Senin, 25 September 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Harga Los Capai Rp. 14,7 Juta, Pedagang Pasar Baru Babat Pilih Jadi PKL

Editor: nugroho
Minggu, 18 November 2012
totok martono
TERSINGKIR : Sebagian pedagang Pasar Baru Babat memilih jadi PKL karena tak kuat beli los

SuaraBanyuurip.com - Totok Martono

Lamongan  - Meski telah diresmikan Bupati Lamongan Fadeli pada Juli lalu, Pasar Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, masih menyisakan setumpuk persoalan. Para pedagang lama tidak mau kembali menempati pasar baru tersebut karena mereka menilai harga los (tempat berjualan permanen) terlalu mahal yakni mencapai Rp. 14,7 juta dengan ukuran 2 x 2 meter.

Akibat mahalnya harga los itu sebagian besar pedagang lama penghuni pasar Babat memilih menjadi pedagang kaki lima (PKL). Mereka berjualan disekitar pasar yang dibangun dengan  investasi Rp. 55,225 milyar tersebut.

Dari penelusuran SuaraBanyuUrip dilapangan, sekira sebanyak 200 PKL menggelar dagangannya disekitar Pasar Babat. Yakni di Jalan Pendidikan, Pramuka, Kartini hingga gang dikelurahan Banaran. Barang-barang yang dijual PKL beraneka ragam dari bumbu dapur, sayuran, perkakas rumah tangga,pakaian, aksesoris,tas hingga mainan anak.

Menjamurnya para PKL tersebut menjadikan jalan-jalan ditempat tersebut tidak lagi nyaman lagi bagi pengguna jalan. Meski tidak termasuk jalan besar, jalan-jalan yang dihuni PKL menjadi akses ke jalan utama.

Sejumlah PKL mengaku, terpaksa berjualan kleleran seperti itu karena tak mampu membeli los di Pasar babat. Walapun sebenarnya mereka lebih suka berjualan dipasar lama dengan memiliki lapak tetap dan banyak pelanggan.         

“Dari sisi keuntungan jualan dipasar lama dengan menjadi PKL ini jauh terpautnya, Mas. Keuntunga saya turun hingga 80 persen. Kondisi ini jelas membuat ekonomi keluarga morat-marit,” kata Husen, (32), salah satu PKL yang berjualan di Jalan Kartini kepada SuaraBanyuurip, Minggu (18/11/2012).

Pedagang asli Santren ini mengaku dagangannya sangat sepi karena selain tempatnya kurang nyaman juga telah kehilangan pelanggan lama.

Keluhan senada juga dilontarkan sejumlah pedagang di  jalan Pemuda. Antok, pedagang pakaian mengatakan, kalau dulu masih di pasar lama setiap harinya bisa menjual 10 hingga 15 potong pakaian. Namun sekarang bisa menjual dua potong pakaian saja sehari sudah sangat bersyukur.

“ Untuk lapak berukuran 2 meter X 2 Meter saja, harganya Rp.14,7 juta. Bagaimana kami yang pedagang lemah bisa membeli lapak semahal itu ? “ kata Husen.

Apalagi, dia mengungkapkan, saat dulu digusur dari pasar lama dirinya dan para pedagang lainya tidak memperoleh ganti rugi sama sekali.

“Bupati tidak peduli sama sekali pada nasib pedagang kecil.  Kami ini sudah jatuh tertimpa tangga,” sambung Husen lagi dengan nada emosi.

Untuk memperjuangkan nasib mereka, sejak setahun lalu para PKL telah bergabung dalam wadah Persatuan Pedagang Tradisional  Babat Bersatu (PPTBB) yang diketuai Rupi’i. Para PKL itu akan terus memperjuangkan nasib mereka karena Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan dianggap tidak lagi memperdulikan keberadaan pedagang lama.

Sekadar catatan, pasar Baru Babat sendiri dibangun pada  4 Oktober 2011 silam. Rencana pembangunan pasar yang terletak dijalur strategis Tuban-Lamongan-Bojonegoro- Jombang  tersebut  sempat ditolak keras oleh para pedagang pasar. Namun Pemkab Lamongan tetap bersikeras melanjutkan program pembangunan pasar diatas lahan 17.854 meter persegi tersebut. Selama proses pembangunan pasar, para pedagang direlokasi sementara di Pasar Agrobis Semando, di Desa Plaosan.  

Tempat relokasi itu juga sempat mendapat protes pedagang karena lokasinya dinilai tidak prospektif.  Mereka akhirnya memilih untuk menjadi ‘pedagang liar’ disekitar lokasi pasar Babat. Di Pasar Baru Babat memiliki 969 unit toko /kios, 168 unit partisi, 160 los, 96 unit untuk PKL.(tok/suko)

Dibaca : 2716x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan