilema.

Di satu sisi—dari kalangan usia tua—berharap bisa mempertahankan tradisi warisan leluhur yang selama ini diyakini sebagai cikal bakal moral kemasyarakatan warga.  Di sisi yang lain, bagi kalangan muda, gairah untuk mereguk nikmatnya ekses industri Migas kian membuncah. Sekalipun pada gilirannya bakal meruntuhkan nilai kultural desa yang kental harmoni berbungkus religi.

Setidaknya kondisi tersebut telah merambah sejumlah desa di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Ditemukannya ladang Migas Blok Cepu oleh Humpus Patragas yang kemudian dilego kepada ExxonMobil, dan kini mulai dimuntahkan minyaknya oleh anak perusahaannya, Mobil Cepu Ltd (MCL), menjadi fenomena yang mengagetkan warga desa disana.  

Bila membuka rekam jejak proyek Blok Cepu, bisa kita lihat perubahan kultur di desa-desa yang masuk wilayah Kecamatan Gayam, Ngasem, Kalitidu, Dander, dan tentunya Kecamatan Bojonegoro (kota). Secara perlahan namun pasti warga dari sejumlah desa di sekitar sumur minyak Banyuurip—bagian dari Blok Cepu—mulai berubah.

Di saat pembebasan lahan berlangsung, telah terjadi perubahan perilaku masyarakat. Pelepasan lahan telah menciptakian orang kaya baru di desa. Mereka seperti terurai dari benang kultur yang selama ini mengikatnya.

Memang bukan sebuah dosa jika mereka merenovasi rumah senderhana, dan bahkan melengkapinya dengan tunggangan kendaraan mewah. Pula tidak haram bila mereka tiba-tiba menjadi perlente.  Tak perlu pula ditertawakan  jika mereka mulai mengikuti gaya hidup yang diusung para ekspatriat, ataupun pekerja dari luar daerah, yang mulai bersenyawa dengan desanya.

Gelaran proyek kontruksi untuk menyiapkan produksi Minyak di sana pun mulai dinikmati masyarakat. Mereka tak lagi menjadikan profesi warisan leluhur, petani, sebagai gantungan. Walau hanya menjadi kuli bangunan, Satpam, atau flagman di proyek Banyuurip, namun gemerincing rupiah di saku telah merubah kebiasaan disana. Mereka mulai menjamah kehidupan malam berikut perilaku turunannya. Mereka mulai mereguk minuman keras hingga melupakan nilai kultural yang secara turun-temurun dipertahankan oleh leluhurnya.

Demikian pula dengan kebijakan yang telah diambil oleh pemerintah daerah. Masuknya miliaran rupiah ke kas daerah menjadikan petinggi pemerintah lebih mudah berekspresi membuat program-program pembangunannya.

Para operator maupun kontraktor Migas pun tak diam. Sebagai tanggung jawab sosial karena beroperasi, mereka mengucurkan program Corporate Social Responsibility (CSR). Terbukti pula jika fasilitas infrastruktur publik di desa telah berubah. Denyut nadi perekonomian di desa pun menggeliat seiring perjalanan proyek Migas. Fakta itu tak bisa dipungkiri sebagai dampak dari industri Migas tersebut.

Tak terasa secara perlahan telah terjadi pergeseran tatanan sosial kemasyarakat di desa-desa sekitar proyek Migas. Disana telah sulit menemukan konsep kegotongroyongan yang dulu menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat. Kesibukan di proyek berikut perilaku baru, sebagian kalangan usia tua menilai menyimpang dari tradisi leluhur, menjadikan mereka tak lagi bisa selalu bertemu.

Jadinya kultur warisan leluhur yang diugemi para tetua desa telah runtuh. Tercampak oleh gegap gempitanya industri Migas. Memang dimanapun kebudayaan selalu berubah mengikuti perkembangan jaman. Namun, nilai-nilai religi yang menjadikan warga rekat harmoni harusnya tak boleh terburai. Kemudian berakhir menjadi dongeng sebelum tidur. 

| rakai.pamanahan@yahoo.com

Dibaca : 741x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan