Sabtu, 26 Mei 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Kelompok Tani Dukung Pembangunan Industri Manufaktur

Editor: nugroho
Rabu, 16 Mei 2018
Ist
BERI SOLUSI : Cabup Soehadi Moeljono akan bangun industri manufaktur untuk percepat kurangi kemiskinan dan pengangguran.

SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia

Bojonegoro – Program percepatan pembangunan industri jasa dan manufaktur untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan, serta menciptakan lapangan pekerjaan baru yang digagas pasangan calon bupati (Cabup) dan wakil bupati (Cawabup), Soehadi Moeljono dan Mitroatin, mendapat dukungan kelompok tani di Bojonegoro.

Lembaga yang mewadahi petani ini menilai, program yang digagas pasangan yang dikenal dengan sebutan “Mulyo – Atine” ini, dapat meningkatkan kesejahteraan petani, dan membuka lapangan pekerjaan baru bagi pemuda.

“Sangat setuju jika nanti ada industri manufaktur, harapannya Bupati terpilih nanti juga membantu pemasarannya,” kata Anggota Kelompok Tani Desa Mlideg, Kecamatan Kedungadem, Kiswanto, kepada wartawan, Rabu (16/5/2018).

Menurutnya, kurangnya minat para pemuda dalam bertani dikarenakan berbagai faktor. Salah satunya, pertanian dianggap tidak menguntungkan, dan diperparah dengan kemajuan tekhnologi yang menjadikan semua hal serba modern. Sementara sektor pertanian dianggap kuno karena masih bergelut dengan tanah dan dianggap kotor.

“Jaman sekarang, anak muda carinya yang instan dan gaji tiap bulan,” jelasnya.

Kelompok tani di tempatnya mulai menggalakkan re generasi petani dengan mengenalkan berbagai kegiatan pertanian kepada pemuda setempat.

“Sekarang sudah mulai ada yang tertarik, meski belum banyak," tuturnya.

Selama ini sebagian besar petani di wilayah Kecamatan Kedungadem menanam bawang merah. Beberapa tahun lalu, semua hasil pertanian sempat diolah menjadi produk makanan berupa “brambang goreng”.

“Hanya saja, setelah diolah masyarakat kesulitan memasarkan. Akhirnya, hasil pertanian tidak diolah lagi,” ungkapnya.

Dia menyarankan, pembangunan industri manufaktur dari pengolahan hasil pertanian harus disertai dengan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM). Selain bisa membuka peluang pekerjaan, juga menguntungkan para petani dengan meningkatkan nilai jual bawang merah tersebut.

“Ini akan mampu mempercepat mengurangi pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan petani,” pungkasnya.

Anggota kelompok tani lainnya, Jatmiko, mengaku, selama ini hasil pertanian di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras paling banyak adalah tanaman jagung.

“Jagung ini merupakan komoditi kedua setelah padi,” sambungnya dikonfirmasi terpisah.

Masyarakat pinggiran hutan ini lebih memilih menanam jagung karena jagung merupakan tanaman yang mudah ditanam serta perawatannya tidak memerlukan begitu banyak tenaga dan biaya.

“Namun petaninya masih dari kalangan seangkatan saya kelahiran 1965-an,” tandasnya.

Diungkapkan, banyak penyebab kurangnya minat generasi muda dalam bertani, diantaranya tidak ada keinginan untuk belajar di sektor pertanian sehingga tidak memiliki keterampilan dan pengetahuan tentang produksi tanaman.

"Anak muda sekarang itu malas belajar cara bercocok tanam,” imbuhnya.

Selama ini hasil produksi jagung belum diolah secara sempurna. Langsung dijual baik secara utuh dengan bonggol atau pipilan. Begitu juga dengan padi langsung dijual berupa gabah.

“Kalau ada pabrik pengolahannya, bagus sekali,” tegasnya.

Menurutnya, dengan adanya pabrik pengolahan jagung akan memunculkan peluang usaha dan lowongan pekerjaan bagi pemuda setempat. Baik proses pengolahan hingga pemasaran.

“Tenaga kerjanya juga harus disiapkan, dilatih dulu. Jadi tidak asal mendirikan pabriknya,” sarannya.

Dimintai tanggapannya, salah satu Cabup Bojonegoro, Soehadi Moeljono, menyatakan, percepatan pembangunan  industri manufaktur ini telah menjadi salah satu program prioritasnya kedepan untuk mempercepat mengurangi pengangguran dan kemiskinan. Industri tersebut akan dibangun dengan bersinergi bersama investor.

Oleh karena itu, lanjut dia, pihaknya akan mempermudah izin untuk investasi dan usaha bisnis dengan waktu satu jam selesai, dan dukungan pembangunan infrastuktur jalan di seluruh desa berbahan cor beton untuk memudakan akses masyarakat dan bisnis yang dijalankan.

“Pertanian Bojonegoro ini merupakan potensi menjanjikan. Sudah banyak investor yang ingin mendirikan pabrik pengolahan hasil pertanian di sini,” tegas Pak Mul, sapaan akrabnya.

Pihaknya juga mengoptimalkan sektor pertanian dengan melakukan percepatan pembangunan Waduk Gongseng, beserta jaringan sarana irigasi persawahan khususnya di wilayah selatan Bojonegoro, dan pemberian jaminan ketersediaan pupuk bagi petani.

“Dengan begitu sektor pertanian di wilayah selatan yang semala ini belum maksimal akan lebih hidup,” pungkas mantan Sekda yang sudah 32 tahun mengabdikan diri sebagai PNS di Pemkab Bojonegoro ini.(rien)

Dibaca : 275x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan
iklan