Senin, 25 September 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Mengenal KH Raden M Rosyid, Pendiri Pondok Kendal

Dari Digunakan Nama Ponpes Hingga Nama Jalan

Editor: samian
Kamis, 02 Juli 2015
ririn wedia
KAMPUNG SANTRI : Salah satu ponpes dari tujuh ponpes yang didirikan keturunan KH Raden M Rosyid.

SuaraBanyuurip.com

Siapa sangka Pondok Kendal dulunya adalah sebuah pohon besar tempat pemujaan. Namun dengan perjuangan KH Raden M Rosyid dan keturunannya, hutan belantara itu telah diubah menjadi pondok pesantren yang menampung ribuan santri dari pelosok daerah.

Suara lantunan ayat-ayat suci Al-Quaran terdengar dari dalam masjid di sebuah bangunan cukup luas di Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Suaranya kadang timbul tenggelam bersaing dengan deru bising kendaraan yang siang itu banyak berseliweran.

Beberapa remaja terlihat duduk bersila membaca Al-Qur’an. Mereka begitu fasih melafalkan ayat-ayat suci. Sebagiannya lagi terlihat sedang menimba air untuk mengisi tempat mandi dan wudhu.

Sementara di bangunan sebelahnya yang masih satu kompleks, namun terpisah pagar tembok, tampak, remaja putri tak kalah sibuknya. Sebagian dari mereka juga melakukan aktifitas yang sama.

Meski puasa, aktifitas keagamaan masih tetap berlangsung di tempat ini. Justru kegiatan keagamaan terlihat semakin meningkat. Bukan hanya pada malam hari, mereka tadarus di siang hari.

Mereka adalah santriwan dan santriwati Pondok Pesantren (Ponpes) Al – Rosyid. Ponpes ini lokasinya cukup strategis. Yakni berada di tepi jalan raya jurusan Bojonegoro – Nganjuk.

Selain Ponpes Al-Rosyid, di kawasan ini terdapat tujuh ponpes lagi. Lokasinya saling berdekatan antara satu ponpes dengan ponpes lainnya. Sehingga banyak sekali dijumpai santriwan maupuan santriwati di kawasan itu, khususnya pada bulan Ramadan seperti ini. Karena santri dari luar daerah juga banyak yang menimba ilmu di sini.

Tak mengherankan jika banyak masyarakat sekitar maupun luar daerah yang menjulukinya sebagai kampung santri. Namun sebagian besar masyarakat menyebut ponpes itu sebagai Pondok Kendal.

Kawasan Pondok Kendal sendiri terletak sekitar sepuluh kilometer (km) dari jantung Kota Bojonegoro. Kawasan ini berada di dua desa yakni sebagian masuk Desa Ngumpakdalem, dan sebagiannya Sumbertlaseh, Kecamatan Dander.

Disebutnya Pondok Kendal, karena jaman dahulu tempat itu pernah ada pohon sangat besar dan angker yang sering digunakan masyarakat sekitar sebagai tempat memuja. Pohon itu bernama Kendal. Agar tidak terus-menerus digunakan sebagai tempat syirik atau menyekutukaan Allah SWT, pada abad 19, pohon itu ditebang oleh KH Raden M. Rosyid, sesepuh desa setempat.

Pembabatan pohon itu sempat memantik perlawan warga. Namun untuk menyelamatkan aqidah warga setempat, KH Raden M Rosyid tetap melakukan penebangan.

"Dari situlah awal mula berdirinya nama Kendal juga sekaligus awal mulanya penyebaran agama Islam," ungkap salah satu Pemimpin Yayasan Ponpes Al Rosyid, KH Alamul Huda kepada Suarabanyuurip, awal puasa lalu.

Selama memperjuangkan agama Islam, KH Raden M Rosyid tidak pernah mendirikan ponpes. Baru setelah dia wafat, keturunannya yakni anak-anaknya mendirikan ponpes. Pendirian ponpes ini tepatnya pada tahun 1950-an.

Ponpes itu dinamakan KH Abu Darrin sesuai  pendirinya. Lokasinya berada di Desa Sumbertlaseh, Kecamatan Dander. Sementara pada 1958-an, keturunan lainnya juga mendirikan ponpes baru yakni Ponpes Al-Rosyid. Nama tersebut diambil dari nama KH Raden M Rosyid.

“Tujuannya agar penyebar islam dikawasan kendal tidak hilang. Lokasinya berada di Desa Ngupakdalem, Kecamatan Dander. Atau beseberangan dengan ponpes Abu Darrin,” kata Gus Huda.

Seiring perkembangannya waktu, kawasan kendal bermunculan ponpes baru. Bahkan, saat ini ada tujuh ponspes yang memiliki ribuan santri. Selain dua ponpes itu, ada ponpes Abu Darrin Al-Ridwan, Abu Darrin Al-Ma’ruf, Abu Darrin Al-Kuzzy, Abu Darrin Al-Asmanah dan Abu Darrin Al-Kharis. Seluruh ponpes itu semuanya masih keturunan KH Abu Darrin.

"Bermunculan ponpes itu karena ijtihad anak-anak KH Abu Darrin. Tujuannya hanya menyebarkan agama Islam," imbuh pria yang juga Ketua Forum Kerukunan Umat Berama (FKUB) Bojonegoro ini.

Kelima ponpes itu lokasinya juga sangat berdekatan dan hanya terpisahkan pagar. Lokasinya berada di samping Ponpes Abu Darrin. Sehingga tak heran jika di kawasan kendal banyak terdapat mushola. Saat ini, totalnya ada enam mushola yang digunakan sebagai tempat mengaji dan mempelajari ilmu agama.

Sedangkan di tengah-tengah kawasan kendal itu terdapat Masjid Al-Syalafiyah. Sementara jumlah santrinya mencapi tiga ribu.

Meski terdapat banyak pondok, seluruh santri tetap hidup harmonis dan damai. Keguyupan itu tercipta tidak lepas dari silaturrahmi yang dibangun antar pengurus dan Kyiai Ponpes. Totalnya ada 31 kyai. Setiap seminggu sekali mereka selalu mengadakan pertemuan.

"Dalam pertemuan itu, kita bisa bebas berbicara apa pun. Itu yang membuat antara kiyai dan gus sangat akrab. Juga seluruh santri," uja Gus Huda.

Karena terdapat sejumlah ponpes itu lah, Gus Huda ingin menjadikan Kendal menjadi kampung santri. Bahkan, rencananya akan dibangun gerbang dari arah selatan maupun utara yang menunjukan kawasan kampung santri.

"Saat ini masih dibahas. Insyaallah dalam waktu dekat bisa segera terwujud," harapnya.

Secara umum tidak ada perbedaan dari tujuh ponpes di kawasan tersebut. Selain mempelajari dan memperdalam ilmu agama Islam, seluruh santri juga boleh menempuh pendidikan formal mulai PAUD, RS, MI, MTs, dan MA.

Bagi santri yang tinggal di Ponpes Al Rosyid harus selalu menempuh pendidikan formal di tempat tersebut. Sementara bagi santri yang tinggal di enam ponpes lainya, maka harus menempuh pendidikan formal di Ponpes Abu Darrin.

"Setelah itu, mereka kembali ke ponpesnya masing-masing dan mendalami ilmu agama Islam," sambung salah satu pengurus Ponpes Al Rosyid, Suudin Aziz.

Khusus ponpes Abu Darrin Al Kuzy, tidak mewajibkan santrinya menempuh pendidikan formal. Tapi kebanyakan santrinya hanya belajar pendidikan  agama Islam.

"Santrinya hanya pria. Tapi kalau ada yang ingin menpuh pendidikan formal tetap dibolehkan," pungkasnya.

Selain telah memunculkan tujuh ponpes, nama KH. M Rosyid sekarang ini telah diabadaikan sebagai jalan menggantikan nama HOS Cokroaminoto. Nama salah satu tokoh penyebar agama Islam itu pun banyak dikenal masyarakat luas. Seperti bunga, tak usah disebarkan namun wanginya kemana-mana.(ririn wedia)

 

Dibaca : 905x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan