Minggu, 21 Oktober 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Industri Hulu Migas Indonesia Sudah Uzur

Editor: nugroho
Senin, 12 Februari 2018
Ahmad Sampurno
Mantan Wamen ESDM, Susilo Siswoutomo.

SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Blora - Produksi minyak di Indonesia sekarang ini lebih rendah dibanding kebutuhan minyak yang harus dipenuhi. Produksi rata-rata minyak nasional 831.000 barel per hari (bph), sedangkan kebutuhan dalam negeri sebesar 1,6 juta bph. 

Menurut mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral ( ESDM) tahun 2013 - 2014, Susilo Siswoutomo, tidak tercapainya produksi sesuai kebutuhan saat ini lantaran industri hulu migas dalam negeri telah mencapai usia lanjut. Sehingga butuh biaya lebih banyak untuk memacu produksi minyak di tanah air. 

"Ibaratnya, nenek usia 70 tahun jika dibandingkan dengan gadis 20 tahun dan disuruh lari, kira-kira lebih cepat mana dan berapa kilo meter yang bisa dicapai ?" kata Susilo Siswoutomo memberikan ilustrasi saat berada di Polikteknik Akamigas Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.

Meski demikian, lanjut ria yang saat ini menjabat Komisaris Utama PT Saka Energi Indonesia, anak usaha PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk, Indonesia pernah mencapai kenjayaan produksi minyak di era tahun '70-an.

"Dulu penemuan cadangan minyak besar-besar. Produksinya mencapai 1,2 sampai 1,3 juta bph," ungkapnya saat berbincang dengan wartawan.

Bahkan, menurut dia, dalam satu lapangan pengeboran ditemukan 100% minyak. Berbeda dengan kondis saat ini, karena  cadangan juga terbatas dan sering dipompa sehingga cadangan semakin menipis. 

Dalam kurun waktu 30 tahun sampai 40 tahun, minyak yang berhasil diangkat dari total produksi cairan dalam tahah, kandungan minyaknya hanya 1% sampai 2%.

"Jadi produksi 100 liter cairan itu, minyaknya hanya 1-2 liter sisanya air," tuturnya.

Karena air tidak bisa dibuang di sungai yang bisa berdapampak pencemaran, akibatmya perlu pompa besar dan listrik yang besar untuk menginjeksikan air kembali kedalam tanah.

"Itu kenapa produksinya turun dan dan biaya naik. Ibaratnya nanek-nenek tadi yang mau disuruh lari, pudingnya bagaima, remasonya dan ambulannya juga harus siap. jauh berbeda dengan gadis 20 tahun tadi. Itu lah sebabnya, cost recovery selama ini jauh lebih besar," tandasnya. 

Sekarang ini jarang penemuan-penemuan cadangan minyak. Ditambah dengan lokasi yang cukup jauh.

"Kira-kira uang dari mana, negara punya duit. Itulah alasannya ada sistem production sharing contra. Kalau tidak ada orang punya duit masuk ke tanah kita, kita duit dari mana, mau ngutang kemana untuk ngebor," jelasnya. 

Saat disinggung apakah industri hulu migas masih menjadi primadona di indonesia, dia tidak banyak berkomentar. Hanya saja dia menegaskan yang menentukan primadona atau tidak bukan pemerintah Indonesia yang mengatur.

"Saat ini posisi Indonesia kurang bagus," tandasnya.

Dalam sektor ini, Indonesia bukan menjadi investor chois untuk investor migas. Menurut Susilo, sekarang ini ada pemain besar enggan berinvestasi di Indonesia. Hal itu bukan karena kondisi sudah terlalu tua .

"Yang jadi masalah adalah sistem fiskal, investasi, perijinan, kemudian kemudahan investasi," tandasnya. 

Siswo kembali menegaskan yang menjadi persolan selama ini pertama adalah kepastian hukum dan perijinan. (ams)   

Dibaca : 277x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan