Jum'at, 22 September 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

KERING

Editor: teguh
Kamis, 25 September 2014
Suarabanyuurip.com/Edy Purnomo
KERING : Salah satu sudut lahan pertanian yang kering akibat kesulitan air di musim kemarau.

 

Oleh : Rakai Pamanahan

MUSIM kemarau dengan segala eksesnya sebenarnya tak membuat petani kaget. Jaman bersama beragam ceritanya telah mengajari mereka tentang rasa pasrah. Tentunya setelah pelbagai ritual upaya telah mereka lakukan.

Sebagian petani menilai rasa pasrah adalah bagian dari kodrat. Kodrat dari pilihan hidup menggeluti profesi paling purba di tanah air. Itu pun dilakukan dengan penuh totalitas. Tanpa mengeluh sekalipun matahari dengan teriknya, dan hujan dengan iringan banjirnya mendera sawah ladang mereka.

Ketika musim kemarau sebenarnya petani paham, dan tahu apa yang harus dilakukan. Mereka sangat mafhum akan amuk tahunan musim terik.

Dari membaca simbul–simbul alam petani tahu kalau sederet waduk, sumber air, telaga maupun embung yang dibangun pemerintah selalu mengering disaat kemarau. Mereka juga mengerti terhadap apa yang harus dilakukan, sekalipun kemarau meradang dengan durasi panjang.

Kini musim pengusir petani dari ladang telah tiba. Fenomena hadirnya El Nino pun telah mereka ketahui dari beragam informasi publik. Yang pasti gejala alam yang demikian tak membuat kaum kecil ini tak bergeming. Mereka tetap melakoni ritual sehari-hari sebagai pengolah lahan.

Di satu sisi komunitas yang mukimnya di wilayah pedesaan ini,  tak hirau akan iklim ekstrim. Mereka sudah lekat dengan alam karena situasi lingkungan yang mengarahkannya. Termasuk krisis air irigasi yang menjadi asupan gizi sawah ladang.

Akan tetapi ketika kebutuhan air bersih untuk kehidupan mereka terusik, bisa jadi disaat itulah mereka terusik. Dipahami oleh siapapun bahwa 60 persen raga kita terdiri dari unsur air. Tak bisa dielak ketika air untuk kebutuhan sehari-hari mengering, dan siapapun bakal panik menghadapi problema tersebut.

Pada kondisi itulah perputaran roda kehidupan menjadi tak normal. Sebagai mahluk sosial kita butuh uluran tangan. Kita pun perlu bersedekap untuk memanjatkan doa. Termasuk menunggu sentuhan kebijakan dari para pemegang kebijakan.

Pemerintah dalam lingkup terendah di desa juga panik. Terlebih pada daerah berkarakter kering dengan potensi air tak banyak. Warga akan menyambutnya dengan penuh kedukaan. Galibnya kemarau memang sekadar musim, dan jika boleh meminta, sebagian warga dari daerah tandus atau tadah hujan akan memilih hujan sebagai musim abadi.

Tak sedikit warga dari desa-desa kering harus melipat hewan ternak untuk memenuhi kebutuhan air. Mereka mengeluarkan ekstra budget untuk membeli air. Tak jarang harus mandi sekali sehari karena persediaan air yang dimiliki untuk minum hewan peliharaan.

Pemerintah sebenarnya telah membentuk institusi khusus untuk menanggulangi bencana. Bencana bagi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ditingkat pusat, maupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di tingkat daerah. BNPB dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Nomor: 8 tahun 2008. Regulasi ini selanjutnya menjadi konsideran dari Keputusan Presiden nomor: 3 tahun 2001.

Konstitusi tersebut menjadi dasar pemerintah daerah untuk membentuk BPBD. Lembaga ini menjadi gantungan terakhir dari warga masyarakat ketika bencana menimpa mereka. Dari lembaga ini pula diharapkan ada pergeseran mainset warga masyarakat, tentang bagaimana mengelola ancaman bencana. Paling tidak melalui lembaga baru ini pula warga bisa memiliki rasa aman, tentram, dan bahkan makin tak gamang ketika musim berganti. Tentunya dengan aneka dampak yang menyertainya.

Kita tak bisa menggantungkan semua problema musim kepada BNPB maupun BPBD. Filosofi bencana tak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, namun juga seluruh lapisan masyarakat dengan beragam stakeholder yang memiliki spesifikasi di bidang bencana.

Di mata petani, dan warga pedesaan lembaga pemerintah penangan bencana adalah sekadar lembaga. Seperti yang terjadi di desa-desa sepanjang bantaran Sungai Bengawan Solo, mereka tak pernah mau mengikuti program transmigrasi. Dievakuasi pun masih sulit ketika banjir makin menjadi-jadi, karena baginya banjir adalah berkah yang diberikan Tuhan secara rutin.

Sepertinya mereka sudah terbiasa sendiri menghadapi bencana. Tak sedikit pula yang meyakini jika bencana adalah bagian ritual alam yang harus dihadapi. Tak perlu dimanage, apalagi dibikin strategi menanganinya karena pada saatnya nanti akan mereda, dan hilang dengan sendirinya.

Mainset warga yang demikian sepertinya juga menjadi garapan tersendiri dari BNPB maupun BPBD. Kita tak bisa menyalahkan mereka, apalagi menertawakan keyakinan warga tersebut. Mereka butuh hal baru agar bisa berubah. Termasuk berubahnya keyakinan tentang peran dan fungsi lembaga pemerintah penangan bencana alam. (*)

 

Dibaca : 743x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan