Kamis, 21 September 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Derita Panjang Khilma Iklilatun Najia

Editor: nugroho
Sabtu, 31 Desember 2011
12
sam
Khilma Iklilatun Najia penderita gizi buruk kritis ketika dipangku ibunya, Nur Indahyati.
suarabanyuurip.com
buruk gizi

SuaraBanyuurip.com - Samian Sasongko

Keterbatasan ekonomi menjadikan keluarga di desa tepian ladang migas Blok Cepu ini terpuruk. Derita kian panjang ketika anak semata wayang menderita gizi buruk.

Segumpal awan mendekap mentari di sudut langit. Bagai terbelit selendang hitam, sinar surya tak mampu beranjak. Desa Dukoh Kidul, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur (Jatim), pun bagai berselimut hitam tebal.

Sewarna raut Nur Indahyati. Perempuan paruh baya ini bagai kehilangan semangat hidup. Dalam kepasrahan tak bertepi hari-harinya berhias tangis. Gelegak kepahitan hidup dilingkup ketidakberdayaan kian nampak, ketika melihat putri semata wayangnya, Khilma Iklilatun Najia (8), tergolek lemas di atas dipan berkasur kapuk yang tak lagi empuk.

Sprei pembungkus kasur terlihat lusuh. Bahkan warna merahnya pun mulai pudar dimakan waktu. Entah sampai kapan alas untuk tidur sang bocah itu bisa diganti.

Bagi Nur Indahyati, jangankan untuk membeli sprei, untuk makan sehari-hari bisa cukup saja sudah syukur. Karena Nurjito, suaminya, hanyalah buruh tani. Kadang kala juga menjadi kuli bangunan. Tidak bisa dipastikan pendapatannya. Berpuluh tahun kondisi tersebut akrab dengan mereka.

Karena itulah, tiap kali memandang putrinya, kelopak mata perempuan berusia 40 tahun itu langsung basah. Tak kuat menahan iba dan penyesalan. Rasa penyesalan itu selalu mengaduk-aduk hatinya karena tak mampu memberikan pengobatan layak bagi puterinya yang terkena gizi buruk. Meski usia Khilma sudah 8 tahun, namun berat badan bocah perempuan itu baru 10 kg. Jauh dari berat badan ideal bocah sebayanya yang seharusnya berkisar 20 kg.

Kondisi itulah yang membuat Khilma saban hari hanya terbaring terlentang di atas kasur. Bermain, menangis, tertawa dan sedih di tempat tidur usang. Keceriaannya terpasung dalam rumah berukuran 5 x 9 meter berdinding papan dan berlantai tanah tersebut. Bocah itu tak memiliki tenaga untuk berdiri. Matanya cekung dan badannya kurus kering.

”Kami sudah pasrah atas semua ujian ini. Berbagi upaya sudah kami lakukan, tapi belum ada hasilnya,” ujar Nur Indahyati.

Titik air bening pun mulai meleleh membasahi bilur wajahnya yang tak berbedak. Perlahan dia usap air mata dengan ujung kain bajunya. Isak tangis yang dia tahan makin mengguncang raganya yang rapuh. 

Wanita yang tinggal di RT 01, RW 01, Desa Dukoh Kidul ini, yang tak jauh dari pengeboran Migas Blok Cepu, kemudian menceritkan ihwal putrinya terserang gizi buruk. Sejenak pikirannya menerawang. Sorot matanya menerawang ke langit-langit rumahnya yang penuh dengan sawang (sarang laba-laba). Bibirnya terlihat berat untuk memulai bercerita. Namun kemudian dia paksakan pula untuk berkisah. 

”Ketika baru bisa miring dan tengkurap dia sering saya taruh di lantai dengan beralaskan tikar pandan. Setelah itu dia mulai sering sakit-sakitan,”  tuturnya membuka cerita.

Perjalanan penderitaan Khilma itu dimulai ketika bocah yang lahir pada 27 November 2003 itu dia baru berusia 6 bulan. Badannya kadang panas dan kadang dingin. Karena takut terjadi apa-apa, kedua orang tua Khilma akhirnya membawanya ke Puskesmas Ngasem untuk berobat. Namun, Puskesmas tidak dapat berbuat banyak dan menyarankan untuk dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro. Hampir sekitar dua minggu Khilma mengalami koma. Tidak sadarkan diri.

Kondisi itu membuat keluarga semakin bingung. Apalagi persediaan uang untuk pengobatan Khilma sudah menipis. Hutang tetangga dan keluarga pun tak bisa dihindari pasangan Nurjito-Nur Indahyati. Yang terpenting bagi mereka anaknya selamat. 

”Ketika itu Khilma masuk RSUD sekitar tahun 2004. Menurut Dokter, Khilma menderita penyakit infeksi otak,” kenang Nur. ”Dokter waktu itu menyarankan agar dia dioperasi, tapi karena tidak punya biaya saya minta untuk dirawat biasa,” lanjut dia.

Setelah menjalani perawatan dua minggu, kondisi Khilma akhirnya berangsur membaik dan tersadarkan diri dari koma. Namun, karena uang berobat telah habis dan hutang sudah menumpuk dimana-mana, terpaksa Khilma yang belum sembuh dibawa pulang dan dilakukan rawat jalan.

Itu (dari 542 penderita gizi buruk di Bojonegoro, 59 balita masuk katagori gizi buruk sangat kritis) data dari Dinas Kesehatan Bojonegoro.
Selang beberapa bulan, Khilma kembali diobatkan lagi dengan jaminan gaji bapaknya yang ketika itu bekerja sebagai kuli bangunan di Surabaya. Selama dua tahun Nurjito tidak menerima gaji karena harus dipotong untuk pengobatan anaknya. Namun hasilnya nihil. Kondisi sang bocah masih tetap sama.

”Akhirnya kami putuskan untuk membawa pulang lagi dan merawatnya di rumah dengan seadanya,” ungkap Nur.

Dengan kondisi penyakit dan keterbatasan ekonomi keluarga itulah, akhirnya membuat pertumbuhan Khilma menjadi tidak normal. Nafsu makannya menurun. Ditambah lagi kondisi keluarga tak mampu memberikan makanan bergizi. Khilma akhirnya menderita gizi buruk sangat kritis.

Ironisnya, Dinas Kesehatan Bojonegoro hingga saat ini belum ada tindakan nyata untuk memberikan bantuan agar anak  itu bisa disembuhkan. Padahal, seblumnya, pihak Kecamatan Ngasem sudah mengecek kondisi Khilma. Namun tidak ada kelanjutannya. Bahkan Bidan Desa Dukoh Kidul juga sudah mengetahui kondisi tersebut, tapi tak ada perhatian.  Justru, malah anak yang kondisinya sudah sehat yang diperhatikan dengan luar bisa.

Dia berharap, agar ada orang yang peduli dengan penderitaan yang dialami anaknya. Meski tidak berupa dana. Cukup dengan diberikan makanan maupun susu yang bergizi tiap bulannya.

”Yang terpenting kondisi Khilma bisa tetap bertahan kuat fisiknya. Karena saat ini keluarga hanya bisa memberikan sesekali saja makanan bergizi,” harapnya.

Fenomena tersebut sangat kontras sekali dengan gelar yang disandang Bojonegoro sebagai daerah penghasil migas Blok Cepu. Ternyata, sebagai daerah yang kaya sumber daya alam (SDA), bukan menjadi jaminan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Derita Khilma itu hanya secuil potret buram kemiskinan keluarga didaerah tambang.

Terbukti dari 542 balita penderita gizi buruk di Bojonegoro tahun 2010 lalu, sebanyak 59 balita masuk katagori gizi buruk sangat kritis. Jumlah gizi buruk ini mengakibatkan kota yang berbatasan Kabupaten Tuban, Jatim dan Blora Jateng, ini menduduki peringkat ke dua Se Jawa Timur setelah Kabupaten Pamekasan. 

“Itu (dari 542 penderita gizi buruk di Bojonegoro, 59 balita masuk katagori gizi buruk sangat kritis) data dari Dinas Kesehatan Bojonegoro,” kata Tri Harso perwakilan Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) mitra Mobil Cepu Limited (MCL) dalam program perbaikan gizi balita sekitar pemboran Migas Blok Cepu.

Menurut dia, penderita gizi buruk di Bojonegoro ini merupakan sebuah persoalaan serius yang perlu penanganan semua pihak, bukan hanya pemerintah daerah. Melainkan perusahaan maupun lemabaga sosial lainnya.

“Harus ada prioritas penanganan dari pemerintah daerah dan lembaga yang ada disini agar penderita gizi buruk dapat ditekan setiap tahunnya,” tegasnya.

Sementara itu, menurut Ketua Tim PKK Jatim, Ny Nani Soekarwo, ada beberapa faktor yang menyebabkan gizi buruk di wilayah Jatim, termasuk Kabupaten Bojonegoro. Yakni pola asupan yang salah, penyakit bawaan, dan kemiskinan. Namun dari tiga faktor itu, faktor lain yang lebih dominan menjadi penyebab terjadinya gizi buruk yakni mencapai 54 persen.

”Karena itu, ibu-ibu balita harus secara rutin mendatangi posyandu. Sehingga dengan begitu gejala gizi buruk dapat dideteksi secara dini dan segera ditangani,” sambung Ny. Nani Sukarwo saat melakukan evaluasi dan monitoring penanggulangan gizi buruk di Desa Dukoh Kidul, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, kala itu.

Itu (dari 542 penderita gizi buruk di Bojonegoro, 59 balita masuk katagori gizi buruk sangat kritis) data dari Dinas Kesehatan Bojonegoro.
Sebelumnya, Ketua Tim PKK Kabupaten Bojonegoro Ny Mahfudhoh Suyoto mengungkapkan,  untuk menanggulanginya kita terus melakukan beberapa kegiatan. Mulai dari memaksimalkan peran Posyandu, pemberian makanan tambahan (PMT), baik dengan pihak swasta maupun pemerintah daerah. Bahkan  untuk memaksimalkan peran posyandu, PKK kabupaten telah melakukan penandatangan MoU dengan Dinas Kesehatan, Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BP2KB), dan Pendidikan Non Formal Informal Dinas Pendidikan untuk membantuk taman posyandu di tiap-tiap desa.
”Dengan terbentuknya taman posyandu ini, pertumbuhan balita akan terpantau dan ibu balita juga memperoleh ilmu bagaimana cara mengasuh anak yang benar,” pungkasnya.

 

Dibaca : 1438x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan