Senin, 28 Mei 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Cegah Kekerasan Anak Melalui Sekolah Batik

Editor: nugroho
Minggu, 04 Februari 2018
Ali Imron
ANTUSIAS: Sebanyak 20 anak peserta kelas batik serius belajar di Kantor KPR Tuban.

SuaraBanyuurip.comAli Imron

Tuban- Lembaga Swadya Masyarakat (LSM) Koalisi Perempuan Ronggolawe (KPR) Kabupaten Tuban, Jawa Timur, memiliki terobosan baru untuk mencegah kekerasan anak di wilayahnya. Program yang dilaksanakan di kantor KPR Jl. Latsari 1 No. 1926 Kelurahan Latsari, Kecamatan Tuban itu, bernama Sekolah Batik Anak.

"Di tahun 2017 ada 85 anak Tuban yang menjadi korban kekerasan," ujar Direktur KPR Tuban, Nunuk Fauziyah, melalui pesan yang diterima suarabanyuurip.com, Minggu (4/2/2018).

Selama ini banyaknya kasus kekerasan yang dialami anak-anak di Tuban baik sebagai korban atau pelaku, tidak terlepas dari kondisi sosial, pengasuhan dalam rumah tangga, dan proses pendidikan di sekolahan. Hasil dari Forum Group Discusion (FGD) dengan Forum Anak Ronggolawe (FAR) Tuban, kebanyakan anak-anak merasa kelelahan mengejar pelajaranya. 

Pascadari sekolah sekitar pukul 14.30 WIB, mereka langsung geser ke tempat les baik les umum atau privat sampai ada yang pukul 17.00 WIB baru selesai atau baru sampai rumah. 

"Inilah yang menyebabkan anak-anak tidak memiliki ruang bermain, berkreasi dan tumbuh kembang secara optimal," jelas Nunuk.

Padahal hal tersebut sudah diatur dalam  konvensi hak anak (KHA) melalui Keputusan Presiden Nomor 36 tahun 1996, dan disahkannya Undang-Undang No 34 Tahun 2014 atas perubahan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pada pasal 4 yakni setiap anak berhak untuk hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Menurut Nunuk, tidak dimilikinya ruang kreasi dan tempat bermain yang ramah anak berpotensi menjadikan mereka stres dan psikisnya mudah rapuh sehingga gampang dipengaruhi oleh orang lain yang berniat jahat. 

"Ditambah gadget adalah pilihan terakhir mereka bermain. Padahal gadget jika dilihat dari sisi negatifnya memiliki ancaman bagi anak-anak, sebab 50% anak-anak yang menjadi pelaku kekerasan seksual berawal dari melihat video porno dari gadgetnya. Selain itu, dampak dari gadget mengakibatkan rasa solidaritas dan kepekaan untuk membangun hubungan yang humanis sangat rendah, dan intervior," terang mantan aktifis PMII Tuban itu.

Untuk itulah, KPR Tuban mengadakan Kelas Batik Anak dengan tema "Menumbuhkan Kreatifitas Dengan Belajar Batik dan Pencegahan Dini Kekerasan Pada Anak”. Kelas Batik Anak klaster pertama dilaksanakan setiap hari minggu selama 3 bulan dan setiap satu kali pertemuan selama 2 jam. 

"Alhamdulillah kelas batik ini diikuti sebanyak 20 anak-anak usia SD, SMP, SMA dan tidak tidak dipungut biaya alias gratis," tegasnya.

Semoga dengan adanya kelas batik ini, dapat memberikan manfaat untuk tumbuh kembang anak secara optimal. Sekaligus bisa mengasah kreatifitas anak sehingga anak- anak menjadi cerdas, percaya diri, mandiri dan bebas dari kekerasan. (aim)

Dibaca : 303x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan
iklan