Sabtu, 18 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Dua Perusahaan Migas Dinyatakan Tak Terlibat Bau

Editor: nugroho
Rabu, 23 Desember 2015

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban- Badan Lingkungan Hidup (BLH) Tuban, Jawa Timur, menyatakan dua perusahaan Migas yakni operator Blok Tuban, Joint Operating Body Peratmina Petrochina East Java (JOB PPEJ), dan PT Gasuma Federal Indonesia (GFI) tidak terlibat dengan bau busuk, yang menyelimuti pemukiman warga Desa Rahayu, Kecamatan Soko, Tuban, beberapa waktu lalu.

“Dari hasil laporan perusahaan tidak ada alat produksi yang rusak,” kata Staf Pengawasan dan Pengendalian (Wasdal) BLH Tuban, Suprihadi Suyanto, kepada suarabanyuurip.com, ketika ditemui di ruang kerjanya, Rabu (23/12/2015).

Kepastian itu diperoleh BLH setelah mendapatkan laporan dari dua perusahaan tersebut hari Senin (21/12/2015) kemarin. Laporan tersebut berisi rincian proses awal sampai akhir produksi, dan beberapa alat produksi, termasuk kondisi alat pendeteksi gas.

“Semua alat termasuk pembakaran flare kondisinya baik ,” tegas Suprihadi.

Pasca mendapatkan laporan adanya bau menyengat di Desa Rahayu, timnya langsung melalukan verifikasi ke lokasi tanggal 16 Desember 2015. Hasilnya benar ada bau busuk tercium disekitar gasuma.

Kemudian, tim langsungmelakukan verifikasi ke tiga perusahaan yang dapat menimbulkan bau  meliputi, JOB PPEJ, PT GFI, dan PT Geo Link Nusantara. Sehari penuh tim BLH mengecek peralatan produksi, mulai dari proses pengeboran, pemeriksaan alat pendeteksi kebocoran, dan alat pembakaran gas flare.

“Termasuk beberapa alat yang dimungkinkan kelebihan tekanan,” tambahnya.

Setelah pemeriksaan selesai, BLH meminta kepada tiga perusahaan, segera menyerahkan laporan rincian alat beserta kondisinya. Tujuannya untuk memastikan secara detail kondisi peralatan produksi Migas.

Pihaknya menjelaskan bau yang timbul selama ini adalah gas Hidrogen Sulfida (H2S). Munculnya bau tersebut akibat kondisi klimatologi, dimana hasil pembakaran flare yang seharusnya terurai oleh angin, menumpuk di sekitar pemukiman karena udara lembab.

Beberapa gas hasil pembakaran flare meliputi, gas CO, Co2, Oksida Belerang, dan Oksida Nitrogen.

“Gas tersebut apabila tercium menimbulkan mual dan pusing,” pungkasnya.

Sebelumnya warga dan siswa pendidikan anak usia dini (PAUD) di sekitar pengolahan GFI mengeluhkan bau menyengat menyerupai telur busuk. Akibat bau itu, warga dan siswa sempat pusing dan mual bahkan mereka memakai masker untuk bertahan dari bau tersebut.(aim)

 

 

 

Dibaca : 436x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan