Kamis, 21 September 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Hipokrit

Editor: teguh
Kamis, 23 Oktober 2014
Edy Purnomo
SUNGKEMAN : MA Ashomadiyah Tuban memiliki tradisi sungkem kepada kiai dan ustadz menjelang ujian sekolah.

Oleh : Rakai Pamanahan

DALAM sebuah workshop kebudayaan di Yogjakarta minggu kedua Oktober 2014 lalu saya bertemu kawan lama. Meski terlahir di Kediri, Jawa Timur, Ucup, demikian saya biasa menyapa, Yusuf Abidin, namun cukup lama tinggal di Belanda.

Dia sengaja datang dalam perhelatan itu bersama istrinya yang berkewarganegaraan Netherland, Lieke Belinda.  Perbincangan kami mengalir. Dia berkisah tentang nyamannya hidup di negara yang selama 350 tahun menjadikan Nusantara sebagai koloninya.

“Ungkapan Anda pada 24 tahun lalu tidak terbukti, Meneer,” katanya sambil tersenyum. “Saya kerasan, dan nyaman-nyaman saja bersama anak istri disana,” pungkas lelaki yang rambutnya mulai rontok itu.

Ya saya masih ingat. Saat mengantarnya di Bandara Soekarno Hatta tahun 1990 sebelum kuliah di Universiteit Leiden saya berpesan kepadanya. “Setelah lulus jangan menetap di Belanda, hujan emas di negeri orang lebih enak hujan batu di negeri sendiri.”  

Niet, Vader. My husband has always wanted to return his country,” kata Leike, saat si Ucup pamit ke kamar kecil.

Kejujuran Leike yang dinikahi Ucup 14 tahun silam membuat saya tersenyum. Ternyata dia tak jujur dalam berucap. Dia telah membohongi dirinya sendiri.

Ytang saya tahu, ada keterikatan batin antara orang dengan tanah kelahirannya. Tak lagi fenomena namun sebentuk realita, bahwa tanah leluhur dengan beragam kulturnya tak mudah terlepas dari seseorang. Dimana pun mereka kini berada.

Orang Indonesia sendiri, apapun kultur kedaerahannya, memiliki sifat tak jauh berbeda. Tempaan histori sebagai negara jajahan begitu lekat melembaga di batin warganya. Itu pun telah menjadi makna kultural dalam berlaku sosial kemasyarakatan.

Laku saya sebagai Jurnalis di berbagai daerah di tanah air, membuktikan bahwa warga Indonesia memiliki sifat yang tak jauh berbeda. Yakni; sifat hipokrit. Di setiap perjalanan profesi saya bertemu dengan para pejabat pemerintah, swasta, maupun tokoh masyarakat dari berbagai level. Mereka rata-rata memang menyimpan sifat munafik.

Mereka suka berpura-pura. Bisa jadi karena sistem feodal yang diterapkan dalam sistem pemerintahan kolonial, menjadikan kita tak berani berterus terang. Lain ucap di muka, lain pula dengan belakang.

Perampasan kebebasan berfikir dan berpendapat terhadap masyarakat, memaksa kita untuk menyembunyikan rasa di batin. Termasuk pula lahirnya rasa takut disalahkan, dan mendapat punishment. Sekalipun batinnya berontak.

 Termasuk pula sejumlah Ambtenaar yang menduduki jabatan di pemerintah daerah maupun swasta. Sampai sekarang pun sulit menemukan pejabat yang berlaku jujur. Mereka acap menyembunyikan sesuatu, sekalipun sebenarnya mafhum ada  UU 14/2008 yang mengatur keterbukaan informasi publik.

Sifat hipokrit atau munafik ini masih muncul meski jaman telah berubah. Sudah begitu rata-rata mereka tidak bertanggung jawab atas segala kebijakan yang diambilnya.

Tidak perlu disebut karena siapapun tahu, dan telah menjadi rahasia umum, jika ada masalah di lapangan sang Ambtenaar akan menyalahkan bawahannya. Yang dibilang tak bisa menjalankan perintah, atau disudutkan akibat kesalahan yang dilakukan atasannya. Sang bawahan juga menimpakan masalah itu kepada level bawahnya dan seterusnya.

“Saya hanya menjalankan perintah pimpinan.” Hanya itu yang sering ke luar dari mulut bawahan. Akhirnya masalah tersebut menjadi mengambang tanpa penyelesaian, padahal publik menuntut solusi atas banyak problema. Jadinya kalimat “Bukan Saya” seakan menjadi fatwa untuk melegalkan sifat hipokrit yang diambilnya.

Berlaku jujur mungkin sulit bagi sebagian besar orang. Terkesan para pejabat menasbihkan diri sebagai orang yang selalu benar. Budayawan menyebut kalangan ini sebagai Borjuis. Perilaku feodal yang diwariskan era kolonial itu masih terasa kental.

Mereka yang telah merasa berkuasa tak suka dikritik.  Klaim bahwa pejabat selalu benar makin menciptakan skat terhadap kalangan proletar. Warga negara biasa jadi tak memiliki keberanian terhadapnya. Itu karena mereka dikondisikan sebagai abdi oleh mereka.

Kata jujur memang sarat makna. Kejujuran juga memiliki beragam tafsir. Semuanya melihat konteks, dan dipengaruhi oleh situasi dan kondisi.

Entah apa yang menjadi motif di balik ungkapan si Ucup tersebut kepada saya. Tampak sifat yang tak berbeda antara dirinya dengan para Ambtenaar yang sering saya temui. Yang pasti dia menyembunyikan sesuatu, yang mungkin, harus dia bungkus rapat di depan saya. (*)

Yogjakarta : 23 Oktober 2014. 

Dibaca : 839x
FB
Ada 1 komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Senin, 27 Oktober 2014 07:38
Esai yang bagus. Biasanya pejabat memang seperti itu. MUnafik dan lari dari tanggung jawab kalau ada masalah.
Bambang S
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan