Rabu, 24 Oktober 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Gelar Rencana Aksi Pasarkan Batik Jonegoroan

Editor: samian
Minggu, 31 Januari 2016
Athok Moch Nur Rozaqy
DUKUNG : Bersama LSM Ademos, EMCL mendukung program pengembangan batik jonegoroan.

SuaraBanyuurip.com - Athok Moch Nur Rozaqy

Bojonegoro - Beragam upaya terus dilakukan oleh para perajin batik Jonegoroan untuk memasarkan produk kerajinannya agar kian dikenal. Satu diantaranya membuat rencana aksi yang dilakukan oleh perajin batik dari berbagai desa di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

"Batik jonegoroan masih belum dianggap menarik oleh masyarakat Bojonegoro, ini sangat memprihatinkan," ungkap Nur Afidhatul Muawanah, perajin Batik asal Desa Sendangharjo pada Minggu (31/1/2016) di Cafe Kalindo, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro.

Menurut perempuan yang akrab dipanggil Fido itu, pemasaran Batik Jonegoroan masih kalah bersaing dengan Batik dari luar. Seperti dari Madura, Pekalongan, dan bahkan Tuban. Dia menilai, kalahnya persaingan pasar Batik Jonegoroan, dikarenakan Batik asal kota Ledre tersebut masih dirasa mahal.

"Kami masih kalah bersaing harga," imbuhnya.

Padahal, lanjut Fido, harga Batik Jonegoroan terendah berkisar Rp 65 ribuan. Harga ini dilibas oleh batik-batik luar dengan harga hampir setengahnya.

"Mereka mampu menurunkan ongkos produksi. Karena kuantitas mereka banyak," ungkap perwakilan Batik Training Center (BTC) tersebut.

Menurut Fido, sebetulnya bahan dan kualitas batik luar tidak lebih bagus dari batik jonegoroan yang diproduksi perajin Bojonegoro. Sayangnya, ungkap Fido, Batik Jonegoroan masih belum menarik minat masyarakat Bojonegoro sendiri.

"Seharusnya Batik Jonegoroan menjadi kebanggaan kita bersama," keluhnya.

Melalui paguyuban perajin batik jonegoroan, Fido berharap bisa meningkatkan penjualan dan tren batik jonegoroan menjadi ikon Bojonegoro.

"Pemasarannya tidak cuma di Bojonegoro. Kita harapkan bisa sampai ke level nasional, bahkan internasional," harapnya.

Perwakilan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), Ukay Subqy menilai, bahwa batik jonegoroan patut dibanggakan. Variasi motif dan teknik pembuatan batik jonegoroan menurutnya sudah bagus.

"Saya melihat Batik Jonegoroan ini sudah punya nilai pasar yang baik. Tinggal bagaimana caranya supaya masyarakat tahu," ungkap bapak dua anak ini saat hadir dalam acara tersebut.

Bagi dia, Batik Jonegoroan sudah cukup layak masuk dalam persaingan Pasar Batik di tanah air. Dia menyarankan Batik Jonegoroan sebagai bagian dari industri kreatif harus mempunyai cara kreatif dalam pemasarannya.

Malik, demikian panggilan akrabnya, juga menekankan bahwa EMCL sudah mendukung batik jonegoroan sejak awal munculnya tren batik tersebut.

"Bersama LSM Ademos, program pengembangan batik ini kami dukung sebagai bagian dari komitmen EMCL dalam pengembangan ekonomi masyarakat," pungkasnya.

Ketua LSM Ademos, Muhamad Kundori menjelaskan bahwa paguyuban perajin batik jonegoroan ini dibentuk agar pemasarannya lebih masif dan sistematis.

"Setelah mendampingi mulai dari merintis usaha hingga produksi, kini kita ingin membawa mereka ke pasar," jelas lajang dari Desa Ngraho, Kecamatan Gayam ini.

Dia mengungkapkan, batik jonegoroan harus mendapatkan dukungan regulasi dari pemerintah. Setidaknya, upaya tersebut bisa dicontoh dari Kabupaten Kulonprogo. Kundori menuturkan, didaerah Kulonprogo batik lokal wajib dipakai oleh semua instansi. Dan pada akhirnya meningkatkan produksi dan permintaan.

"Dukungan seperti ini yang sedang kita dorong ke pemerintah Bojonegoro," ucapnya.‎

Kundori berharap, rencana aksi yang dilakukan hari ini bisa mewujudkan batik jonegoroan yang menasional, dan menjadi kebanggaan masyarakat Bojonegoro dan Indonesia.‎ (Roz)

Dibaca : 1079x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan