Kamis, 18 Oktober 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Selepas Teror di Ponpes An- Nidhomiyah Tuban

Demi Nyawa Anggota Arahkan Peluru di Kepala

Editor: samian
Sabtu, 15 September 2018
Ali Imron
REKONSTRUKSI : AKP I Made Patera Negara (berkacamata) memperagakan posisinya saat menembak pelaku teror di Ponpes An-Nidhomiyah.

SuaraBanyuurip.com -

Sekian detik sebelum peluru Revolver keempat terlepas, diingatan Kasatresnarkoba Polres Tuban, Jawa Timur, AKP I Made Patera Negara hanya ada anak dan teman (anggota) seperjuanganya. Dari jarak dua meter, peneror Ponpes An-Nhidomiyyah di Kelurahan Sidorejo, Kecamatan Tuban jatuh tersungkur karena peluru tepat menembus kepalanya sisi kiri.

 Sumpah Made untuk tak menghabisi nyawa pelaku kejahatan di Bumi Wali (sebutan lain Tuban) kembali teruji. Dalam suasana terdesak, peluru senjata Revolver pria kelahiran Bali ini menghentikan teror di Ponpes yang diasuh Kiai Ahmad Musyafak pada Rabu (12/9) lalu.

Jarum jam menunjukkan pukul 22:30 WIB. Saat Made masih berada di Mapolres Jalan Dr. Wahidin Sudiro Husodo Tuban tergagap mendengar laporan adanya keributan di Ponpes An-Nidhomiyah. Dengan menggunakan mobil, dia bersama anggotanya langsung meluncur ke lokasi yang tak jauh dari Mapolres.

Setibanya di Ponpes, masyarakat sekitar sudah memadati depan pintu gerbang Ponpes. Made kemudian berusaha mencari informasi detailnya. Di tengah kegelapan dengan sedikit cahaya, salah satu santri Gus Mamak menunjukkan kalau pelaku peneror AFN (30) masih berada di lantai dua.

Mendekatlah beberapa anggota kepolisian ke lokasi yang ditunjuk santri. Tanpa diketahui asal mula kedatangannya, AFN muncul dan seketika itu mengayunkan goloknya ke petugas. Reflek semua anggota berjalan mundur, untuk menghindari sabetan golok yang biasa digunakan memotong daging.

"Saya dan anggota jatuh bangun karena menghindari sabetan golok," cerita Made saat ditemui suarabanyuurip.com di Mapolres Tuban, Sabtu (15/9/2018).

Di sekitar Masjid Abdur Rohman di dalam Ponpes, AFN membabi buta menyabetkan goloknya. Waktu itu, pintu gerbang Ponpes langsung digembok rapat dari luar. Sementara di dalam Ponpes masih ada empat anggota termasuk Made, AFN, dan beberapa santri serta istri Gus Mamak yang sembunyi di dalam kamar.

Terhitung tiga kali Made jatuh, sembari memberikan tembakan peringatan. Jatuh ketiga kali, dipikiran Made hanya terbesit bagaimana nasib anak dan anggotanya. Dengan nafas terengah-engah, salah satu anggota langsung menarik Made ke belakang untuk menghindari sabetan.

Hal yang tak terduga justru anggota tersebut tersungkur di dekat AFN. Made masih memiliki peluru dua. Saat melihat pelaku hendak mengayunkan goloknya ke anggota, ditariklah pelatuk Revolver dan peluru keempat persis mengenai kepala pelaku.

Eksekusi dari jarak dua meteran itu terjadi hitungan detik. Disamping itu dalam keadaan hidup dan mati. Dikala pelaku hanya ditembak kakinya (dilumpuhkan), golok masih bisa melukai dan mengancam nyawa anggotanya. Begitupula kalau peluru meleset, tentu setelah nyawa anggota melayang giliran Made menjadi giliran berikutnya amukan golok.

"Kalau gak ditembak, nyawa anggota saya yang melayang," terangnya sambil memperagakan posisi dia menembak di dekat pintu gerbang Ponpes.

Di lain sisi, gerbang Ponpes tidak mungkin dibuka. Seandainya AFN melewati gerbang, tentu banyak korban yang berjatuhan karena saat itu banyak masyarakat sekitar yang memadati lokasi.

Sebagai satu-satunya polisi yang membawa Revolver, Made langsung melakukan tugasnya untuk menyelamatkan nyawa khalayak umum. Berkat latihan rutin, peluru keempat persis menyasar kepala pelaku. Dia tak pernah membayangkan, kalau pelurunya habis dan AFN belum bisa dilumpuhkan.

"Intinya saya hanya menjalankan tugas, dan tak ingin disebut pahlawan," tambahnya.

Kasatreskrim AKP Iwan Hari Poerwanto, juga menegaskan, dalam kondisi terdesak diantara pilihan hidup dan mati, aksi penembakan harus dilakukan. Selama pelaku kejahatan mengancam nyawa anggota dan warga sipil, tembak di tempat.

"Itu instruksi Kapolres AKBP Nanang Haryono," sambungnya.

Siapapun boleh beropini dalam kasus teror di Ponpes An-Nidhomiyah. Kalau situasinya masih memungkinkan (jarak aman) untuk dilumpuhkan, jelas kaki pelaku sudah ditembus timah panas. Kendati demikian, situasi di Ponpes sangat mendesak yang mengharuskan pak Made menghabisi pelaku di tempat.

"Itu saja pelaku sudah menyabet paha tamu Gus Mamak, yang harus mendapat 10-11 jahitan," imbuh Iwan sapaan akrabnya.

Dalam menghadapi pelaku yang tidak terkontrol kesadarannya, petugas harus ekstra hati-hati. Dari segi tenaga (kekuatan), sudah dua kali lipat dari orang normal. Misalnya, orang biasa mungkin berpikir dua kali untuk melompati sungai. Berbeda dengan maling yang dikejar polisi beserta anjingnya, sungai lebar pasti dapat terloncati.

Di tegaskan kembali oleh Kapolres AKBP Nanang Haryono. Keputusan menembak kepala pelaku peneroran di Ponpes sudah tepat. Bisa dibayangkan kalau anggota Polres Tuban mati, gara-gara pelaku dilumpuhkan kakinya.

Aksi tembakan peringatan tiga kali oleh Kasatresnarkoba pun, dianggap terlalu berani dan beresiko. Peluru lima butir saja, tiga diantaranya terbuang. Bagaimana kalau meleset, tentu nyawa anggota bisa terancam.

"Untung langsung kena kepala. Seharusnya kalau pelakunya seperti itu, kasih tembakan peringatan sekali," tegas Kapolres kelahiran Bojonegoro.

Nanang juga menjelaskan, untuk menghindari serangan pelaku anggota luka-luka karena berkali-kali jatuh. Dari empat petugas yang didalam Ponpes, beruntung pak Made membawa Revolver.

Gus Mamak selaku pengasuh Ponpes An-Nidhomiyah Tuban mengucapkan terimakasih kepada Kapolres Tuban beserta anggota karena merespon cepat laporan santri. Pihak Ponpes sebenarnya tak menginginkan kejadian ini terjadi.

"AFN merupakan santri saya. Tak seharusnya dia meninggal dengan cara demikian," terang Gus Mamak.

Masih dalam suasana berduka cita, Gus Mamak menceritakan riwayat AFN yang merupakan santri asal Desa Labuhan, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan. Santri yang menyerang kiainya sendiri tersebut, pertama kali ikut ngaji pada 2013. Setahun kemudian dia dikeluarkan, dan diharapkan bisa bekerja dengan baik.

Alasan dikeluarkannya santri yang juga sebagai petugas bersih-bersih pondok, karena pernah memukul salah satu santri. Melihat kelakuan yang tidak baik, akhirnya Gus Mamak meminta orang tua yang bersangkutan menjemputnya.

"Dia santri yang patuh, ibadahnya juga taat. Entah apa yang membuatnya tak bisa mengontrol dirinya," bebernya.

Dengan tujuan ingin mengaji, tepat di Malam 1 Muharram AFN kembali ke Ponpes. Kendati demikian, karena tingkahnya yang tidak normal akhirnya dipulangkan. Selepas itu, tepat di Rabu malam dia datang ke pondok dengan cara melompat pagar. 

Sambil membawa golok, pelaku langsung menyabet paha tamunya. Sekajap Gus Mamak mengambil tongkat Khotbahnya untuk menangkis sabetan golok. Upaya tersebut untuk memberi kesempatan tamunya menyelamatkan diri. 

"Saya berusaha menepis sabetannya supaya tidak ada lagi korban," jelasnya. 

Tak puas meyerang kiainya sendiri, AFN juga menyabet polisi dan berakhir nyawanya melayang. Sekali lagi, peristiwa teror di pondonya tak diinginkan dan semoga AFN dimaafkan kesalahannya oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dari peristiwa ini, pelaku kejahatan di Bumi Wali tak bisa leluasa mengancam nyawa anggota maupun masyarakat. Hanya satu intruksi dari Kapolres Tuban, yaitu tembak. Upaya ini sebagai jaminan keamanan dan kenyamanan di Kabupaten Tuban. (Ali Imron)


Dibaca : 48048x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan iklan
iklan