Sabtu, 18 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Cuaca Ekstrem, Nelayan Lamongan Berhenti Melaut

Editor: nugroho
Sabtu, 26 Januari 2013

SuaraBanyuurip.com - Totok Martono

Lamongan  - Cuaca ekstrem dimusim penghujan yang terjadi beberapa minggu ini menjadikan para nelayan di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur ciut nyali untuk melaut. Mereka lebih memilih menambatkan perahunya dipesisir pantai ketimbang bertaruh nyawa dengan ganasnya terjangan gelombang.

Dari pantauan SuaraBanyuurip.com, disepanjang bibir pantai di Kecamatan Brondong hingga Paciran, Lamongan, ratusan perahu tampak ditambatkan. Perahu yang menjadi sumber penghidupan warga setempat itu tampak berjejal berhimpitan dan berguncang-guncang karena derasnya hempasan gelombang yang menghantam bibir pantai.

“Ndak ada yang berani nekad melaut, mas. Karena gelombangnya sangat tinggi,”  ungkap Bahar, seorang nelayan Desa Sedayu Lawas, Kecamatan Brondong.

Hampir tiga minggu ini para nelayan di wilayah tersebut lebih memilih prei miyang (berangkat melaut) karena cuaca yang ekstrem. Akibatnya para nelayan tidak memperoleh pemasukan. Untuk kebutuhan hidup keluarga, mereka terpaksa harus hidup empet-empetan (berhemat) dengan memanfaatkan sedikit uang celengan (tabungan) hasil menyisihkan menjual ikan selama masih melaut.

“Sementara hidup prihatin dulu. Daripada memaksakan diri berangkat miyang, nyawa taruhannya,” cetus Bahar.

Dia menjelaskan, saat cuaca ekstrem sepertini suasana laut menjadi begitu mengerikan. Angin dan badai menderu-deru. Sementara ombak besar setinggi 5-7 meter menerjang-nerjang perahu nelayan.

“Kalau tetap dipaksakan perahu bisa pecah dan karam,” sergah Bahar.

Agar tidak jenuh selama menunggu cuaca kembali normal, para nelayan melakukan aktfitas menjahit jala yang koyak. Selain itu membenahi tambatan labuh yang rusak oleh ombak, dan mencuci atau memperbaiki perahu. Bahkan tak sedikit dari mereka yang keuangannya sudah tipis, memilih bekerja serabutan menjadi kuli panggul dipasar, kuli bangunan dan pekerjaan kasar lainnya.

Menurut Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Lamongan, Samiaji, akibat cuaca ekstrem seperti sekarang ini lebih 90 persen nelayan berhenti melaut. “Tapi tetap ada yang nekad melaut. Namun jumlahnya tak banyak, paling hanya 10 persen,” ungkap Samiaji.

Jumlah nelayan dibawah naungan HSNI Lamongan mencapai ratusan. Untuk pemilik kapal besar sebanyak 24 kapal. Sedang pemilik kapal kecil, jumlahnya 280 kapal. “ Kalau pemilik kapal kecil ini, 90 persen berhenti melaut,”  pungkas Samiaji.(tok)

Dibaca : 1011x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan