Rabu, 22 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Gaji Tak Sesuai Risiko

Editor: teguh
Senin, 25 Agustus 2014
Totok Martono
SUPIR TANGKI BBM : Seorang pengemudi truk tangki BBM tengah menurunkan BBM di salah satu SPBU di Lamongan.

SuaraBanyuurip.com - Totok Martono

Lamongan - Walau pekerjaan yang dijalani beresiko besar para sopir truk tangki yang mengangkut solar, dan premium kesejahterannya cukup memprihatinkan. Profesi mereka sebenarnya juga bisa dikata bertaruh nyawa.

Jika teledor sedikit saja akan membawa bencana yang luar biasa. Selain membawa kendaraan besar dan panjang, tangki bermuatan solar atau premium rawan meledak jika tidak super hati-hati membawanya.

“Dibanding sopir bis, atau sopir truk, dan kendaraan lainnya, sopir truk tangki resiko yang dihadapi cukup besar, Mas, “ kata sopir truk tangki  PT Pertamina Putra Niaga, Agus, kepada Suarabanyuurip.com, Senin (25/8/2014).

Menurutnya, sopir truk tangki harus selalu waspada kendaraannya aman dari jangkauan sumber api. Selain itu harus memastikan tangki berisi BBM selalu tertutup rapat.

“Sopir juga harus selalu hati-hati karena membawa kendaraan panjang dan besar, “ ujarnya.

Menekuni pekerjaan penuh resiko sudah dijalani bapak empat putra ini selama 25 tahun.  Selama ini dirinya bertugas mengantar premium dari Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) di Tuban, dan dikirim di dua SPBU di wilayah Lamongan.

Truk tangkinya berkapasitas  24 ribu liter. Setiap hari dirinya harus mengirim premium dua rit atau dua kali perjalanan pulang pergi (PP).

“Setiap pagi sebelum berangkat sopir dicek kesehatannya oleh petugas kesehatan. Kondisinya sehat atau tidak sebelum membawa kendaraan,“ ujarnya.

Dari menjadi sopir, pria asal Ngawi, Jawa Timur ini setiap bulannya mendapat gaji Rp1,3 juta atau sesuai dengan Upah Minimum Kabupaten (UMK). Selain gaji dirinya juga telah terdaftar dalam JPJS Ketenagakerjaan, dan BPJS Kesehatan.

Diakuinya dengan gaji sesuai dengan UMK tersebut cukup kecil dibanding resiko yang harus dihadapi. Apalagi kebutuhan hidup semakin mahal. Untuk biaya makan dirinya saja setidaknya setiap hari dirinya harus mengeluarkan uang Rp30 ribu untuk makan siang di warung.

“Walau hidup pas-pasan disyukuri saja, Mas. Yang penting tetap sehat, dan selalu selamat di perjalanan,“ ungkapnya.

Salah satu operator SPBU Lamongan, Tulus, mengatakan, selama ini kinerja Agus cukup baik. “Orangnya ramah dan tidak pernah mengeluh mas. Dengan semua karyawan SPBU semua kenal baik,“ ujarnya. (tok)

Dibaca : 3489x
FB
Ada 1 komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Kamis, 04 Desember 2014 15:59
untuk gaji memang UMK tetapi jika di kalikan dengan tunjangan dll, para AMT bisa mendapatkan lebih dari Gaji Bulanan diatas 2,500. Ingat 6J dan DSIS
TBBM Tuban
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan