Kamis, 16 Agustus 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

BUMDes Socorejo Berpeluang Ikut Lelang Limbah B3 PT SILOG

Editor: samian
Rabu, 09 Mei 2018
Ali Imron
MUSYAWARAH : Pertemuan antara nelayan, Pemdes Socorejo, dan PT SILOG di kantor Balai Desa Socorejo.

SuaraBanyuurip.comAli Imron

Tuban- Setelah PT Semen Indonesia Logistik (SILOG) tak lagi bisa membagi oli bekas ke nelayan secara langsung di sekitar pelabuhan semen BUMN, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Socorejo, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur berpeluang mengikuti lelang dalam pengelolaan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

Kesempatan ini merupakan jalan tengah mengurai ketegangan nelayan, setelah demo di kantor Desa Socorejo pada pekan lalu.

"Pemenang lelang akan memberi kesempatan kepada nelayan yang membutuhkan oli bekas dengan mekanisme akan di bahas kemudian," ujar Kepala Desa Socorejo, Arif Rahman Hakim, kepada suarabanyuurip.com, usai pertemuan bersama nelayan dan perwakilan PT SILOG di Balai Desa Socorejo, Rabu (9/5/2018).

Mantan aktivis PMII Jogja ini, menjelaskan, sebelumnya para nelayan menuntut oli bekas yang masuk di kap besar langsung dibagi ke nelayan sekitar. Kendati demikian, jika mengacu Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 10 tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah B3, maka oli bekas tersebut harus diolah oleh pihak yang berkapasitas.

Dikarenakan nelayan tetap memaksa mendapatkan oli bekas tersebut, maka Pemdes menjembatani untuk bertemu PT SILOG. Dalam pertemuan itu, pihak perusahaan tetap tidak berani membagi langsung karena bisa terkena sangsi melangar regulasi.

"Akhirnya kami tawari jalan tengah setelah vendor lama PT Surya Madu Jaya kontraknya habis dengan melibatkan BUMDes ikut lelang," terang Arif.

Harapannya jika lelang limbah B3 ini dimenangkan BUMDes, maka semua hal teknis di lapangan yang menyangkut nelayan akan diatur. Misalnya pendataan berapa kebutuhan oli nelayan, mengingat setiap kali lelang dengan jangka waktu 3-4 bulan ada sekitar 16 ribu liter oli bekas.

Selain itu, kedepannya nelayan akan membuat sebuah perjanjian tidak akan memperjualbelikan oli tersebut. Tujuannya oli tersebut benar-benar digunakan untuk melumasi mesin dan alat tangkap lainnya. Apabila opsi pertama gagal, Arif menjelaskan masih ada opsi kedua. Dimana nelayan bisa nempil oli bekas dulu di BUMDes Socorejo.

Pemdes Socorejo di waktu yang sama juga meminta petunjuk dari Polsek Jenu. Nantinya harus ada kesepakatan bersama antara nelayan dengan BUMDes/vendor yang diketahui desa, agar nelayan tidak memperjualbelikan oli tersebut.

"Hal-hal yang belum di sepakati akan dibahas lebih lanjut di forum lanjutan," tegas Kades humanis itu.

Tokoh masyarakat nelayan Socorejo, Rohmat Hidayat berharap, nelayan sebisa mungkin mendapatkan oli bekas dari anak perusahaan Semen Indonesia (SI) yang bergerak dibidang transportasi untuk membantu dalam perawatan mesin nelayan. Apabila tidak ada oli dari truk SILOG, tentu mesin dan alat tangkap nelayan akan cepat berkarat.

"Semoga nelayan dapat oli bekas seperti tahun tahun yang dulu," tambah Ketua Desa Tangguh Bencana (Destana) Socorejo.

Dalam pertemuan tersebut, PT SILOG diwakili oleh Sugeng, Imam, dan Priyo. Mereka menginginkan lelang nantinya, harus dimenangkan oleh perusahaan yang memiliki izin B3. Dalam hal ini, BUMDes akan didorong oleh Pemdes untuk menggandeng perusahaan yang sudah ahli di bidang pengolahan B3.

"Kami ingin lelang limbah B3 ini aman," ucap Imam kepada nelayan dan Pemdes Socorejo.

Sebatas diketahui, PT SILOG sebelumnya akrab dikenal sebagai PT Varia Usaha. Limbah B3 berupa oli bekas dari truk tersebut, sangat bermanfaat bagi nelayan sekitar karena sekarang jual beli oli di pasar cukup sulit. (Aim)

Dibaca : 951x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan