Dari Penerjemah Novel Asing Menjadi Peserta Diklat Migas

Rabu, 27 Maret 2019, Dibaca : 1009 x Editor : samian

Ahmad Sampurno
MENGADU NASIB : Dari penerjemah novel asing, kini Rudi Karisma ikut diklat Migas Cepu untuk bisa mendapatkan pekerjaan.


SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Blora – Rudi Karisma adalah satu diantara 40 orang peserta diklat bantuan masyarakat Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi (PPSDM Migas), Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Pria 23 tahun itu, merasa beruntung bisa mendapatkan kesempatan mengikuti program gratis yang diselenggarakan oleh PPSDM Migas, sebagai bentuk perhatian lingkungan bidang pendidikan. Karena tidak semua orang bisa memperoleh kesempatan langka ini.

Baca Lainnya :

    Rudi termasuk salah satu orang beruntung bisa mengikuti diklat yang dilaksanakan mulai sejak tanggal 11 sampai 29 Maret 2019. Mengingat ratusan peserta harus melalui seleksi pada dinas tenaga kerja di masing-masing kabupaten. Ada tiga kabupaten yang mendapat program gratis tersebut, diantaranya Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

    “Saya sekarang mengikuti diklat Operator Scaffolding,” ujarnya, kepada Suarabanyuurip.com.

    Baca Lainnya :

      Dia mengaku, banyak ilmu pengetahuan yang diperoleh, utamanya tentang dunia Migas. Terlebih dalam diklat yang dia ikuti juga diimbangi dengan ilmu Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

      “Waktu di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dulu saya pernah mendapat materi K3. Itu pun hanya sekadar materi. Dari materi yang dulu saya dapatkan, akhirnya saya tahu prektiknya,” kata pria lulusan SMK Migas tahun 2015.

      Dia sangat berterima kasih kepada PPSDM Migas yang telah menyelenggarakan diklat tersebut. Sehingga dapat meningkatkan ilmu yang diperoleh dari SMK.

      “Ilmu yang saya dapatkan ini mudah-mudahan bisa termanfaatkan. Harapannya seusai diklat bisa langsung mendapat pekerjaan,” kata pria yang tinggal di Jalan Taman Siswa Gang Dewantara nomor 8, Balun Sawahan, Kecamatan Cepu.

      Dengan segera mendapatkan pekerjaan bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sebab, Rudi menjadi tulang punggung keluarga sejak kedua orang tua kandungnya tiada dan sekarang tinggal bersama adik dan abah.

      “Ayah meninggal pada Mei 2017, lalu Ibu meninggal dunia pada Desember 2018. Saya sama adik beda ayah,” tutur pria ramah ini.

      Rudi mengisahkan, meski berat dan banyak rintangan untuk bisa menyambung hidup tak lantas berpangku tangan. Sebeleum menjadi peserta diklat, selama setahun terakhir dirinya mencoba peruntungan dengan menjadi penerjemah novel berbahasa asing. Namun usahanya belum membuahkan hasil karena harus bersaing dengan grup besar.

      “Saya berdiri sendiri. Semantara yang grup besar, mereka sudah memiliki tim. Jadi saya kalah cepat, karena kompetisinya berbasis Online,” katanya.

      Ada beberapa novel yang sebenarnya sudah pernah dia terjemahkan, yaitu Isekai Izakaya Nobu, Tensei Slime dan Green Skin. Semua drop karena ada grup yang ambil dan rilisnya lebih cepat. Dia mengaku, sebenarnya ingin menelateni dunia penerjemah. Namun karena banyak kekurangan yang dimiliki menjadikan ia sementara terhenti.

      “Sebenarnya ingin gabung dengan grup besar. Tapi bingung gabungnya dimana. Semoga kedepan ada kesempatan. Untuk sementara saya ingin fokus dulu di diklat Migas ini, Mas,” pungkasnya.(ams)

       

       

       


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more