Selasa, 21 Mei 2019
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Kartini Blok Cepu Bangkit Bersama Komida Tingkatkan Ekonomi

Editor: nugroho
Minggu, 21 April 2019
ririn wedia
TINGKATKAN SDM : Perempuan Blok Cepu mendapat pelatihan kewirausahaan dari EMCL untuk tingkatkan ekonominya.

SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia

Bojonegoro - Kartini, istri seorang adipati di Rembang, Jawa Tengah telah menjadi simbol kebangkitan perempuan. Bangkit dari stigma bahwa perempuan berada di kelas sekunder. Melawan persepsi dan perlakuan diskriminasi dari kebanyakan orang.

Kartini, dulu menulis surat. Menghimpun dukungan. Dia berusaha dengan segenap kemampuannya, yang akhirnya berhasil membuka mata dunia. 

Kartini masa kini tentu punya cara yang berbeda. Di era persaingan ekonomi global sekarang ini, perempuan harus mampu menunjukkan eksistensinya dalam membangun ekonomi. Menjadi pilar pembangunan di masyarakat.

Pikiran itu terbesit di benak Sumiyatin. Perempuan asal Desa Padangan ini memulai usaha produksi tahu. Dengan usahanya, dia ingin bisa menghidupi keluarga dan membuka lapangan kerja bagi tetangganya.

Kerja keras dan tekad yang kuat membuat usahanya semakin maju. Kini dia bisa mempekerjakan 8 pekerja dari warga sekitar.

“Alhamdulillah, hanya ini yang bisa saya lakukan,” ucapnya merendah ditemui di sela-sela memproduksi tahu, Minggu (21/4/2019).

Sumiyatin yakin, usahanya akan terus berkembang dengan dukungan dari Koperasi Mitra Dhuafa (KOMIDA). Sebuah koperasi yang mengadopsi sistem grameen bank yang dikembangkan peraih nobel, Muhammad Yunus di Bangladesh. 

Komida bergerak mendampingi dan memberi pinjaman usaha khusus untuk perempuan. Kehadiran Komida di Bojonegoro, khususnya di wilayah operasi ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) memberi harapan tersendiri bagi para perempuan yang memiliki semangat Kartini masa kini.

Senada disampaikan, Liniswati dari Desa Ngulanan. Ia punya cerita sukses. Perempuan yang biasa disapa Susi ini mengaku usahanya semakin meningkat ketika bergabung di Komida. 

Susi bergabung di Komida pertama kalinya langsung mengajukan pinjaman Rp750.000. Uang pinjamannya itu dia gunakan untuk membuka usaha produksi tempe sama tahu. Usaha terus berkembang, hingga dia mengajukan pinjaman yang kedua.

“Saya bikin buat modal pengembangan usaha keripik tempe sama peyek, sampe sekarang sudah 8 tahun,” kisahnya.

Susi mampu melunasi pinjamannya dengan baik. Dia pun menularkan semangatnya kepada anggota yang lain.

“Terus yang terakhir ini saya pinjam Rp3.000.000,- lagi. Saya yakin akan terus berkembang,” pungkasnya semangat.

Bukan hanya Sumiyatin dan Liniswati yang berhasil bangkit meningkatkan ekonominya. Ada lebih dari 12 ribu perempuan binaan Komida. Sejak diprakarsai EMCL tahun 2009, Komida terus bergerak secara mandiri dan berkelanjutan.

“Tahun ini kita akan bekerjasama lagi dengan EMCL,” ucap Bambang, manajer Komida Bojonegoro.  

Bambang mengaku Komida berkembang  cukup pesat. Dalam 3 tahun terakhir ini saja, sudah bertambah setidaknya 3 ribu anggota.

“Di sini kita mempunyai syarat calon anggota kita. Yang pertama, harus perempuan. Yang kedua, memang benar-benar digunakan untuk usaha anggota,” tutur Bambang.

Harapannya, kata dia, Komida bisa berkelanjutan melayani masyarakat berpendapatan rendah, khususnya perempuan. Perempuan yang mereka bisa meningkatkan pendapatan keluarga mereka, kesehatan mereka, serta pendidikan bagi anak-anak mereka.

“Tentunya saat ini memang sudah waktunya perempuan itu tidak hanya duduk diam di rumah saja, tapi bagaimana juga dia bisa mengakses dirinya untuk bisa mandiri melalui usaha-usaha yang sudah dibuka oleh Pemerintah selama ini,” imbuhnya.

Bambang menjelasakan Komida memfasilitasi kebijakan-kebijakan yang berpihak pada perempuan bagaimana supaya dalam melakukan aktivitas usaha perempuan tadi terlindungi.

“Karena Komida ini kan masuk ke dalam koperasi simpan pinjam yang saat ini aktif,” ucapnya.

Aktif dalam arti dia bisa menjalankan aktivitas organisasinya, kelembagaannya juga bagus, manajemennya juga kuat, modalnya juga kuat sehingga tinggal bagaimana membina dan bagaimana supaya koperasi mitra dhuafa ini tidak hanya pengembangan simpan pinjam saja, tapi juga ada kegiatan-kegiatan usaha lainnya.

Sehingga pendapatan dari anggota semakin meningkat. Dengan mengikuti pelatihan yang diprakarsai ExxonMobil, mereka jadi tahu apa itu NPWP, apa itu harus izin dinas.

"Bahwa kita harus punya barcode, dulu saya juga belum tahu, sekarang sudah tahu. Makasih banget sama ExxonMobil," pungkasnya. (rien)

 

Dibaca : 370x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan