Hitam Putih Koplaan

Senin, 09 September 2019, Dibaca : 260 x Editor : nugroho

Ist
Sugie Rusyono


SuaraBanyuurip.com

           Oleh : Sugie Rusyono

“Ada TV ditengah ditopang dengan tiang besi,” itulah yang sedikit aku ingat dari Koplaan masa lalu. Kala itu sekitar tahun 1990 saat masih duduk di bangku SMP. Ayahku tiap sebulan sekali usai menjemput sekolah dengan Astrea Prima selalu mampir ke Koplaan untuk membeli satai.  Bagi penulis makan satai di koplaan terasa enak. Setiap di tempat itu aku selalu memperhatikan TV tersebut,  kadang dihidupkan kadang mati. Tetapi lebih banyak matinya,  masih hitam putih tetapi menjadi daya tarik, itu merupakan ikon tersendiri Koplaan kala itu. 

Baca Lainnya :

    Pada tahun 1990 lagi ramai perang Iraq-Iran, disitulah untuk pertama kalinya kenal koran yang memuat berita perang yang legendaris itu. Dari situlah akhirnya kenal koran dan membelinya jika ayah menjemput sekolah. Jarak rumah dengan sekolah cukup jauh  8 km naik sepeda onthel.  Saat inipun kalu beli koran di koplaan masih ada yang menjualnya, bahkan hingga hari gelap.

    TV di koplaan kemudian hilang seiring dengan dibangunnya gedung bioskop, hilangnya TV juga hilangnya satai langganan ayahku. Sejak itu jarang membeli satai di koplaan, paling-paling hanya lontong tahu dan soto, itupun sambil liputan bersama rekan wartawan kompas kala itu setiap menjelang lebaran. 

    Baca Lainnya :

      Secara persis tahun berapa Komplek Koplaan dibangun penulis tidak paham, tetapi melihat jejak bangunan ada kemungkinan bersamaan dengan Pasar Iduk yang kini telah menjadi puing. Komplek koplaan sendiri bisa dikatakan menjadi pusat kuliner di Blora, khususnya satai, soto dan lontong tahu. Kuliner apapun yang kita inginkan tanpa menguras isi kantong bisa kita santap dengan suasana santai dan beragam aroma yang khas. 

      Sebelum di bongkar awal tahun 2019, setiap liburan sekolah, liburan idul fitri. Koplaan selalu penuh, mobil berplat luar Blora berjejer memenuhi area parkir.  Tangan-tangan penjual begitu trampil membakar tusuk demi tusuk satai agar cepat matang.  Asap putih tiada putus bercampur aroma khas menandakan ramainya pembeli. 

      Pada lebaran kemarin, pemandangan itu tidak aku temukan lagi, musim lebaran kali ini hanya tiang-tiang dari besi yang berdiri. Seng berjajar rapi memagarinya, “Pedagang/Penjual pindah sementara di barat LP” aku baca di tulisan menempel pada seng yang ada.
      “Apakah dilokasi baru penjual satai dan lainnya juga merasakan ramainya pembeli saat lebaran kamarin,” pikirku dalam hati.  Atau juga saat hari-hari biasa tidak ngepasi lebaran dan liburan, tetap ramai atau menjadi sepi. 

      Sesekali, saya  lewat di timur rutan Blora, beberapa lapak berjejer dengan tulisan masing-masing. Saat itu sekitar pukul 11:00 WIB, panas cukup terik dan berkeringat. Motor matikku sengaja aku pelankan, ada beberapa yang buka dan yang tutup. Yang buka dan berjualan itupun terlihat sepi, kendaraan yang lewat cukup padat, sebab berada di jalur bus, truk dan kendaraan berat lainnya dari arah Purwodadi/Semarang. Hari itu memang tidak ingin mencicipi kuliner, kalau satu warung saja hati kecil saya tidak enak, “yang tidak saya beli nanti gimana?” 

      Kini koplaan kembali akan berubah wajah entah yang keberapa kali. Bagi pedagang atau penjual yang berjualan dari awal, tentu ada kenangan dan cerita yang tidak bisa dihapuskan. Tak kecuali para pembeli yang sudah biasa di Koplaan.  Berubah tentu akan menjadi lebih bagus dari yang dulu. “Akan menjadi pusat kuliner di Blora,” 

      Apapun itu, wajah koplaan masa kini harus tetap memberikan kepastian dan keberkahan bagi pedagang yang nantinya berjualan. Seluruh pedagang yang dulunya menempati haruslah kembali berjualan di sana. Sebab merekalah yang selama ini menjadi bagian dari Koplaan dan merasakan hitam putihnya koplaan. Manakala koplaan dengan wajah baru yang mungkin lebih milenial, justru pedagang lain yang menempatinya, seperti yang selama ini sering kali terjadi. 

      Koplaan harus menjadi lebih ramai dan didatangi oleh penikmat kuliner. Harga bersahabat dengan isi dompet, ramah dan humanis.   Apapun itu Koplaan tetap akan menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah Blora. Koplaan tetap menjadi sumbu bagi aktivitas kuliner dan panganan lainnya di kotai Satai.

      Nama Koplaan harus tetap ada, jangan nanti diubah menjadi BLOK K atau BLOK P atau Blok lainnya, seperti penamaan sejumlah tempat yang selesai di revitalisasi.  Semoga.....

      Penulis adalah pecinta literasi di Blora.


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more