FPSBB: Ada Indikasi Penghilangan Cagar Budaya

Rumah Sakit Migas Masuk Cagar Budaya Jateng

Senin, 01 Juli 2019, Dibaca : 463 x Editor : samian


SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Blora - Rumah Sakit Migas di Jalan Diponegoro Nomor 9 Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, milik Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi (PPSDM Migas), masuk dalam daftar cagar budaya di Jawa Tengah.

Menurut Ketua Forum Peduli Sejarah Budaya Blora (FPSBB), Lukman Wijayanto, rumah sakit yang saat ini dalam tahap pembangunan untuk diaktifkan kembali tersebut, telah terdata dalam catatan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Balai Pelestarian Paninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah. Sekarang menjadi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB).

Baca Lainnya :

    Di dalam surat keterangan Benda Cagar Budaya Nomor 1399/101.SP/BP3/P-VI/2010, ditandatangani oleh Kepala BP3, Tri Hatmaji, tertangal 9 Juni 2010 di Klaten. Situs Rumah Sakit Migas Cepu bernomor registrasi Inventarisasi 11-16/Blo/21/TB/03, dengan Justifikasi Bangunan berarsitektur kolonial dengan ciri-ciri khas tembok tebal, jendela dan pintu besar, bangunan ini dibangun kurang lebih awal abad XX.

    Berdasarkan hasil penelitian, situs ini dinyatakan sebagai tinggalan purbakala yang dilindungi oleh Undang-Undang RI Nomor 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya dan telah terdaftar di kantor BP3 Jawa Tengah. Lukman, menjelaskan, di dalam area rumah sakit tersebut tidak hanya satu bangunan. "Satu alamat itu sudah terinventarisir sebagai cagar budaya," kata Lukman Wijayanto, kepada Suarabanyuurip.com, baru-baru ini.

    Baca Lainnya :

      Beberapa bulan lalu, kata dia, ada laporan bahwa pembangunan rumah sakit itu menghilangkan cagar budaya. Kemudian laporan tersebut ditindaklanjuti oleh Dinas Pemuda Olah Raga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) dengan menemui pihak PPSDM Migas.

      "Saya juga hadir pada saat pertemuan. Dalam pertemuan itu, ternyata pihak PPSDM Migas Cepu belum mengerti kalau rumah sakit tersebut sudah teregistrasi cagar budaya," ungkap Lukman.

      Kehadiran tim dari Dinporabudpar, juga sekaligus melakukan sosialisasi cagar budaya. "Kami tunjukkan dari registrasi nasional cagar budaya, dan sudah kami berikan sebuah buku tentang potensi Cagar Budaya Blora, didalamnya ada data inventaris dan undang-undangnya," kata dia.

      Sebenarnya dari PT Perusahaan Gas Negara (PGN) selaku investor pembangunan Rumah Sakit Migas, kata dia, sudah memberikan peringatan untuk memastikan status bangunan tersebut.

      "Dari pertemuan itu diperoleh kesimpulan akan dilakukan perubahan maket. Kami sendiri tidak hendak menghalangi karena Blora butuh rumah sakit baru yang baik dan murah. Karena ini adalah tupoksi kami, maka kami sampaikan," ujarnya.

      Targetnya, agar Pemkab Blora tidak terjebak seperti di Baitunnur. "Kasihan Stakeholder kalau disalahkan gara-gara cagar budaya," tandasnya.

      Jalan tengah yang dilakukan, agar pembangunan tetap jalan tanpa dihalangi aturan. Ada banyak referensi yang bangunannya cagar budaya tapi tidak dihilangkan.

      "Hanya diperbaiki tanpa menghilangkan bentuk aslinya. Kami sudah sepakat," jelasnya.

      Namun, sampai saat ini pihak PPSDM Migas tidak pernah ada koordinasi dengan Dinporabudpar.

      "Yang terjadi saat ini adalah penghapusan aset mengarah pada indikasi penghilangan bangunannya," jelas dia.

      Dikatakan, bahwa izin prinsip belum keluar. Artinya patut diduga bahwa secara hukum ada pelanggaran-pelanggaran aturan terkait pembangunan.

      "Tentunya baik itu perizinan maupun aturan dalam UU nomor 11 tahun 2010 tentang cagar budaya," katanya.

      Pelaksana Humas PPSDM Migas Cepu, Nurchalim, mengatakan, bahwa Rumah Sakit Migas tidak masuk Cagar Budaya. Pihaknya mempersilakan untuk kroscek ke dinas terkait di Pemkab Blora.

      "Kami juga pernah mengadakan pertemuan dengan Bupati Blora dan jajarannya masalah renovasi RS PPSDM Migas," jelasnya.

      Diungkapkan, bahwa pihaknya tahu mana yang cagar budaya dan mana yang tidak. Sebelah RS Migas itu ada bangunan yang pernah dipakai koramil dulu tidak di hancurkan.

      "Karena itu cagar budaya," kata dia.

      Saat ditunjukkan surat dari BP3 Jawa Tengah yang menyatakan bahwa RS Migas masuk dalam daftar cagar budaya, dirinya tidak banyak komentar.

      "Besok kami ada rapat di Blora terkait pembangunan Rumah Sakit," ujarnya.

      Terpisah, Slamet Pamuji, Kepala Dinporabudpar, menyampaikan, dari data inventaris potensi cagar budaya Blora dari tahun 1979 sampai dengan 2017, Rumah Sakit Migas masuk dalam data potensi dan masuk registrasi nasional.

      Untuk menjadi cagar budaya, lanjut dia, ada proses lebih lanjut. Harus ada tim pengkaji yang bersertifikasi.

      "Meskipun sifatnya masih potensi, tapi harus hati-hati dalam perlakuannya," kata Mumuk sapaan akrabnya.

      Pihaknya mengakui, secara formal belum diajak bicara. Kalau ada kepentingan, pembangunan seperti saat ini, pihaknya tidak punya kewenangan melarang atau mempersilakan pembongkaran.

      "Kalau seperti ini kami sifatnya menyarankan, ada beberapa bangunan yang disisakan untuk tidak dibongkar," ujarnya.

      Dijelaskan, bahwa jika sudah ditetapkan sebagai cagar budaya maka bisa beresiko hukum.(ams)


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more