Kamis, 13 Desember 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Karya Figurative Dominasi Pameran Seni Rupa Tuban Gumegrah

Editor: samian
Sabtu, 29 September 2018
Ali Imron
SIMBOLIS : Ketua panitia pameran Najib Amrullah serahkan cenderamata kepada Wabup Tuban.

SuaraBanyuurip.comAli Imron

Tuban- Wakil Bupati Tuban, Jawa Timur, Noor Nahar Hussein, resmi membuka Pameran Seni Rupa Tuban Gumegrah di Gedung Budaya Loka Jalan Basuki Rahmat Tuban yang didominasi karya figurative.

Pameran yang masuk dalam rangkaian kegiatan Tuban Art Festival (TAF) ke-3, program tahunan Dewan Kesenian Tuban (DKT) ini melibatkan puluhan perupa asal Tuban yang telah beraktifitas seni di berbagai kota.

Ketua panitia pameran seni rupa, Najib Amrullah, menjelaskan, melalui acara ini diharapkan menjadi wadah berkumpulnya para perupa Tuban. Sekaligus membangkitkan semangat lagi berproses kesenian, berolah kreatif agar selalu bangkit, gumegrah.

Menurut hikayat, Tuban dahulu sebuah legenda pelabuhan terbesar di jaman keemasan Majapahit. Selain itu, jika tiada aral akan pula menyongsong era industri dengan tidak tanggung-tanggung, Kilang Minyak NGRR Tuban termodern di dunia berdiri di Kecamatan Jenu.

"Mari segera berbenah, bangkit, dan naikkan bendera kalian tinggi-tingi. Songsong masa depan Tuban penuh gemilang, dengan gagah berani segagah Ronggolawe, sesakti Sunan Bonang, dan sebijak Sunan Kalijaga," ujarnya dalam sekapur sirihnya yang diterima suarabanyuurip.com, Sabtu (29/9/2018).

Sementara, Ketua TAF, R.W. Adyaksa, berharap, TAF ini dapat membangun ruang keindahan dan kesadaran, sehingga empati, toleransi, dan kasih sayang bisa terbangun, dan terjaga.

Di sambung Ketua DKT Tuban, Djoko Wahono, juga berharap pameran seni rupa Gumegrah dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap nilai-nilai seni rupa. Sekaligus menjadi stimulus bagi perupa untuk berkarya lebih baik.

"Perkembangan seni rupa di Tuban sangat dinamis, tapi berbanding terbalik dengan intensitas pameran yang digelar di Tuban. Hal ini tak terlepas dari infrastruktur pendukung yang sangat minim," tegas pria berjenggot lebat ini.

Dalam menyikapi persoalan ini, DKT bersinergi dengan berbagai pihak untuk membuka ruang alternatif yang memungkinkan perupa bisa mempresentasikan karyanya. Lebih dari itu, persoalan ini juga menjadi rekomendasi bagi pemerintah, betapa pentingnya keberadaan Public Galery.

Wadah tersebut sebagai tempat melindungi, mengembangakan, memanfaatkan, dan membina terhadap tercapainya nilai-nilai estetika perupa Tuban. Tentunya akan memberi warna dalam kehidupan sosial yang lebih arif, harmonis, dan tidak monoton di tengah-tengah perkembangan industrialisasi.

Sebelum membuka pameran, Wabup Noor Nahar Hussein, terkesan dan bergembira dengan terselenggaranya TAF. Memang ngumpul dengan seniman kadang seneng kadang senep.

"Dikritik orang seni itu ya hanya bisa mesam-mesem, tapi ya dalam hati rasanya rakaru-karuwan," terang politisi kelahiran Kecamatan Rengel.

Sebenarnya banyak sekali hal yang bisa dibangun melalui seni budaya. Ikon akan muncul dari seni. Sebagaimana saat ini Indonesia membangun karakter, sama halnya membangun seni dan budaya.

Wabup dua periode ini juga merespon rekomendasi DKT. Diantaranya Rest Area awalnya tak hanya ekonomi saja, tapi harus seni. Tiap malam minggu Pemkab fasilitasi tapi sekarang juga tidak jalan. Diingatkan pula, di era generasi milenial yang serba IT, seniman harus beradaptasi dan tumbuh berkembang di masyarakat.

DKT kalau minta sekretariat silahkan milih dulu, kemudian administrasi diurus. Ini yang kadang butuh waktu lama. Wabup tidak menolak permintaan DKT, tapi harus dicocokkan dengan aturan di Pemkab. Anggaran di Pemkab tak begitu besar, ada prioritas dan pentahapan.

Mengutip catatan kurator pameran seni rupa Tuban Gumegrah, Mayek Prayitno, menambahkan, selaras dengan gagasan Tuban Gumegrah, upaya untuk menyatukan semua instrumen dari ujung Timur sampai Barat, dari pegunungan sampai pesisir merupakan ide yang benar-benar spektakuler dengan mempresentasikan semua bentuk media seni rupa.

Mengundang berbagai elemen pelaku seni otodidak, dan akademisi. Intinya adalah Gumegrah tidak hanya dimaknai sebagai kebangkitan bersama, tapi sekaligus titik tolak dalam melihat Kota Tuban di masa depan melalui kesenian.

Pameran ini sebuah harapan dengan ekspektasi dan niat yang bersahaja. Bagaimana karya seni menjadi daya ungkap presentatif atas gagasan kota yang berintegrasi menuju industri dengan pembayangan masa depan.

"Ide-ide sangat mungkin bersifat fururistik," tambahnya.

Sebatas diketahui, pameran seni rupa yang dimulai tanggal 29 September sampai 4 Oktober 2018 ini menampilkan karya beragam dengan dominasi karya figirative. Ada juga dengan teknik palet, digital painting, performance art, patung, instalasi, abstrak ekspresionis, moi indie, kaligrafi, ada juga bergaya surrealistik.

Adapun perupa yang terlibat, meliputi Joko Sudibyo, Najib Amrullah, Polo Omponk, Rezzo Masduki, Taufik Ruman, Syaiful Amin, Muchlis Zahidy, Imadudin, Hotly Silahali, Robert Santari, Yanto, Nike Lestari, Soetiyono, Riezky, Nur Priyanto, Siswandi, Haryono, Rachmad Wijaya, Rizal Budianto, dan Sam.

Lainnya, Tohari, Yohanan, Didik Yuwono, Zaenudin, Yono Gepho, Gambuh R.Basedo, Sugeng Harianto, Tiar Kosonk, Chamid Shobirin, Devi Husnia Rahma, Waabin Ubaydillah, Widodo, Reynal, Abu Kenduruan, Aris Gabrik, Zainu, M. Efendi, Uzaer Rwaidah, Akbar Kusuma, dan Pemuda Harapan Kampoenk (PHK).(aim)

Dibaca : 957x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>