Kamis, 21 September 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Kisah Suparman, Penarik Becak

Dua Periode Menjabat Kades

Editor: nugroho
Sabtu, 07 Juni 2014
SuaraBanyuurip.com/totok
Kades Pangkatrejo, Suparman.

SuaraBanyuurip.com - Totok Martono

Lamongan- Menjadi seorang kepala desa (Kades) tidaklah harus memiliki modal besar. Tukang becak pun dapat menduduki kursi petinggi desa hingga dua periode selama diinginkan rakyat.

Suparman, (44), contohnya. Menjadi Kades Pangkatrejo, Kecamatan Maduran, Kabupaten Lamongan, sebelumnya tak pernah terlintas di benak Suparman. Karena waktu itu dirinya hanya seorang penarik becak yang memiliki sedikit penghasilan.

Bagi Suparman kala itu dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya sudah lebih dari cukup. Karena penghasilan sebagai penarik becak tak dapat dipastikan. Sedangkan disisi lain dia harus menghidupi istri dan sembilan anaknya.

“Saya menjadi penarik becak sekitar 10 tahun. Dari tahun 1997 hingga 2007," ujar Suparman mengawali kisahnya kepada suarabanyuurip.com, Sabtu (7/6/2014).

Untuk mencukupkan kebutuhan keluarga, sambil menarik becak Suparman nyambi berjualan bensin eceran di depan rumah salah satu tetangganya yang terletak di depan jalan raya. Dari jualan bensin eceran, penghasilan yang diperoleh lelaki tamatan SMA swasta di Kecamatan Maduran itu lumayan untuk menutupi biaya hidup keluarganya. Kala itu per harinya Suparman bisa menjual bensin 10-15 liter.

Setiap tiga hari sekali Suparman kulakkan bensin di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Sekaran dengan menggunakan becak kesayangannya yang jaraknya sekira 7 kilometer (KM) dari rumahnya.

"Kalau gak disambi jualan bensin gak nutut penghasilan untuk hidup sehari-hari," ujar Suparman, mengungkapkan.

Meski berprofesi sebagai tukang becak, warga di Desa Pangkatrejo tidak pernah memandang rendah sosok Suparman. Maklum saja, walau sebagai tukang becak, Suparman aktif dalam kegiatan keagamaan. Bahkan menjadi salah satu pemuka agama di desa setempat. Selain itu Ia juga tercatat sebagai anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD).

Pada tahun 2007 saat ada lowongan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) di Desa Pangkatrejo, warga beramai-ramai meminta dirinya untuk ikut nyalon.

“Saat itu saya langsung menolak. Saya menganggap warga hanya mengolok-olok. Tukang becak kok disuruh nyalon kades, modalnya dari mana ?" kenang Suparman.

"Apalagi waktu itu keluarga juga tidak mengijinkan saya mencalonkan diri sebagai kades," lanjut dia.

Namun dorongan warga yang memintanya mencalonkan diri dalam Pilkades cukup besar. Warga menjanjikan semua biaya pilkades akan ditanggung penuh oleh warga dengan cara gotong royong.

“Akhirnya saya memberanikan diri maju dengan ucapan Bismillah,” tegas lelaki yang kehidupannya sangat sederhana ini.

Saat pencalonan awal, Suparman mengaku hanya memiliki uang Rp500 ribu. Uang itu modal jualan bensin. Dalam pencalonan Pilkades itu ternyata Suparman menjadi calon tunggal. Mayoritas warga yang memiliki hak pilih memberikan suara kepadanya hingga Suparman terpilih sebagai Kades Pangkatrejo.

Dikurun periode pertama menjabat kades, Suparman cukup berhasil menggerakkan roda pemerintahan desa. Kehidupan masyarakat juga  kondusif.

Beberapa warga yang ditemui suarabanyuurip.com mengaku, selama menjabat kades Suparman dikenal dengan pribadinya yang jujur dan lurus.

“Pak kades walau hidupnya sederhana tidak pernah narik warga setiap butuh surat, semuanya gratis,“ ujar Mukadi, warga setempat.

Warga lainnya, Nastain mengaku, Kades Suparman mampu menyatukan tiga golongan yang ada di Desa Pangkatrejo.

“Kalau dulu NU, Muhammadiyah dan LDII berdiri sendiri-sendiri, tapi sejak dipimpin Pak Kades Parman bisa rukun,“ sambung Nastain, mengungkapkan.

Karena kepemimpinan yang jujur dan mengutamakan warga itulah, dalam Pilkades Bulan Juli 2013 lalu, Suparman kembali terpilih untuk kedua kali. "Alhamdulillah warga masih mempercayakan amanah itu," sambung Suparman kembali.

Meski sudah dua periode menjabat kades, Suparman mengaku tidak bakal melupakan profesi lamanya sebagai tukang becak. Becak kesayangannya yang dititipkan di halaman masjid desa setiap hari masih rutin dibersihkan.

“Banyak orang yang ingin membeli becak saya. Meski ditawar mahal saya tidak akan menjualnya,“ tutur suami dari Rosdiana ini.(tok)

Dibaca : 1669x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan