Selasa, 11 Desember 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Jasa HM. Santoso, Mantan Bupati Bojonegoro yang Dilupakan

Editor: samian
Rabu, 01 Agustus 2018
d suko nugroho
Mantan Bupati Bojonegoro, HM. Santoso duduk di belakang perempuan berkerudung merah muda menunggu antrean di Poli Jantung.
TERKAIT:

SuaraBanyuurip.com

Pengembangan wilayah selatan dan utara Bojonegoro yang terjadi saat ini tak lepas dari konsep program mantan Bupati Santoso. Sekalipun sekarang ini hari-harinya dihabiskan di balik terali besi karena kasus korupsi.

Seorang pria lanjut usia duduk di kursi antrean poli jantung RSUD Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro, Jawa Timur, Kamis (1/8/2018), siang pukul 11.25 WIB. Ia berbaur dengan pasien lain menunggu giliran panggilan dari pengeras suara dalam ruangan.

Sesekali pria berkacamata, dengan memaki baju warna coklat muda itu berbicara dengan orang di sampingnya. 

Dia adalah HM. Santoso, (70), mantan Bupati Bojonegoro periode 2003 - 2008. Badannya terlihat tak segemuk sepuluh tahun lalu. pun kulitnya tampak mulai keriput.

Namun demikian kulitnya lebih putih dibanding ketika dia masih menjabat orang nomor wahid di Kota Ledre (sebutan lain Bojonegoro). Selama ini hari-harinya dihabiskan di dalam sel tahanan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Bojonegoro sejak 2012. 

Santoso kala itu menjadi Bupati dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Pasca lengser jadi bupati 2008, selang empat tahun, Purnawirawan Kolonel TNI AD itu dijebloskan dalam tahanan karena terbukti melakukan tindak pidana korupsi pada 2012.

Ada dua kasus korupsi yang melilit Santoso. Yakni dana bantuan sosial APBD Bojonegoro 2007 sebesar Rp 6 miliar. Dia divonis hakim empat tahun penjara.

Kemudian korupsi dana pembebasan lahan Blok Cepu sebesar Rp3,8 miliar. Dia divonis 6 tahun penjara pada 2014. Sehingga total hukuman yang harus dijalani selama 10 tahun.

Kasus pembebasan lahan Blok Cepu ini menyeret sejumlah mantan pejabat Pemkab Bojonegoro yakni Sekretaris Daerah, Bambang Santoso, dan Asisten I Kamsoeni. Sekalipun semua Forpimda dan mayoritas kepala organisasi perangkat daerah (OPD) kala itu menerima aliran dana pembebasan lahan dari Operator Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limted. 

Siang itu, Santoso datang ke Poli Jantung tanpa pengawalan dari pihak lapas. Dia hanya di dampingi pengacaranya. 

"Mau kontrol. Nunggu dokternya belum datang," kata Santoso saat suarabanyuurip.com menghampiri dan memperkenalkan diri.

Mantan Kepala Bulog itu mulai kontrol rutin setelah awal Januari 2018 lalu, opname di Rumah Sakit Aisyiyah karena penyakit jantung. Saat itu Cabup Bojonegoro, Soehadi Moeljono sempat menjenguknya. 

"Sekarang rutin kontrol tiap sebulan sekali," ucapnya.

Tidak ada perlakukan istimewa yang diberikan pihak RUSD terhadap mantan Bupati Santoso. Sekalipun keberadaan rumah sakit di Jalan Veteran ini merupakan salah satu hasil peninggalan masa pemerintahaannya.

Rumah sakit yang rencananya didesain bertaraf internasional itu sempat terbengkalai beberapa tahun setelah Suyoto menjabat menggantikan Santoso. Alasan tidak difungsikannya rumah sakit itu oleh Suyoto karena Bojonegoro tak memiliki cukup anggaran untuk mengoperasikannya.

Dalil lainnya, pembangunan tempat pelayanan kesehatan tersebut merupakan peninggalan masa pemerintahan Santoso, bukan pemerintahannya.

Namun akhirnya, rumah sakit yang berada dekat dengan pemboran migas Lapangan Sukowati, Blok Tuban, itu akhirnya ditempati setelah sejumlah elemen masyarakat mendesak agar dioperasikan karena rumah sakit yang lama sering kali overload.

Begitupun sejumlah pasien yang duduk di dekat Santoso tidak banyak yang mengetahui jika di sampingnya itu adalah orang yang pernah memimpin Bojonegoro. Mereka terlihat begitu cuek, tak memperhatikan.

"Masak itu Pak Santoso, Bupati Bojonegoro dulu. Sekarang kelihatan kurus sekali, dan tua," ujar Sutikno, warga Sendangrejo, Kecamatan Dander, yang saat itu juga mengantre di Poli Jantung.

Dalam kesempatan itu, Santoso juga menceritakan kepada suarabanyuurip tentang rencana pembangunan Bojonegoro pada masa pemerintahannya. Diantaranya pengembangan Bojonegoro yang diarahkan ke wilayah selatan dan utara, karena wilayah timur dan barat sudah tidak memungkinkan lagi. 

"Dulu tanah di wilayah Sumbertlaseh ke selatan itu murah sekali. Per meter perseginya tidak sampai Rp50 ribu. Sekarang sudah naik di atas Rp500 an ribu," tuturnya.

Saat ini, di wilayah selatan tumbuh perumahan begitu pesat. Mulai Desa Sumbertlaseh, Ngumpakdalem, hingga Desa Dander, usaha perumahan tumbuh subur.

Untuk pengembangan di wilayah utara, lanjut dia, saat itu dibangun jembatan Kalitidu - Malo yang membentang di atas Sungai Bengawan Solo. Saat itu ada tiga jembatan yang menjadi rencana Santoso untuk menghidupkan wilayah utara.

Yakni Jembatan Padang - Kasiman yang sudah terealisasi. Jembatan Bojonegoro - Trucuk yang sekarang ini menunggu penyelesaian, dan Jembatan Kanor - Rengel, Tuban, yang belum terealisasi.

"Pembangunan jembatan-jembatan itu adalah rencana saya saat itu agar wilayah utara bengawan berkembang, tidak terisolir," ungkapnya. 

Bagi Santoso, semua gagasannya itu tinggal kenangan. Sekalipun dari ide membangun Bojonegoro tersebut sebagian telah direalisasikan bupati penggantinya.(suko)

Dibaca : 4076x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>