Sabtu, 18 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Gerobak Penjual Air Itu Mulai Diparkir

Editor: nugroho
Kamis, 12 November 2015
totok martono
BERSIAP DIPARKIR : Jaswadi bersama gerobaknya bermuatan jerigen yang masih berisi air bersih.

SuaraBanyuurip.com

Musim penghujan mulai datang, meskipun belum merata. Kondisi ini menjadikan pendapatan penjual air bersih tak lagi deras mengalir.

Seorang lelaki setengah baya sedang mendorong gerobak kecil berisi beberapa jerigen. Langkah kakinya terasa berat karena muatan digerobaknnya cukup berat. Beberapa jerigen itu masih penuh berisi air bersih.

Lelaki itu adalah Jaswadi. Penjual air bersih yang berkeliling Desa Siman, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Selama musim kemarau kemarin, Jaswadi keliling desa menawarkan air bersih kepada warga yang membutuhkan.

Maklum, Desa Siman merupakan salah satu desa di Kota Soto – sebutan lain Lamongan - yang dilanda kekeringan. Acap kali kemarau melanda selalu diikuti krisis air bersih.

Sesuai data di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamongan, ada 56 Desa di 10 kecamatan di Lamongan yang mengalami kekeringan. Selain Sekaran, di antaranya adalah Kecamatan Kota, Tikung, Sarirejo, Kembangbahu, Sukodadi, Sugio, Kedungpring, Modo dan Sambeng.

Karena itu, saat musim kemarau kemarin, dalam sehari Jaswadi mampu menjual delapan gerobak air bersih. Setiap gerobaknya berisi jerigennya berkapasitas 30 liter. Satu jerigen air bersih itu dijualnya seharga Rp1500, atau Rp12 ribu per gerobak.

“Seharinya saya bisa mendapatkan untung 50 ribu perhari," kata Jaswadi kepada suarabanyuurip.com, Kamis (12/11/2015).

Air bersih yang dijual Jaswadi ini terbilang murah. Namun begitu, selama sepuluh tahun berjualan air bersih keliling desa, dia tak pernah menaikkan harga sejak 5 tahun lalu.

"Ndak pernah menaikkan harga soalnya yang membeli warga desa sendiri," cetus bapak satu anak dengan satu cucu ini.

Air bersih yang diperoleh Jaswadi dari telaga desa ini tak gratis. Melainkan dari hasilnya membeli kepada pemerintah desa setempat. Untuk satu gerobak air berisi 8 jirigen seharga Rp3 ribu.

Namun dengan datangnya musim penghujan sekarang ini menjadikan usaha yang digeluti Jaswadi tak selancar musim kemarau. Meski hujan belum merata mengguyur, namun warga yang membutuhkan air bersih mulai berkurang drastis.

Akibatnya, jerigen di dalam gerobaknya masih penuh berisi air bersih. Pendapatannya dari berjualan air bersih pun kini tak deras mengalir. Gerobak tuanya pun bersiap diparkir, dan Jaswadi bersiap banting setir untuk tetap bisa menyambung hidup.

Selama musim penghujan, Jaswadi akan mengolah sepetak lahannya meskipun hasil dari menggarap sawah lebih sedikit dibandingkan berjualan keliling air bersih. Ia pun akan menanti dengan setia kedatangan musim kemarau tahun depan.(totok martono)

 

Dibaca : 522x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan