Senin, 19 Agustus 2019
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Desa Sekitar Migas Dilanda Krisis Air Bersih

Editor: nugroho
Sabtu, 10 Agustus 2019
Foto BPBD bjn for sbu
ANTRE AIR : Warga di salah satu desa terdampak kekeringan mendapatkan bantuan dropping air bersih dari BPBD Bojonegoro.

SuaraBanyuurip.com - d suko nugroho

Bojonegoro - Sejumlah desa sekitar pengeboran migas di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mulai dilanda krisis air bersih. Warga melalui pemerintah desa telah mengajukan bantuan distribusi air bersih kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. 

Desa sekitar industri migas yang dilanda krisis air bersih adalah Desa Sukowati, Kecamatan Kapas. Wilayah ini terdapat Lapangan Migas Sukowati.

Kemudian Desa Gamongan, Kecamatan Tambakrejo. Wilayah tersebut merupakan kawasan Lapangan Migas Tiung Biru.

Juga Desa Pelem, Kecamatan Purwosari, yang merupakan wilayah proyek pengembangan Lapangan Gas Unitisasi Jambaran-Tiung Biru (JTB).

"Sudah 21 desa di 12 kecamatan yang mengajukan surat permintaan bantuan air bersih. Termasuk tiga desa sekitar migas," ujar Sekretaris BPBD Bojonegoro, Nadif Ulfia, Sabtu (9/8/2018). 

Dua puluhan desa yang mengajukan bantuan air bersih diantaranya Pejok, Kecamatan Kepohbaru; Desa Ngeper, Kecamatan Padangan; Desa Kedungsari, Bakulan dan Pandantoyo, Kecamatan Temayang; Desa Bareng dan Siwalan, Kecamatan Sugihwaras.

Sedangkan untuk Kecamatan Ngraho kekeringan melanda di tiga desa yakni Desa Sugihwaras, Luwihaji dan Nganti. Di Kecamatan Sumberejo meliputi Desa Tlogohaji, Sumberharjo dan Kayulemah. Desa Sambeng dan Kasiman, Kecamatan Kasiman; dan Desa Sumberjokidul Kecamatan Sukosewu. 

Desa-desa yang mengajukan permintaan air bersih sudah terlayani semuanya sesuai jadwal yang telah dibuat BPBD. Rata rata dropping air bersih dilakukan 3-4 kali. Sampai hari ini sudah dilakukan dropping air bersih sebanyak 102 rit atau 5.000 liter air kepada warga terdampak kekeringan.

BPBD Bojonegoro memprediksi bencana kekeringan akan terus meluas, karena musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih panjang. Berdasarkan pemetaan yang dilakukan terdapat 74 desa di 19 kecamatan berpotensi mengalami kekeringan di tahun 2019. 

Lembaga plat merah yang bertugas menangani kebencanaan - BPBD Bojonegoro-itu telah menyiapkan alokasi anggaran sebesar Rp200 juta pada tahun 2019 ini, atau sekitar 500 tangki air bersih. Selain itu juga menerapkan sistem tandon di desa terdampak kekeringan untuk memangkas waktu dan meningkatkan jangkauan titik distribusi.

"Kita akan melayani pengiriman air setelah adanya surat permohonan dari desa dengan mengetahui kecamatan. Jadi yang saat ini mendapatkan dropping air bersih adalah desa desa yang telah mengajukan permintaan," pungkas Ulfa, sapaan akrabnya.(suko)


Dibaca : 180x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan