Dinkes Bojonegoro Akui Praktik Dokter Spesialis Masih Terpusat di Kota

Senin, 05 Agustus 2019, Dibaca : 527 x Editor : nugroho

ririn wedia
DISKUSI : Plt Kepala Dinkes Bojonegoro, dr. Hernowo menjelaskan pelayanan kesehatan dalam panel Road Show Jurnalisme Warga.


SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia

Bojonegoro - Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro, Jawa Timur menyampaikan jumlah dokter spesialis yang membuka praktek di wilayahnya terus bertambah. Dokter spesialis tersebut merupakan dokter yang bertugas di rumah sakit swasta maupun rumah sakit daerah.

Data di Dinkes setempat,  pada tahun 2017 jumlah praktek dokter spesialis sebanyak 235 kepemilikan. Jumlah tersebut sama dengan tahun sebelumnya (2016). Sedangkan, pada 2015 dokter praktek sebanyak 211 kepemilikan.

Baca Lainnya :

    Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Bojonegoro, dr Hernowo mengatakan, sejauh ini masih banyak praktik dokter spesialis terpusat di kawasan kota. 

    "Kalau di kecamatan atau pedesaan belum ada," ujarnya dalam diskusi panel Road Show Jurnalisme Warga yang dilakukan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta dengan dukungan dari Uni Eropa dan Hivos Open Contracting melalui program SPEAK (Strengthening Public Services through the Empowerment of Women-led Advocacy and Social Audit Networks) di Ruang Angling Dharma Lantai II Gedung Pemkab, Minggu (4/8/2019) kemarin.  

    Baca Lainnya :

      Dijelaskan pada 2019 ini jumlah dokter umum dan dokter spesialis sebanyak 350 orang. Pelayanan kesehatan di kecamatan-kecamatan sekarang hanya pelayanan umum melalui puskesmas, maupun klinik.

      Jumlah fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit ada 10 unit. Rinciannya, tiga rumah sakit milik daerah yakni RSUD Sosodoro Djatikoesoemo di Kecamatan Bojonegoro, RSUD di Kecamatan Padangan dan RSUD di Kecamatan Sumberejo.  

      "Sedangkan untuk puskesmas ada 36 puskesmas dan seluruh desa ada polindes," terangnya.

      Sementara di 32 dusun terpencil saat ini sudah ditempatkan bidan. Sehingga semua desa sudah mendapat pelayanan kesehatan yang bisa diakses masyarakat. Sedangkan, akses informasi kesehatan secara online masih dilakukan pengembangan. 

      "Dinas kesehatan lagi mengembangkan e-healt yang bisa diakses untuk mengetahui, berapa bad yang kosong di rumah sakit, dan lain-lain Tapi masalahnya sekarang update dari rumah sakit yang lambat. Dan sekarang lagi pembenahan," pungkasnya.

      Sementara, Sekretaris AJI Bojonegoro, Khorij Zaenal Asrori mengatakan sebagai organisasi perangkat daerah (OPD) Pemkab Bojonegoro harus lebih terbuka dalam memberi pelayanan masyarakat.

      "Jika memang Dinkes memiliki program yang baik, pers juga akan mendukung, karena memang sekarang good news is news," timpalnya. (rien)


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more