Sabtu, 17 November 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Kayu Mirip Mbah Balok Kembali Ditemukan di Bengawan Solo

Editor: nugroho
Selasa, 30 Oktober 2018
Ahmad Sampurno
MIRIP MBAH BALOK : Kayu Jati yang diperkiralan berusia tua kembali ditemukan di Sungai Bengawan Solo

SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Bojonegoro - Warga Desa Betet, Kecamatan Kasiman, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, dihebohkan dengan penemuan kayu jati berukuran cukup besar dari dasar Sungai Bengawan Solo.

Kayu Jati memiliki ukuran panjang 14 meter (m) dengan diameter 40 centimeter (cm). Bentuknya mirip dengan Kayu Jati "Mbah Balok" yang juga ditemukan di Bengawan Solo tepatnya di Desa Kauman, Kecamatan Kota Bojonegoro, pada 1994.

Kemiripan terlihat dari bentuk di salah satu ujungnya yang menyerupai kepala naga. Hanya ukurannya lebih besar Mbah Balok yakni sepanjang 17 meter dengan diameter 45 centimeter.

Kayu Mbah Balok diperkirakan berusia 1600-1900. Saat ini telah dijadikan sebagai monument di Alun-alun Bojonegoro.

Sementara penemuan kayu mirip Mbah Balok di Desa Betet memunculkan kepercayaan lain dari masyarakat setempat. Sebab, lokasi penemuan kayu yang digunakan penambangan pasir itu terkenal angker.

"Iya, terkenal angker. Masyarakat akrab menyebutnya Mbah Jenggot," ujar Supriyono pemilik lokasi tambang, Selasa (30/10/2018) siang. 

Menurut pria yang menjabat Sekretaris Desa (Sekdes) Desa Betet itu, untuk menghindari adanya gangguan gaib dari penemuan kayu mirip Mbah Balok, pihaknya melakukan selamatan.

"Tapi pagi bancakan. Ya, supaya tidak terjadi apa-apa. Karena kita juga mengharapkan keselamatan," tuturnya saat ditemui di kantor desa setempat. 

Dua hari sebelum pengangkatan kayu mirip Mbah Balok dari Bengawan Solo, dirinya bermimpi memetik mangga.

"Saya mimpi metik satu mangga," ungkapnya.

Untuk mengavakuasi dari Bengawan Solo dikerahkan tenaga 30 orang. Dibantu dengan alat katrol, dua perahu dan truk untuk menarik kayu mirip Mbah Balok.

Sebenarnya keberadaan kayu mirip Mbah Balok itu sudah diketahui warga dua minggu lalu saar penambang mengambil pasir. Semingu terkhir warga berusaha mengambil dan baru Senin (29/10/2018) sore kemarin bisa diangkat ke daratan.

Hingga saat belum ada rencana untuk merawat kayu tersebut. Namun jika ada yang ingin membawa, pihak desa mempersilakan.

"Asal tidak merugikan kami. Maksudnya sesuai tenaga yang dikeluarkan warga yang membantu," harapnya.  

Sejak penambangan pasir Bengawan Solo miliknya beroperasi 2015 lalu, diakui Supriyono sudah banyak kayu yang ditemukan.

"Tidak besar, rata-rata panjangnya sekira 6 meter. Itupun langsung dijual. Tidak menutup kemungkinan masih ada kayu peninggalan jaman penjajahan dahulu," ungkapnya. 

Kepala Desa (kades) Betet, Kusnadi, membenarkan jika lokasi penambangan pasir itu terkenal angker. Zaman dahulu lokasi itu menjadi tempat bertransaksi dengan perahu. Wajar, jika banyak kayu peninggalan zaman kuno.

"Dari bentuk kayunya, itu seperti dibuat demikian supaya mudah ditali untuk kemudian ditarik," terangya. 

Dirinya telah berkoordinasi dengan kecamatan untuk meminta petunjuk dengan penemuan kayu mirip Mbah Balok tersebut.

"Nanti harus bagaimana perlakuannya," kata kades. 

Diakui jika kayu yang ditemukan tersebut bentuknya mirip seperti kayu Mbah Mbalok yang sekarang ini berada di Alun-alun Bojonegoro.

"Ini mirip, cuma lebih kecil," ujarnya. 

Dimungkinkan ada hubungan antara kayu yang ada di alun-alun dengan kayu yang ditemukan oleh warganya.

"Mungkin saja ada keterkaintannya," ucap kades. 

Di Desa Betet memiliki kepercayaan tersendiri dengan penemuan kayu tersebut. Apabila kondisi kayu membujur di dalam sungai boleh diambil. Tapi kalau melintang, dilarang untuk diambil.

Sedangkan kayu yang ditemukan di Sungai Bengawan Solo kemarin posisinya melintang dan agak miring.

"Untuk itu kami selamatan supaya tidak terjadi apa-apa," pungkasnya. (ams) 


 

Dibaca : 3687x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan