Rabu, 22 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Kebebasan Pers Kebebasan dari Amplop

Editor: teguh
Senin, 04 Mei 2015
dok suarabanyuurip.com
RIRIN Wedia : KEBEBASAN Pers bakal jauh panggang dari api, jika pelakunya terlibat budaya "wartawan amplop".

Oleh : Ririn Wedia

Jurnalis tak bisa berekspresi secara total jika terjebak dalam praktik "Amplop". Marwah dari kebebasan pers pun bakal bias oleh praktik yang harus dihindari tersebut.

HARI Kebebasan Pers sedunia yang diperingati setiap tanggal 3 Mei menjadi sebuah cermin bagi saya. Bergelut dengan berita selama 5 tahun bukanlah waktu yang singkat, untuk mendapatkan berbagai pengalaman.

Rasa bangga, marah, kecewa, senang, sedih, semua saya rasakan selama ini. Dari semua rasa, ingin saya berteriak "Saya Bebas...!” Bebas yang saya maksud adalah, bebas dari bayang-bayang "Amplop".

Mungkin, bagi sebagian kawan jurnalis kata-kata itu terdengar munafik. Betapa tidak, setiap ada kegiatan peliputan tidak sedikit narasumber berbagi melalui amplop tersebut. Walau sekadar untuk bantuan ongkos transportasi.

Saya melihat, sebagian ada yang memegang teguh kode etik jurnalis. Tapi  ada juga yang melupakan itu, dan menerimanya tanpa rasa berdosa atau bersalah (setidaknya ingat dengan ucapan janji saat pembaiatan sebagai anggota di salah satu organisasi jurnalis).

Awalnya, saya merasa tidak ada yang salah dengan amplop itu. Selama beberapa tahun, setiap amplop yang disodorkan selalu saya terima. Jumlahnya pun bermacam-macam, mulai Rp25.000 sampai Rp500.000. Lumayan, buat ceperan meskipun sekarang ini gaji di perusahaan telah memenuhi standar UMR.

Lama-lama saya faham. Oleh siapa dan dalam situasi bagaimana "Amplop" itu bisa didapatkan. Tanpa mengenal malu, langsung saja menerima "sogokan" itu.

Sampai suatu saat, gejolak jiwa itu muncul laksana pisau yang menghujam. Sebuah peristiwa besar di ladang Minyak dan Gas Bumi (Migas) tertulis jelas di halaman utama. Rentetan dampak tulisan itu semakin saya rasakan, sampai pada tawaran "Amplop" membayangi langkahku ke depan.

Terbesit di dalam hati untuk menerima “Amplop” itu, kira-kira lima lembar ratusan ribu rupiah yang menari-nari dibenakku. Tawaran itu masih kutolak dengan bimbang, hingga tidak terasa berita demi berita saya tulis tanpa ada beban.

Kondisi riil di masyarakat bisa kuungkapkan tanpa ada rekayasa atau tendensius sama sekali. Meski intimidasi dari pihak perusahaan saya terima. Cacian dan fitnah meluncur mulus dari salah satu oknum pejabat di perusahaan tersebut.

Tapi, ada satu rasa percaya diri dalam hati. Rasa menang, rasa yang membuat saya bebas dari belenggu karena  tanggung jawab saya sebagai seorang jurnalis.

Dari situlah saya sadar, kenapa amplop diharamkan. Amplop yang diberikan akan menjadi bumerang bagi diri sendiri. Kredibilitas sebagai jurnalis akan terjaga dari sebuah "harga". Marwah dari jurnalis pun saya rasakan, ketika tak terbelenggu oleh praktik “Amplop”.

Banyak arti dari Amplop itu sendiri, seperti ucapan terima kasih dari narasumber yang merasa senang akan tulisan saya. Dengan senang hati saya tolak pemberian itu, dan saya sampaikan jika informasi lebih berharga dari sebuah “Amplop”.

Tidak semua orang paham dengan perasaan saya. Tanpa mengucapkan janji atau sumpah pun, saya sudah menolak “Amplop” itu. Tanpa ucapan di depan khalayak umum, saya sudah berikrar untuk menolak “Amplop” itu.

Sebuah refleksi jiwa, tanpa beban, dan tanpa emosi pula bisa kutulis setiap peristiwa. Itulah saya, bebas sebebas-bebasnya. Tanggal 3 Mei selalu berarti buat saya, berjuang melawan kemunafikan diri dari tawaran sebuah "Amplop".

Inilah kebebasan dalam diri saya, bagaimana dengan kebebasanmu?

Selamat Hari Pers, dan Selamat menikmati Kebebasan Pers. (*)

 

Dibaca : 588x
FB
Ada 1 komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Rabu, 13 Mei 2015 13:59
dasar wartawan munafik, sok suci, pembela komprador
sauri
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan