Kamis, 21 September 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Impian Menggunung Yang Mulai Sirna

Editor: samian
Minggu, 06 Desember 2015
SuaraBanyuurip.com/Sasongko
PENGURANGAN : Ribuhan tenaga kerja proyek Banyuurip tak lama lagi akan dikurangi dan ribuan calon pengangguran akan terjadi.

SuaraBanyuurip.com

Oleh : Samian Sasongko

GEMERLAP proyek Ladang Minyak dan Gas Bumi (Migas) Banyuurip yang bersentra di Kecamatan Gayam, Kabupten Bojonegoro, Jawa Timur, tak terasa telah mulai masuki empat tahun dalam pengerjaan proyek Engineering, Procuremen, and Construktion (EPC), Banyuurip, Blok Cepu.

Dengan berputarnya jarum jam dan bergantinya hari tak terasa pula proyek yang dikerjakan oleh kontraktor pelaksana PT Tripatra - Samsung dan PT Hutama Karya - PT Rekayasa Industri (HK-Rekind) tersebut juga mendekati rampung.

Tak heran jika semula proyek yang di operatori ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) itu sempat menjadi impian yang menggunung bagi warga desa sekitar, hingga luar daerah Bojonegoro agar dapat membuka peluang pekerjaan dan usaha yang ditangkap dari proyek tersebut.

Mereka mengimpikan terciptanya ribuan peluang tenaga kerja dan usaha. Sehingga akan dapat menumbuhkan multiplier effect atau efek ganda. Mega proyek Banyuurip yang konon memiliki sumber terbesar se-Asia ini pun bak gadis cantik yang tak sedikit yang ingin berebut.

Disisi lain masyarakat menaruh harapan dari proyek negara ini mampu menciptakan kemakmuran. Bagi mereka, keterlibatan ikut dalam proyek adalah konsekuensi logis yang harus dilaksanakan para kontraktor lokal maupun dari luar daerah. Melibatkan masyarakat lokal semacam sebagai syarat mutlak yang harus dipenuhinya.

Selain merasa sebagai tuan rumah, melibatkan masyarakat lokal dinilai dapat meminimalisir gejolak sosial. Terlebih Pemerinntah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro membuat Perda Nomor 23 Tahun 2011 tentang konten lokal sebagai payung hukum.

Waktu demi waktu telah terlewati, beragam dinamika mengiringi perjalanan proyek EPC Banyuurip. Mulai aksi unjuk rasa hingga perubahan sosial ekonomi warga sekitar.

Belakangan rasa resah mulai bekecamuk menyelimuti para pekerja dan pengusaha lokal sekitar lokasi proyek. Karena bangunan konstruksi pengerjaan EPC baik EPC 1 maupun 5 telah berdiri megah ditengah pemukiman warga tersebut. Tak hanya pekerja, para kontraktor lokal yang turut terlibat di proyek juga mulai sadar jika pekerjaan proyek tidak selamanya namun bersifat sementara.

Proyek yang semula banyak diperebutkan itu bisa dibilang belum sepenuhnya dinikmati tapi kini telah berangsur habis. Seakan telah menyirnakan impian masyarakat yang semula menggunung. Sebab seiring dengan handak rampungnya pekerjaan proyek dipastikan ribuan tenaga kerja dalam hitungan hari juga akan segera lepas dari pekerjaan yang selama ini digelutinya. 

Tak cuman itu saja, para pembuka warung penyedia makanan dan minuman ringan yang semula menyemut disekitar lokasi untuk mengais secuil berkah dari para tenaga kerja proyek kini satu persatu juga mulai sirna.

Kenyataan riil ini tentu membuat kondisi desa sekitar akan kembali membeludak pula pengangguran warga yang ada. Sebab akan bekerja bertanipun dipastikan kesulitan akibat ratusan hektar lahan pertanian telah habis terbebaskan untuk kepentingan proyek Blok Cepu.

Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi pemangku kebijakan untuk segera mecarikan solusi. Agar pengangguran warga usia kerja tidak semakin menggunung, dan tentunya gejolak sosial masyarakat pun bisa diminimalisir. (*)

Penulis adalah Wartawan Suara Banyuurip

Dibaca : 586x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan