Sabtu, 18 Agustus 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Gasolin Produksi Terbesar Kilang Tuban

Editor: samian
Sabtu, 28 Mei 2016

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban - Setelah penandatanganan frame work agreement pembangunan Grass Root Refinery Tuban, PT Pertamina (persero) tetap mendominasi saham kepemilikan Kilang Tuban, Jawa Timur. Kilang baru berkapasitas 300 ribu Barel Per Hari (BPH) tersebut, produksi terbesarnya Gasolin.

"Produksi Gasolin rencananya 45 persen," kata Direktur Pengolahan Pertamina, Rachmad Hardadi, melalui siaran resminya di beberapa media Nasional, Jumat (27/5/2016).

Selain Gasolin masih ada dua produk lagi yang diproduksi. Tercatat 30 sampai 35 persen untuk Diesel, dan sekira 20 persen untuk petrochemical.

Sementara, Dirut Pertamina, Dwi Soetjipto, mengatakan setelah dimulainya tahap ground breaking pada 2018, kilang ini diharapkan beroperasi tiga tahun kemudian.

Pihaknya sepakat sumber crude dalam agreement 45 persen dijanjikan Rosneft. Sedangkan 55 persen lainnya Pertamina. Meskipun sudah ada kesepakatan namun, angka tersebut belum dapat dipastikan.

“Penyebabnya Pertamina dan Rosneft masih melakukan perhitungan lebih spesifik,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, terpilihnya Rosneft Rusia menjadi mitra pembangunan Kilang Tuban setidaknya ada 6 alasan. Pertama, kemampuan untuk menyuplai minyak mentah atau crude. Rosneft memiliki sumber crude yang sangat besar. Kedua, aspek finansial di mana keuangan harus kuat untuk menjamin investasi.

Ketiga, Rosneft berpengalaman dalam mengoperasikan kilang. Keempat, perusahaan asal Rusia memilki sejarah panjang dalam berinvestasi di luar negeri. Kelima, Rosneft menguasai teknologi kilang. Terakhir, strategi Rosneft sejalan dengan Pertamina.

Beberapa kelebihan tersebut diharapkan mampu, menutupi kebutuhan minyak dalam negeri. Sehingga dapat menekan impor berbagai produk yang dihasilkan dari minyak mentah.

"Untuk masa feasibility study (FS) pembangunan Kilang Tuban ditargetkan selesai pada 2017," tambahnya.

Diketahui, selesainya Residual Fuel Catalytic Cracking (RFCC) Kilang Cilacap pada 2015 lalu, kapasitas Kilang Indonesia mencapai satu juta barel per hari. Tapi secara efektif baru 850 ribu Bph.

"Kondisi ini mendukung pentingnya kilang baru," sambungnya.

Sebab, konsumsi bensin saat ini 1,6 juta Bph. Otomatis Pertamina harus impor separuh dari kebutuhan tersebut. Selain itu, terwujudnya Kilang Tuban dapat menjadi jawaban Pemerintah selama 26 tahun silam. Sebab, dalam kurun waktu tersebut tidak ada kilang baru. Dua kilang terakhir -Kasim di Sorong, Papua Barat dan Balongan di Indramayu- dibangun pada 1997 dan 1994. (Aim)

Dibaca : 1338x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan
iklan