Rabu, 20 September 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Demi Menyambung Hidup Rela Mencari Lempuyang

Editor: nugroho
Sabtu, 01 Juli 2017
Samian Sasongko
DEMI SESUAP NASI : Potret kemiskinan masih ada di Bojonegoro pemilik sumber Migas. Pasiman saban hari ke hutan mencari rimpang.

SuaraBanyuurip.com -

Berat dan susahnya menjadi warga miskin untuk bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Tak sedikit dari mereka banting tulang tak mengenal lelah, ada yang menelusuri hutan mengais rezeki dari pencari tanaman lempuyang untuk dijual sebagai penyambung hidupnya. 

PADA suatu sore menjelang salat magrib sebagian warga Desa Butoh, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, sibuk beraktivitas membersihkan rimpang atau buah lempuyang untuk dijual ke pengepul. Sebagai warga miskin mereka tak bisa berbuat banyak, namun tak patah arang dalam mencukupi kebutuhan hidup meski berat dan susah.

Saban hari mereka berangkat pagi pulang sore dari hutan berjalan kaki dengan jarak 5 kilo meter mencari lempuyang sebagai rutinitas mengais rezeki untuk menyambung hidupnya.

"Maklum warga miskin tidak punya garapan pertanian, meski berjalan kaki sejauh lima kilo meter menuju hutan berangkat pagi pulang sore mencari lempuyang tetap tak jalani saja. Saking kepinginnya angsal koyo (begitu ingin memperoleh uang) demi menyambung hidup,” kata salah satu pencari tanaman lempuyang, Pasiman, kepada suarabanyuurip.com dengan bahasa Jawanya yang masih kental.

Sambil jemari tangannya memegang pisau kecil membersihkan dan mengiris rimpang, warga yang berdomosili di RT 06, RW 02, Dusun Ngembul, Desa Butoh ini menuturkan, tak mudah mendapatkan tanaman lempuyang di hutan. Selain harus mencari kesana-kemari menyusuri terjalnya batu juga masuk di semak-semak belukar. Jika sudah mendapatkan masih harus menggali tanah dengan peralatan dandang untuk bisa mengambil tanaman lempuyang tersebut.

Setelah itu masih ada lagi proses panjang mulai dari rimpang diiris tipis-tipis kemudian dikeringkan. Di proses pengeringan ini yang terkadang mendapatkan hambatan, yaitu faktor cuaca. Jika cuaca panas tiga hari rimpang sudah kering, tapi sebaliknya jika cuaca mendung dan sering turun hujan maka bisa sampai empat hingga lima hari rimpang baru bisa kering, dan siap dijual di pengepul.

“Satu kilogramnya dihargai Rp9.000,” ucapnya.

Demi sesuap nasi, bapak satu anak ini berujar, dalam sehari rimpang yang diperoleh dari hutan tidak mesti. Kadang bisa mendapatkan satu sak berukuran 50 kilogram rimpang basah terkadang juga kurang. Dari satu sak rimpang basah, itu jika diproses pengeringan hanya menjadi 6 kilo gram rimpang kering.

“Untuk membawa pulang, rimpang saya pikul saja. Aktivitas ini saya jalani sejak sebelum bulan puasa. Karena mau bekerja sebagai buruh tani sedang sepi,” imbuhnya sambil mengusap keringat diwajahnya yang kusam.

Meski menjadi pengais rezeki dari pencari rimpang, warga yang beberapa waktu lalu mendapat bedah rumah dari Kodim 0813 Bojonegoro karena rumahnya tidak layak huni (RTLH) ini tidak menampakan rasa malu dan menyurutkan niatnya untuk terus bekerja.

Hanya saja dia berharap, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro mau mengulurkan tangan memberikan bantuan berupa alat pengiris rimpang maupun lainnya. Sehingga dapat memudahkan proses pengeringannya.

“Berapapun hasil yang saya dapat tetap tak syukuri saja. Terpenting tidak merugikan orang lain, dan bisa untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari sudah Alhamdulillah,” ujar Kasri, istri Pasiman yang di amini oleh orangtuanya Lasmi yang ikut pula mengiris rimpang.(Samian Sasongko)

 

 

Dibaca : 284x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan