Selasa, 11 Desember 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Ingin Lingkungan Nyaman, Warga Rela Kredit Jamban

Editor: nugroho
Minggu, 19 November 2017
ririn wedia
TIMBA AIR : Reni saat mengambil air di sumur yang berada di tengah hutan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

SuaraBanyuurip.com

Lingkungan Desa Turi, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, semakin nyaman karena warga mulai memiliki jamban.

HIDUP di pinggiran hutan dengan segala keterbatasan dialami Ngasiem (45), warga Dusun Balong, Desa Turi, selama berpuluh-puluh tahun. Untuk mendapatkan air bersih, terutama saat musim kemarau, dia harus berjalan kaki hingga satu kilo meter ke dalam hutan untuk menemukan sumber air.

Di dalam hutan itu hanya terdapat satu sumur. Sumur tersebut  selama ini menjadi gantungan hidup warga satu dusun untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.

Karena hanya ada satu sumur, Ngasiem, tak jarang harus menginap di hutan setiap musim kemarau datang untuk menghindari antrean mendapatkan air bersih.

“Warga sini sudah biasa seperti itu,” ucap Ngasiem kepada suarabanyuurip.com saat melakukan kunjungan lapang program water.og yang dilaksanakan bekerjasama dengan Koperasi Mitra Duafa (Komida).

Air yang didapat kemudian ditandon untuk kebutuhan masak dan cuci. Sedangkan untuk mandi, Ngasiem lebih memilih mandi di sekitar sumur.

“Biar air yang ditandonya tidak cepat habis,” ucapnya.

Selain sulitnya sumber mata air di Dusun Balong, himpitan ekonomi menjadikan warga tidak mampu membangun sanitasi yang layak.

Mayoritas Warga Balong adalah pesanggem. Petani penggarap lahan perhutani. Sedangkan lahan yang digarap merupakan sawah tadah hujan (pertanian yang hanya mengandalkan air hujan). 

Karena alasan itulah, jangankan membuat jamban keluarga, memiliki kamar mandi saja masih sebatas mimpi warga Balong.

“Kalau mau buang air besar ya ke jomblang umum. Tempatnya di hutan sana," kata Ngasiem polos. 

Jomblang merupakan sebutan untuk lubang besar dengan dua kayu sebagai penahan ketika jongkok saat buang air besar. Hanya ada penutup terbuat dari kain sekedarnya yang melingkar dengan tiang kayu berukuran kecil. 

"Di tempat kami satu dusun ini belum ada yang punya jamban. Meskipun rumahnya bagus juga tetap pakai jomblang,” imbuhnya. 

Kondisi sama juga dialami Reni (40). Meskipun dia sudah memiliki kamar mandi, tapi belum ada jambannya. 

Reni baru akan mengajukan pembangunan jamban dengan meminjam uang dari Koperasi Mitra Dhuafa (Komida). Awalnya, saat membangun kamar mandi, dia memgambil bantuan dari Komida sebesar Rp4 juta.

“Sekarang sedang mengajukan pinjaman lagi untuk pembangunan jamban sebesar Rp5 juta," sambung Reni.

Pinjaman tersebut merupakan program dari Komida sebagai upaya memberikan program sanitasi yang baik dan layak serta ketersediaan air bersih. 
Staf Lapang Komida Kecamatan Tambakrejo, Siboby Slamet, menjelaskan pinjaman umum di awal yang diberikan kepada anggota sebesar Rp2 juta yang diangsur selama 50 minggu. 

“Setelah satu tahun, baru kemudian bisa pinjaman khusus sanitasi," tukasnya.

Di Desa Turi, Kecamatan Tambakrejo, dari anggota berjumlah 14 orang baru enam orang yang sudah mengajukan pinjaman sanitasi dengan jumlah pinjaman maksimal Rp6 juta.(ririen wedia)

Dibaca : 591x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>