Sabtu, 23 Maret 2019
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Tradisi di Ladang Gas Jambaran-Tiung Biru

Kawit Tandur Diiringi Gending Waranggana

Editor: samian
Sabtu, 29 Desember 2018
12
Ahmad Sampurno
TANDUR : Kades Yuntik (berkerudung) diwiwitan bengkok menunggui warga tanam padi sambil menikmati racikan gamelan dan waranggana
SuaraBanyuurip.com
Ratusan warga yang didominasi ibu ibu antusias tanam bibit padi di bengkok Kades Mojodelik Yuntik Rahayu.

SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Bojonegoro - Meski di tengah ramainya pengerjaan proyek Unitisasi Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru (J-TB), dan produksi ladang minyak Banyuurip, Blok Cepu, namun tradisi peninggalan nenek moyang tetap dilestarikan warga sekitar.

Seperti dilakukan Kepala Desa (Kades) Mojodelik, Kecamatan Gayam, Bojonegoro, Jawa-Timur, Yuntik Rahayu. Orang nomor satu tingkat desa itu menggelar seni tradisional tabuhan gamelan sindir atau tayub dengan satu Waranggana (perempuan penari Tayub) saat mengawali kawit tandur (menanam bibit padi) di tanah bengkok yang dimilikinya, Sabtu (29/12/2018).

Sambil diiringi racikan gamelan dan lantunan gending dari Waranggana yang merdu, tak kurang dari 380 warga Mojodelik baik laki-laki maupun perempuan menyemut menanam Wineh (bibit padi) di lahan bengkok Kades dari desa ring 1 J-TB dan sumur minyak Banyuurip seluas sekira 7 hektar tersebut.

"Ini adalah tradisi turun temurun yang kami lakukan dalam setiap tahun atau awal tanam di bengkok. Sebagai tradisi lokal tinggalan nenek moyang yang perlu diuri-uri dan dipertahankan," kata Kades Yuntik Rahayu, kepada Suarabanyuurip.com disela-sela kegiatan.

Yuntik sapaan akrabnya menambahkan, tradisi ini dilakukan sejak dirinya masih kecil. Hanya saja, dulu Waranggananya tidak dandan di sawah atau bengkok seperti sekarang ini.

"Waranggana dandan hanya di waktu saya njabat Kades Mojodelik ini," ucapnya. 

Di tambahkan dulu juga banyak warga yang ikut ndaut (ambil wineh), dan tandur saat ini antusias warga lebih banyak lagi.

"Alhamdulillah sejak saya njabat lebih banyak lagi warga yang ikut, Mas," ujarnya. 

Di tempat yang sama, salah satu warga setempat, Panji (45) menuturkan, dari cerita nenek moyang bahwa pada zaman Kades Mojodelik pertama kali pernah menggunakan Gong yang dipinjam dari alam gaib.

"Setelah diberi sesaji, gong itu tiba-tiba muncul untuk dipinjamkan kepada masyarakat," ujarnya menirukan cerita orang tua dahulu.

Namun seiring berjalannya waktu dan sejak kempul (pemikul gong) hilang, sekarang sudah tidak dipinjami lagi.

"Itu menurut cerita orang tua dahulu, Pak," pungkasnya.(ams)

Dibaca : 3815x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>