Sabtu, 18 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Jadi Trend, Perajin Batu Akik Menjamur

Editor: nugroho
Minggu, 11 Januari 2015
totok martono
PERAJIN AKIK : Kusnan perajin batu akik Desa Nguwok, Kecamatan Modo, sedang melayani salah satu pemburu batu akik.

SuaraBanyuurip.com - Totok Martono

Lamongan- Trend  pemakaian cincin batu akik sebagai salah satu aksesoris berdampak pada menjamurnya perajin batu akik dalam setahun terakhir ini. Salah satunya perajin batu akik di Desa Nguwok, Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Para pecinta batu akik rela merogoh kocek hingga jutaan rupiah demi mendapatkan sebutir batu yang dipercayai memiliki yoni tersebut. Mereka harus rela bersabar menunggu mendapatkan barang idaman tersebut mengingat proses pembuatan batu akik juga membutuhkan waktu lama.

Salah satu pengepul dan perajin batu akik, Kusnan mengaku, cukup kewalahan melayani pesanan dari para pemburu batu akik. Para pemesan itu tidak hanya dari wilayah Lamongan dan sekitarnya, namun juga dari Jakarta dan luar jawa.

“Jumlah pemesannya cukup besar namun tidak bisa melayani semua karena minimnya perajin yang bisa membuat batu akik,” kata Kusnan kepada suarabanyuurip.com, Minggu (11/1/2015).

Selain harus memiliki skill (keahlihan) khusus, perajin akik harus memiliki jiwa seni dan ketekunan tinggi dalam mengukir batu akik. Dalam satu tahun saja, Kusnan mengaku hanya bisa membina lima orang perajin batu akik.

Dalam sehari rata-rata perajin hanya bisa menghasilkan 5-10 butir batu akik. Jumlah itu tergantung dari bahan baku batu akik dan tingkat kesulitan pengerjaannya. Untuk perbutir batu akik yang sudah jadi, Kusnan membayar Rp20 ribu- Rp30 ribu.

“Pemasarannya selain di Lamongan dan sekitarnya juga sampai Jakarta,” kata Kusnan, mengungkapkan.

Khusus untuk pemasaran di Jakarta pengirimanya sekitar satu bulan sekali dengan omzet sedikitnya Rp10 juta.  Jenis batu akik yang diproduksi Kusana beragam sesuai dengan bahan bakunya dari batu pacitan, kayu stigi, dan batu bacan. Yang paling faforit dan banyak diburu kolektor adalah batu bacan. Harganya paling murah Rp2 juta per butir. Bahan baku batu bacan didatangkan langsung dari Maluku.

Biasanya batu akik yang dijual sudah sekalian dengan emban (cincinya). Jenis emban juga beragam dari stenlis, alloy, perak dan titanium.

“Saya berkeinginan  dengan semakin ngetrennya batu akik sebagai aksesoris, akan tumbuh perajin-perajin akik di Desa Nguwok. Sehingga desa ini menjadi sentra perajin batu akik,” harap lelaki yang juga PNS di Kecamatan Sekaran ini.

Salah satu perajin akik, Kasnoto mengaku, menjadi perajin akik hasilnya cukup menjanjikan. Dalam sehari rata-rata dirinya bisa mendapatkan uang antara Rp150 ribu hingga Rp200 ribu.

“Membuat akik hasilnya jauh lebih besar dari pada menjadi buruh tani,” sambung Kasnanto.

Fenomena tumbuhnya perajin akik tersebut menurut Kolektor Akik Nusantara Nastanin cukup menggembirakan. Karena batu akik yang selama ini hanya di pandang sebelah mata, sekarang lebih naik pamor. 

“Saat ini batu akik bisa disejajarkan dengan batu mulia lainnya,” pungkas Nastain yang juga ketua kolektor akik (eks) Sekarisidenan  Bojonegoro ini.(tok)

Dibaca : 1831x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan