Kamis, 18 Oktober 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Cara Bojonegoro Mengubah Stigma Negatif Seni Tayub

Editor: samian
Minggu, 30 September 2018
d suko nugroho
TINGKATKAN KUALITAS : Waranggana Bojonegoro tampil di beso bareng usai di wisuda Bupati Anna Muawanah di Pendapa Malwopati.
TERKAIT:

SuaraBanyuurip.com - d suko nugroho

Bojonegoro - Pagelaran langen tayub semalam suntuk yang biasa dijumpai di desa-desa di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, bakal tidak ada lagi. Pentas kesenian Jawa itu akan dibatasi waktunya untuk mengubah stigma negatif yang selama ini melekat dalam seni tayub.

Sesuai kesepakatan yang disepakati antara Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro dengan  waranggana, pramugari, dan pengrawit, pagelaran tayub dibatasi maksimal pukul 01.00 WIB.

"Itu akan disertakan dalam rekomendasi setiap izin pentas seni tayub yang kita keluarkan," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro, Amir Syahid di sela-sela mendamping Bupati Anna Muawanah mewisuda 29 waranggana di Pendapa Malwopati Pemkab setempat, Sabtu (29/9/2018) malam.

Selama ini pagelaran seni tayub identik dengan minuman keras, hingga perbuatan tak senonoh. Namun dengan pembatasan jam pentas seni tayub ini akan mengembalikan makna dan mengedepankan kualitas kesenian tradisional tersebut. Baik dari tari, olah vokal maupun penampilan. 

"Para waranggana dan pengrawit sudah kita bekali dengan pelatihan dan tekniknya," tandasnya.  
ini pada nilai seni dan kualitas," tegas mantan Camat Balen itu.

Untuk mengubah stigma negatif ini, Disbudpar juga mengenalkan seni tayub di kalangan pelajar pada acara Beso bareng warangga sak Kabupaten Bojonegoro di pendapa Pemkab Sabtu malam. Melalui pengenalan ini diharapkan mumunculkan minat pelajar, sehingga ada regenerasi pelaku seni tayub. 

"Selama ini mereka jarang, bahkan tidak pernah melihat kesenian ini karena tampilnya larut malam. Oleh karena itu malam ini kita undang mereka agar menyaksikan langsung bagaimana itu seni tayub," jelas mantan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro itu.

Pada kesempatan itu, Bupati Bojonegoro Anna Muawanah sangat mendukung perkembangan kesenian tayub. Bahkan, untuk terus melestarikan kesenian tradisional ini, politisi senior PKB itu membuka seluas-luasnya Pendapa Malwopati Pemkab untuk latihan kesenian dan budaya para generasi muda. 

"Karena pemajuan kesenian dan budaya Bojonegoro menjadi salah satu visi kami," tegas Bu Anna, sapaan akrabnya.

Mantan anggota DPR RI dua periode itu juga menyarankan agar latihan budaya dan kesenian bagi generasi muda ini dibagi dalam lima kluster (zona).

"Ini untuk memudahkan anak-anak kita berlatih di pendapa," pungkasnya.(suko)

Dibaca : 574x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan iklan
iklan