Sabtu, 18 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Jambaran

Editor: nugroho
Senin, 29 Oktober 2012
tbu
Gas dari salah satu sumur minyak yang terbuang.

SUMUR gas Jambaran adalah bagian dari wilayah ladang migas Blok Cepu. Sumur ini lokasinya tak jauh dari sumur gas Tiung Biru yang sebelumnya telah dikelola Pertamina EP Cepu. Masih berada di teritorial Kecamatan Ngasem, dan Kecamatan Tambakrejo di wilayah Kabupaten Bojonegoro, Jatim.

Jika Jambaran dan Tiung Biru dijadikan satu paket, diprediksi mampu menghasilkan gas sebanyak 200 juta kaki kubik per hari. Sedangkan deposit kandungannya diperkirakan mencapai 1,1 triliun kaki kubik. Potensi yang tidak main-main untuk sumur gas.

Semula terjadi tarik ulur terkait siapa yang akan mengelola, atau mengoperatori sumur Jambaran. Warga masyarakat desa sekitar pun disuguhi polemik tentang siapa paling layak menjadi operator Jambaran.

Jika mengacu pada Plant of Development (PoD) Blok Cepu yang diteken pada tahun 2006, mestinya operator Blok Cepu, Mobil Cepu Ltd (MCL) memiliki kuasa untuk mengelola Jambaran. Apalagi sumur gas di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jatim ini termasuk wilayah Blok Cepu yang menjadi wewengkon-nya. 

Akan tetapi BP Migas, pemegang otorita dari pemerintah di sektor minyak dan gas bumi di tanah air memiliki kebijakan lain. Entah ada deal bisnis apa dengan MCL. Yang pasti MCL rela melepas Jambaran kepada Pertamina.

Tak berbeda dengan fenomena lain di sektor migas. Sekalipun kesepakatan dan penunjukkan Pertamina sebagai operator Jambaran telah terjadi sejak sehari setelah peringatan hari Proklamasi 17 Agustus lalu, namun Jakarta terkesan merahasiakannya. Akibatnya melahirkan berbagai spekulasi di lapangan. Termasuk munculnya silang pendapat di kalangan masyarakat sekitar Jambaran.

Kondisi itu kian menjadikan opini liar terhadap MCL, maupun Pertamina yang saat ini mengelola sumur gas Tiung Biru yang masuk wilayah Blok Gundih. Warga mulai membandingkan berbagai program sosial yang telah dilakukan oleh kedua perusahaan tersebut. 

Program Corporate Social Resposibility  (CSR) yang dilakukan MCL pun, menjadi bias di kalangan warga. Berbagai kesulitan yang menimpa warga, termasuk masalah tenaga kerja   hingga dampak pemboran yang dirasakan di sumur minyak Banyuurip, kian menjadikan posisi MCL tak nyaman di mata warga yang kecewa.

Terbukti, perangkat desa sekitar Jambaran maupun warganya, lebih memilih Pertamina sebagai operator sumur gas tersebut. Sebagian lainnya—terutama yang merasakan dampak CS dari MCL—lebih mendukung anak perusahaan Exxon Mobil sebagai oeprator Jambaran. Padahal program CSR dari Pertamina terhadap warga sekitar sumur Tiung Biru juga tak begitu menghegemoni warga disana. Itulah warga masyarakat yang memiliki hak untuk bersuara. Sekalipun teriakannya sama sekali tak menjadi referensi Jakarta untuk menentukan siapa yang akan mengelola sumur Jambaran.

Terlepas dari siapa yang menjadi operator Jambaran, sumur gas ini akan menjadi keuntungan tersendiri bagi warga Bojonegoro. Sebagai daerah penghasil harusnya hal ini ditangkap Pemkab Bojonegoro sebagai peluang. Peluang ini idealnya dikawal sejak unitisasi Jambaran-Tiung Biru, termasuk saat penyusunan dukomen PoD.

Bila itu tak dilakukan Bojonegoro bakal mengulang tragedi Blok Cepu. Kala itu Pemkab Bojonegoro memang dapat bagian dari program Participating Interest (PI) 10 persen. Akan tetapi pada akhirnya, karena keterbatasan budged  APBD, menggandeng investor dengan komposisi bagi hasil 75:25 persen dari keuntungan PI. Pemkab Bojonegoro hanya mendapatkan 25 persen dari PI setelah dibagi biaya operasional. Itu pun baru akan dibayar setelah investasi yang digelontorkan investor lunas.

Kini eksploitasi sumur gas Jambaran sudah di pelupuk mata. Semuanya berpulang pada pemegang kebijakan dan politik di Bojonegoro untuk menentukan sikap. Apakah mau mengulang kesalahan sama seperti era awal Blok Cepu, atau merebut peluang untuk kepentingan kemakmuran rakyat. Yang pasti regulasi telah memberi kesempatan bagi Pemkab Bojonegoro untuk memperjuangkan hak warganya. (*)

tbu


Dibaca : 1010x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan