Minggu, 24 September 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

BUMD Sosialisasikan UKL-UPL Pengolahan Gas Flare

Editor: nugroho
Kamis, 10 Januari 2013
rin
SOSIALISASI : PT BBS mensosialisasikan UKL-UPL pengolahan gas flare kepada perwakilan masyarakat sekitar lokasi proyek.

SuaraBanyuurip.com - Ririn W

Bojonegoro – Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Bojonegoro, Jawa Timur, PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS) bersama Badan Lingkungan Hidup (BLH) mensosialisasikan upaya pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan (UKL-UPL) sebagai persiapkan pembangunan infrastruktur untuk memproduksi Liquefied Petroleum Gas (LPG) pada Februari 2013 mendatang.

Konsultan UKL-UPL, PT Intermedia Energi, mitra yang digandeng BBS, Joko Supoyo menerangkan, pembangunan Utilitas Gas Flare Sukowati itu berkapasitas 20 MMSCFD. Rencananya Pembangunan berlokasi di Desa Campurejo, Kecamatan Bojonegoro dan Desa Ngampel Kecamatan Kapas.

“Lahan yang digunakan seluas 3 Ha dan telah sesuai dengan tata ruang berdasarkan ijin lokasi,” kata Joko Supoyo.

Dia menjelaskan, ada beberapa limbah yang nantinya akan dihasilkan pada produksi gas flare (gas suar bakar) dari lapangan migas Sukowati, Blok Tuban, milik Joint Operating Body Pertamina-PetroChina East Java (JOBP-PEJ) tersebut. Diantaranya limbah padat yaitu sampah domestik karyawan, Sludge minyak dari pengolahan minyak hasil samping dan produksi dari Unit CO2 dan H2S.

“Sedangkan untuk limbah cair akan menghasilkan Limbah cair produksi dari separasi sour gas dan unit dehidrasi, minyak cair produksi dari Unit CO 2 dan H2S, serta limbah cair dari kotoran manusia dari MCK,” ujar joko menjelaskan. 

Meskipun banyak pemaparan maupun penjelasan yang diberikan pihak pemrakarsa, ternyata tidak disambut hangat oleh masyarakat sekitar lokasi proyek yaitu Desa Campurejo.  Salah satu anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Campurejo, Dedy Bachtiar, menyatakan, apa yang disampaikan PT BBS percuma. Karena seharusnya sosialisasi ini dilakukan dihadapan masyarakat khususnya di dekat pabrik.

“Jangan tertutup seperti ini. Masyarakat luas harus tahu apa yang akan dilakukan oleh mereka di desa kami. Sebenarnya dari awal pelaksanaan sosialisasi sudah salah jalan dengan tidak mengundang masyarakat setempat,” sergah Dedy Bachtiar.

Dia mengatakan, jika ada beberapa pihak yang mengaku menjadi tokoh masyarakat dan menyatakan sanggup mengkondisikan masyarakat. Akan tetapi justru itu adalah tipu muslihat agar bisa mengambil bagian untuk mendapatkan untung.

“Harusnya BUMD bersikap tegas kepada mereka yang mengaku menjadi tokoh masyarakat dan mengutamakan kepentingan masyarakat diatas kepentingan pribadi maupun golongan,” imbuh Dedy.

Dedy berharap, sosialisasi dilakukan secara terbuka sehingga masyarakat luas tahu akan kegiatan yang dilakukan oleh PT BBS kedepannya serta dampak negative apa yang ditimbulkan.

 “Tapi lihat saja, ketika mereka mulai melakukan kegiatan kami akan melakukan demo besar karena merasa tidak mengetahui apapun terkait kegiatan ini,” ancamnya yang diamini beberapa perwakilan Pemerintah Desa Campurejo. (rin)

Dibaca : 1153x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan