Kamis, 21 September 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Ironi Bumi Wali

Editor: teguh
Sabtu, 08 Desember 2012
istimewa
MASJID TUA : Masjid agung Tuban ini kini tinggal kenangan. Meski telah dicagarkan, namun masjid ini telah hilang bentuk aslinya.

 

DALAM catatan sejarah berdirinya Majapahit, Tuban memiliki peran sangat besar. Bahkan pemimpin tlatah Tuban, kala itu, Ranggalawe, memiliki andil yang sulit ditakar besarnya, sehingga Dyah Sanggrama Wijaya yang kemudian bergelar Raden Wijaya mendirikan Majapahit.

Semasa kekuasaan Majapahit menghegemoni nusantara hingga manca negara, Tuban dengan hampar pantainya mampu berperan dalam sektor perniagaan. Konon, pelabuhan Tuban, menjadi pintu masuk para pedagang asing memasuki tanah Jawa.

Bahkan, jauh hari sebelum Majapahit berdiri, pelabuhan ini menjadi sentra pendaratan tentara Tar-tar sebelum menyerang Singasari. Dalam dongeng orang-orang tua di Tuban, Ranggalawe pula yang mengagitasi warganya untuk menyerang tentara dari negeri Jengis Khan itu hingga tercerai berai.

Setelah Majapahit runtuh diikuti berdirinya Kerajaan Demak Bintoro, Tuban juga masih memiliki peran terhadap masuknya Islam di pulau Jawa. Setidaknya Sunan Kalijaga yang merupakan satu-satunya Sunan (dari sembilan wali) terlahir dari Tuban. Putra Bupati Tuban, Raden Wilwatikta,yang  terlahir dengan nama, Raden Said, ini memiliki peran besar dalam meng-Islam-kan Jawa melalui media seni budaya.

Banyak pula makam Wali dan Auliya yang ada di Tuban. Sebut saja, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Bejagung, Sunan Geseng, Asmara Qondi, dan masih banyak lagi wali yang dimakamkan di perut bumi Tuban. Oleh karena itu Tuban, banyak disebut-sebut sebagai Bumi Wali. Kawasan daerah, yang diyakini oleh sementara warganya sarat barokah, karena di perutnya tersimpan jasad para wali.         

Tuban adalah legenda dengan hitam putih risalah sejarahnya. Daerah dengan luas 1.904,70 Km2 yang terbagi dalam 20 wilayah kecamatan ini termasuk kota tua. Terhitung pada tahun 2012 ini memasuki usia ke 719. Catatan hari jadi Tuban, menurut sejarah Tuban, diambil bersamaan wisuda Ranggalawe sebagai Adipati di Tuban oleh Raden Wijaya, sebagai bagian dari wilayah Majapahit. Meskipun sebelum Majapahit berdiri Tuban sudah ada.

Dari berbagai sisi Tuban memang menjanjikan. Tuban juga memiliki potensi alam yang sulit ditandingi daerah lain. Hamparan pantai sepanjang 65 Km dari wilayah Kecamatan Palang hingga Kecamatan Bancar, sangat potensial untuk dikembangkan sebagai area bisnis. Apalagi wilayah yang dihuni 1.117.539 jiwa penduduknya ini kawasan pedalamannya terdapat aneka sumber daya alam.

Dalam peta Geologi, daerah ini juga dilintasi gugusan pegunungan Kendeng, dari Purwodadi (Jawa Tengah) hingga Surabaya. Kawasan pegunungan kars yang sangat bagus untuk industri semen. Bahkan menjadi incaran investor dalam dan luar negeri.

Di wilayah ini potensi minyak dan gas bumi juga ada. Paling tidak ladang migas Blok Cepu, Blok Tuban, maupun sederet sumur-sumur minyak dan gas tua ada di wilayah ini. Diantaranya, di wilayah Kecamatan Senori, Singgahan, Soko, Widang, Parengan, Rengel, Merakurak, dan Kecamatan Plumpang. 

Sayangnya potensi yang dimiliki daerah ini tak disikapi dengan kearifan yang serius oleh pemegang kebijakan disana. Entah karena ketidakmampuan akibat keterbatasan pengetahuan, atau terjadi praktik pembiaran sehingga potensi tersebut dieksploitasi tanpa kontrol serius. Itu sudah berlangsung sejak medio awal 1990-an hingga saat ini.

Sekalipun mengantongi ijin PT Semen Gresik Tbk, perusahaan milik pemerintah, telah menggerogoti kawasan kars di Bumi Wali. Hampar wilayah pegunungan kars di wilayah Kecamatan Merakurak, dan Kecamatan Kerek telah habis-habisan digali, dengan reklamasi lamban. Di sana lobang-lobang bumi menganga, menunggu dinyatakan paska tambang, untuk selanjutnya direklamasi.

Tak bisa disalahkan karena sistem tambang yang mereka gunakan, dan kebetulan di jaman Orde Baru dulu disetujui, adalah Single Continue Bench. Sistem ini mensyaratkan reklamasi setelah lokasi penambangan dinyatakan paska tambang.

Pula perusahaan pengolah batu kapur lain, seperti Pentawira Agraha Sakti perusahaan pemasok kebutuhan batuan kapur untuk PT Freeport di Papua. Lahan tambang mereka di wilayah Kecamatan Rengel tampak menganga, hingga kerusakan lingkungan pun tak bisa dielak.  Belum lagi tambang tradisional di wilayah Kecamatan Plumpang yang menjadi mitra perusahaan itu.

Belum lagi bakal produksinya pabrik semen PT Holcim Indonesia Tbk yang dijadualkan pada tahun 2014 mendatang. Dipastikan kawasan kars di wilayah Kecamatan Tambakboyo, dan Kecamatan Kerek bakal ditambang oleh perusahaan asing yang berbasis di Swiss tersebut.    

Praktik penambangan yang sudah ada saja telah mengoyak Bumi Wali, hingga mengancam kelangsungan mata air bawah tanah di sekitarnya. Wajar jika itu terjadi karena karakter batuan kars adalah berongga, dan batuan unik yang mampu menyimpan air. Bahkan, secara alamiah yang terbentuk sekian ribu tahun sebelumnya, batuan ini membentuk danau, dan sungai air bawah tanah. Apalagi jika PT Holcim melakukan penambangan, untuk memenuhi bahan produksi pabrik semennya.

Investor dalam maupun luar negeri memang dibutuhkan daerah. Akan tetapi besarnya nilai investasi harusnya tidak selalu dijadikan ukuran kemajuan. Apalagi jika dampak industri yang diusung memporak-porandakan keasrian lingkungan. Sungguh sebuah ironi yang mewarnai perjalanan sejarah dari daerah yang oleh warganya disebut Bumi Wali. (*)

Catatan : rakai pamanahan

 

Dibaca : 1452x
FB
Ada 2 komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Minggu, 09 Desember 2012 10:58
dan saya sepakat denganmu, Mbah Jari. yang jadi problem sekarang, bagaimana dengan corporate tambang yang sudah berjalan?
teguh rengel
Minggu, 09 Desember 2012 06:45
Pola investasi yang berbasis pada eksploitasi sumber daya alam terbukti tidak membawa dapak positif atau yang menguntungkan pada satu adaerah. pada prinsipnya setiap eksploitasi alam adalah perusakan pada alam itu sendiri. investor datang hanya untuk memeras suatu daerah, tidak pernah terfikir oleh mereka memakmurkan daerah itu. Bahkan bisa dikatakan seperti imperialis baru. Kita jangan terlalu berharap pada investasi asing kalau perangkat hukum dan aturan PMA kita belum siap. karena masih jauh panggang dari api apa yang kita angankan tentang kemakmuran. Yang kita harapkan sebetulnya adalah investasi yang berbasis Sumber Daya Manusia. Atau kalau tidak memungkinkan ya ada komitmen proporsional. bukan sekedar mengandalkan CSR. Karena tanpa itu kita bisa terjebak pada Eksploitasi manusia.
mbah djari
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan