Minggu, 17 Februari 2019
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Industri 4.0 Migas Tak Lagi Jadi Primadona

Editor: samian
Minggu, 10 Februari 2019
Ahmad Sampurno
Kepala SKK Migas, Dwi Sutjipto, saat mengisi kuliah umum di PEM Akamigas.

SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Blora - Era industri 4.0 sektor Minyak dan gas Bumi (Migas), disinyalir tidak lagi menjadi primadona industri. Pada era industri 4.0 Migas mengalami beberapa hal yang perlu dicari solusi.

Menurut Kepala SKK Migas Dwi Sutjipto, pada saat sekarang perusahaan Migas tidak lagi menjadi perusahaan yang besar. Padahal pernah jaya pada beberapa tahun silam. Di jelaskan bahwa transformasi ini membutuhakan revitalisasi untuk menghadapi industri 4.0.

"Hal yang   selalu ditekankan adalah efisiensi dalam menghadapi persaingan industri oil and gas," kata Dwi Sutjipto, saat menyampaikan kuliah umum di PEM Akamigas, Minggu (10/2/2019).

Untuk menghadapi transformasi oil and gas ada beberapa transformasi. Pertama,  mengubah cost recovery menjadi gross split, dengan tujuan untuk menarik investor asing.

"Pada saat ini ada 74 cekungan dan 128 cekungan yang belum tereksplorasi," ungkap mantan Petinggi Pertamina ini.

Kedua, lanjut dia, pemanfaatan gas yang mencakup semua sektor. Karena pengembangan dan cadangan gas sekarang mulai meningkat. Ketiga, transformasi pengembangan Migas dari Indonesia Barat ke Indonesia Timur. Lalu ke-empat,  transformasi dari Shallow ke Deep Target, yang bertujuan untuk efesiensi. Adapun yang ke-lima, tranformasi dari bahan Bakar ke petrokimia. 

Lebih lanjut dia mengungkapkan, saat ini rasio tenaga kerja asing semakin menurun dibandingkan tenaga kerja Indonesia. Permintaan tenaga kerja Indonesia akan semakin meningkat. Mengingat saat ini masih ada 216 perusahaan Migas yang beroperasi di Indonesia. Sehingga akan membuka lapangan kerja yang besar bagi lulusan perguruan tinggi dan SMK untuk terjun di industri Migas.

Indonesia harus berupaya dalam pengembangan untuk menutupi kekurangan minyak menjadi eksportir minyak seperti beberapa tahun lalu. Karena Indonesia pernah menjadi eksportir, maka diharapkan lulusan perguruan tinggi bisa mengembangkan teknologi migas. Sehingga Indonesia bisa kembali mamenjadi eksportir. 

"Hal ini menjadi tantangan bagi lulusan perguruan tinggi," ungkapnya. (ams)

 

Dibaca : 836x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>