Sabtu, 18 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Gelisah Anak Petani di Lumbung Padi (2)

Cemaskan Banjir Jika Bendung Gerak Dibuka

Editor: teguh
Selasa, 30 Oktober 2012
edy purnomo
TEPI BENGAWAN : Petani di Desa Banjararum, Kecamatan Rengel, Tuban tengah menggarap sawah yang mengandalkan irigasi air bengawan

 

 

PROYEK bendung gerak di Desa Padang, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur menelan dana Rp351 miliar. Bangunan ini diharapkan memiliki banyak fungsi, dan manfaat untuk masyarakat sekitar DAS Bengawan Solo.

Menurut staf ahli Bupati Bojonegoro, Tedjo Sukomono, bendungan gerak itu selain untuk kebutuhan baku irigasi pertanian, juga bisa digunakan untuk kebutuhan industri air minum, atau industri migas.

Lainnya, disebutkan juga, bendungan itu mampu membuka wilayah terisolir yang berada di sebelah utara bengawan dengan daerah di selatan. Karena di atas bendungan tersebut dibangun jembatan sepanjang 500 meter dengan lebar sekitar 4 meter.

”Jadi bendungan ini juga berfungsi sebagai jembatan, dan bisa dilalui kendaraan roda dua maupun empat. Sehingga dapat membuka desa-desa yang selama ini terisolir,” terang Tedjo Sukomono.

Kepala Pengawas Pelaksana Pembangunan Bojonegoro Barrage, Yahya, kepada tim Pusat Komunikasi Publik (Puskom) Kementerian Pekerjaan Umum (PU) di lokasi proyek bendung gerak menyatakan, bendungan ini mempunyai sembilan pintu yang bisa dibuka dan ditutup. Sesuai skema sembilan pintu tersebut akan dibuka untuk mengalirkan air  ketika musim penghujan untuk menghindari banjir. Saat musim kemarau pintu tersebut akan ditutup agar bisa menampung air bagi ketersediaan kebutuhan yang telah disebutkan di atas.

“Meski ditutup, limpahan air ini akan tetap mengalir. Karena dari sembilan pintu itu ada dua pintu berukuran rendah sehingga airnya tetap bisa mengalir untuk kebutuhan air di bawahnya,” sambung Yahya.

Fenomena teknis bendung gerak tersebut memicu kekhawatiran anak petani yang berada di wilayah bawah. Tentunya termasuk desa-desa di sekitar Bengawan Solo, di wilayah Kecamatan Soko, Rengel, Plumpang, dan Kecamatan Widang semuanya di Kabupaten Tuban.

Tak sedikit dari para pemuda desa telah melakukan kajian dan analisa. Mereka khawatir saat musim kering dan pintu air bendungan itu ditutup. Itu bisa mengurangi debit volume aliran air yang ada di bawahnya yaitu Tuban. Bahkan saat ini air di DAS di wilayah Kecamatan Rengel dan Kecamatan Plumpang sudah tidak sebanyak dulu.

Kekhawatiran mereka bukan tanpa alasan, karena mereka takut apabila tampungan air yang ada disana banyak diperuntukkan untuk keperluan industri. Mengingat perkiraan puncak produksi minyak di Bojonegoro yang rencananya akan dilakukan pada 2014 mendatang.

“Kami takut tampungan air yang ada disana banyak dihabiskan untuk keperluan industri, apalagi setelah mendengar 2014 menjadi puncak pengeboran minyak di Bojonegoro,” tambah seorang petani muda asal Plumpang saat ditemui di sawahnya.

Untuk itu, petani berharap, air yang ada disana tidak habis untuk kepentingan industri saja. Tetapi lebih banyak digunakan untuk pertanian dan area wisata, agar aliran air yang ada disana masih cukup untuk digunakan petani yang ada di Tuban.

 “Selain itu, kami khawatir saat pintu air yang ada dibendungan gerak itu dibuka, karena air akan mengalir lebih deras lagi ke hilir,” sambungnya.

Pada bagian lain saat ini muncul problema pelik yang dihadapi petani. Menjelang musim penghujan, banjir siap mengintai, dan menyapu rumah, dan lahan pertanian mereka. Karena hingga saat ini beberapa tanggul yang ada di bantaran Sungai Bengawan Solo masih dalam kondisi kritis. Dimungkinkan saat volume atau debit air meningkat, maka dipastikan tanggul-tanggul tersebut akan jebol.

“Kalau tanggul ini jebol, kami hanya bisa pasrah melihat air bengawan menyapu rumah-rumah kami,” ujar Warto (40), penduduk yang ditemui di salah satu tanggul di Desa Banjararum, Kecamatan Rengel, Tuban.

Terlihat tanggul di Desa Banjaraum dalam keadaan ambles hingga kedalaman lima meter. Dititik yang lain masih terlihat susunan sak yang diisi dengan tanah atau pasir yang disusun sebagai penahan air. Upaya ini dilakukan oleh warga saat musim hujan tahun lalu, sebagai upaya penanganan darurat agar tanggul tersebut bisa menahan gempuran air Bengawan Solo. Sehingga tidak langsung menyapu ratusan rumah warga yang berada dekat dengan tanggul.

“Ini yang membuat warga tahun lalu, agar bisa sedikit menahan air karena kalau sampai jebol rumah warga akan rusak,” tambahnya.

Sedangkan data dari Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Pemkab Tuban menyebut, saat ini ada lima titik tanggul yang ada di DAS Bengawan Solo di Tuban dalam kondisi rusak parah. Selain tanggul yang ada di Desa Banjararum, Kecamatan Rengel, juga masih ada tiga tanggul di Desa Bandungrejo, Desa Sembungrejo, dan Desa Kedungrojo yang kesemuanya berada di Kecamatan Plumpang. Satu tanggul lagi berada di Desa Kedungharjo yang berada di Kecamatan Widang.

“Hingga saat ini, ada lima tanggul di Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo Tuban yang dalam kondisi parah,” terang Kepala Seksi Perlindungan Masyarakat, Kesbangpolinmas Tuban, Saefuddin, saat dikonfirmasi, Senin (22/10/2012).

Menurutnya, keadaan lima tanggul ini seperti mata rantai. Dimana apabila ada satu saja tanggul yang jebol, maka otomatis lainnya pun akan terkena dampaknya. Seperti pada tahun awal tahun 2008 lalu, dimana hanya tanggul yang ada Desa Kedungharjo, Kecamatan Widang yang jebol. Tetapi air meluap menggenangi tiga kecamatan sekaligus, yaitu Kecamatan Widang, Kecamatan Plumpang dan Kecamatan Rengel.

 “Kami khawatir dengan kondisi ini, karena satu saja yang jebol, air akan menggenangi tiga kecamatan sekaligus,” tambahnya.

Pemkab Tuban tidak bisa berbuat banyak karena wewenang untuk perbaikan DAS Bengawan Solo termasuk tanggul adalah Balai Besar Bengawan Solo (BBBS). Untuk saat ini yang telah dalam masa perbaikan dengan penanaman paku bumi baru berada dit tanggul Desa Bandungrejo. Rencananya akan diselesaikan pada bulan Desember 2012 mendatang.

Sedangkan instansinya, menurut Syaifuddin, hanya bertindak sebagai pelapor kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur yang akan melanjutkan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), selaku eksekutor dalam penanganan dan antisipasi bencana.

“Kecuali kalau kondisi sudah sangat darurat, kita akan mengambil langkah sendiri sesuai kebutuhan yang ada saat itu,” tambahnya.

Siang masih terik. Di satu sudut ruang kelas sekolah di Desa Klotok, Kecamatan Plumpang, Tuban, Jawa Timur, seorang guru menerangkan pengetahuan umum mengenai kondisi sungai Bengawan Solo.

Diterangkan, Sungai Bengawan Solo, adalah sungai dengan panjang sekitar 548,53 kilo meter, yang mengalir di dua provinsi. Yaitu Jawa Tengah dan  Jawa Timur.

Sungai yang konon menjadi transportasi air dimasa penjajahan Portugis ini, masih dibagi beberapa wilayah. Untuk wilayah administratif sendiri, sungai ini mempunyai tiga wilayah Administratif yaitu, wilayah Administratif Hulu, wilayah Adminstratif Tengah, dan wilayah Administratif Hilir.

Sedang di Tuban dan Bojonegoro sendiri, kedua kota yang saling berdekatan ini masuk dalam wilayah Administratif Hilir. Mereka berdekatan dengan dua kota lain yaitu Lamongan dan Gresik.

Menjadi kampung hilir, bagi warga Tuban tentunya menjadi berkah tersendiri. Karena dengan aliran air yang seolah tidak pernah surut, menjadikan pertanian yang berada di sekitar bantaran sungai selalu tambah subur. Hal ini disebabkan proses pemanfaatan air yang  terjadi secara seimbang.

Bengawan Solo bagai legenda hidup. Terkadang melahirkan petaka disaat banjir, namun juga berkah karena unsur mineral di dalamnya bermanfaat untuk lahan pertanian. Bahkan, airnya bisa mengalir jauh dan akhirnya sampai menembus lautan. Mungkin itu makna di balik lagu Bengawan Solo karya almarhum Gesang itu. (edy purnomo/habis) 

 

Dibaca : 848x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan